Ilustrasi pembangunan proyek properti dalam rangka pertumbuhan ekonomi.

Jakarta - PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mengincar 10-14 superblok hingga akhir tahun 2013 ini atau bertambah dari saat ini tujuh kawasan. Emiten pengembang properti ini menyatakan sejak go public, perseroan akan terus membangun superblok sebagai strategi mencari laba.

"Pas go public kami punya strategi untuk mengembangkan superblok, bangunan dengan elemen yang punya sinergi dengan kantor, departemen store, dan hotel. Misalnya, Pullman Hotel harga per meternya sama dengan yang di CBD. Ini lifestyle sendiri sehingga dapat added value dan ini strategi ke depan. Untuk yang luar kota akan copy paste," ujar Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Indra Wijaya usai RUPST dan RUPSLB di Jakarta, Rabu (8/5).

Perseroan, dikatakannya optimistis dalam melihat pertumbuhan properti Indonesia ke depannya. Namun, di tahun ini ia menilai pertumbuhannya tak akan secepat tahun sebelumnya.

Kendati demikian, bila melihat deadlock perumahan mencapai 15 juta ditambah 700 ribu tiap tahunnya, properti Indonesia akan terus menjanjikan.

"Penetrasi baru 3% dari GDP padahal di Taiwan 56%. Kalau ada kemudahan dari Pemerintah dalam mengambil KPA dan KPR maka properti akan makin bagus," tambahnya.

Indra menjelaskan, pada tahun ini perseroan akan meluncurkan beberapa proyek barunya yang mayoritas adalah superblok. Misalnya, proyek di Simprug, Pancoran, Batam, Balikpapan, dan Karawang.

"Untuk proyek di Kelapa Gading masih tahap nego, di Buaran untuk superblok seluas 10 hektar juga lagi nego mudah-mudahan tahun ini. Medan dan superblok di Cibubur mudah-mudahan tahun ini juga sekalian yang pengembangan Green Bay Pluit," kata Indra.

Pihaknya juga mengaku tengah melirik untuk membangun superblok di Surabaya, Solo, dan Yogyakarta.

"Tim kami lagi mempelajari pertumbuhan didaerah sana," ucapnya menambahkan untuk membangun satu superblok dibutuhkan investasi hingga Rp 5 triliun.

Direktur Keuangan Agung Podomoro Cesar De La Cruz mengatakan, perseroan akan mengalokasikan Rp 4,5 triliun sebagai belanja modal (capex) tahun ini. Di mana, pada kuartal I, sudah dipakai Rp 1 triliun. Selain dana internal, perseroan akan menerbitkan obligasi berkelanjutan untuk akuisisi lahan dan pengembangan usaha.

"Kita jajaki obligasi berkelanjutan yang akan terbitkan tahun ini dan tahun depan. Sebelum akhir bulan ini kami akan public expose. Underwriternya Indo Securities, Mandiri Sekuritas, HSBC, dan CIMB Securities," imbuhnya.

Tambahnya, hingga akhir tahun perseroan menargetkan bisa meraih kenaikan pendapatan 10-12% dan laba bersih 15%. Di mana, pada kuartal I sudah dibukukan pendapatan Rp 1,1 triliun.

Sementara terkait penggunaan laba 2012, Cesar mengatakan, Rp 15 miliar digunakan sebagai cadangan perseroan, Rp 123 miliar untuk dividen, dan sisanya Rp 673 miliar saldo laba perusahaan.

"Dividen sekitar Rp 6 per saham dan pembayarannya akan dilakukan pada 23 Juli," ucap ia.

Suara Pembaruan

Penulis: O-2/FER

Sumber:Suara Pembaruan