Luhut: Bali Aman Jadi Destinasi Liburan Akhir Tahun

Luhut: Bali Aman Jadi Destinasi Liburan Akhir Tahun
Sejumlah seniman menampilkan tarian tradisi Kebo-keboan saat Hari Ulang Tahun Ikatan Keluarga Banyuangi (Ikawangi) Dewata di Lapangan Pegok Denpasar, Bali, Minggu 17 Januari 2016. Kegaiatan tersebut digelar sebagai bentuk silaturahmi antarwarga Banyuwangi di Pulau Dewata, sekaligus mempromosikan potensi pariwisata di daerah itu. ( Foto: Antara )
Thresa Sandra Desfika / YUD Jumat, 15 Desember 2017 | 15:54 WIB

Jakarta - Pemerintah menyatakan Bali tetap aman untuk jadi tempat berlibur pada akhir tahun ini, meski status Gunung Agung masih awas.

Aktivitas penerbangan di Bandara Ngurah Rai, Denpasar pun diperkirakan tak akan terganggu abu vulkanik Gunung Agung, karena arah angin tidak mengarah ke bandara tersebut.

Kondisi itu disampaikan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan yang didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan usai menggelar rapat koordinasi tentang perkembangan terkini situasi Gunung Agung dengan kementerian dan lembaga terkait di Jakarta, Jumat (15/12).

“Dari hasil paparan vulcanologist tadi, statusnya Gunung Agung tetap awas, tapi hanya pada radius 10 km paling jauh itu, sisanya seluruh Bali normal,” ungkap Luhut melalui siaran pers, Jumat (15/12).

Perhitungan arah angin, tambah Luhut, juga menuju ke timur sehingga abu letusan Gunung Agung diperkirakan tidak akan mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai. “Kalaupun ada perubahan minor ke arah timur menurut Pak Jonan (Menteri ESDM), ada NOTAM (notice to airmen) yang bisa diberitahukan,” tambahnya.

Untuk memastikan keamanan kondisi Gunung Agung apabila terjadi letusan, Menko membeberkan, Kementerian ESDM telah membuat simulasi bahaya berdasarkan potensi aliran awan panas, aliran lahar, maupun penyebaran abu vulkanik dengan berbagai skenario.

“ESDM atau vulcanologist sudah membuat simulasi 20 juta lahar yang ada kalau dia meledak 2,5 juta apa dampaknya, kalau meledak 5 juta lahar apa dampaknya, atau sampai 20 juta lahar itu apa dampaknya,” sebut Purnawirawan Jenderal itu.

Simulasi itu, tambah Luhut, menunjukkan bahwa daerah-daerah pariwisata yang lokasinya berada di luar radius 10 km dari puncak Gunung Agung dalam kondisi normal dan aman.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menuturkan, pihaknya telah memperhitungkan kondisi cuaca terutama arah angin dan hujan terhadap sebaran abu yang berpotensi dapat mengganggu penerbangan.

“Diperkirakan secara umum pada Bulan Januari di Indonesia, bahkan juga di Pulau Bali angin bertiup dari barat ke arah timur. Demikian juga pada lapisan 500 milibar atau sekitar 1.000 milibar atau di sini sekitar 1.500 meter,” ujar Dwikorita.

“Nah di situ arah angin juga masih bertiup ke arah timur, sehingga seandainya terjadi erupsi dan mengeluarkan abu, abu itu akan bergerak ke arah timur tidak mengganggu Bandara Ngurah Rai,” tambah mantan Rektor Universitas Gajah Mada tersebut.

Kondisi ini, menurutnya, dibantu oleh curah hujan menengah yang bisa mencapai 300 mm. “Artinya hujan ini terjadinya masih berada mulai dari atas ketinggian gunung sehingga abu dapat mencuci udara," pungkas Dwikorita.



Sumber: BeritaSatu.com