Sebuah kawasan pembangunan properti di daerah Cakung, Jakarta Timur.

Jakarta - Jenis investasi paling diminati oleh masyarakat kaya di Indonesia adalah investasi di bidang properti dibandingkan dengan jenis investasi lainnya karena dianggap memiliki tingkat pengembalian paling menguntungkan.

"Investasi properti bisa melonjak hebat dalam waktu singkat," kata kata Associate Director Ray White Indonesia Erwin Karya di Jakarta, Selasa.

Erwin mencontohkan, investasi di bidang perumahan di lokasi yang tepat ada yang sampai tingkat pengembaliannya hingga 100 persen hanya dalam jangka waktu enam bulan.

Menurut dia, banyak warga mampu di Tanah Air yang memilih untuk berinvestasi di properti dibanding bidang lainnya seperti di bidang logam mulia seperti batangan emas murni.

"Properti dapat kita sewakan, tetapi mampukah kita menyewakan emas? Bisa saja, tetapi ada potensi bahwa emas itu dapat saja hilang," katanya.

Ia juga mengemukakan, bagi orang yang memiliki dana cukup banyak biasanya akan menginvestasikan di rumah tapak, tetapi bagi yang dananya terbatas biasanya di bangunan tinggi seperti apartemen.

Apalagi, menurut Erwin, harga properti seperti di kawasan sentrabisnis di Jakarta masih dinilai lebih rendah dibanding kawasan di negara tetangga lainnya seperti Filipina, Thailand, dan Singapura.

"Di Singapura harga di CBD ('central business district'/kawasan sentrabisnis) mereka bisa sampai 300-400 juta rupiah per meter persegi, sedangkan di CBD Indonesia bisa hanya sekitar sepersepuluhnya," katanya.

Indonesia Property Watch (IPW) sebelumnya memperkirakan pasar properti pada tahun ini mengalami pelambatan setelah dalam beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan harga dalam sektor perumahan.

"Pasar properti memasuki 2013 telah mengalami perlambatan, khusus di segmen menengah atas," kata Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda.

Menurut Ali, para pelaku pasar, khususnya pengembang dan investor, relatif telah mulai merasakan kejenuhan pasar di dalam segmen tersebut.

Oleh karena itu, ujar dia, saat ini pasar mulai bergeser ke pasar menengah dengan tangkapan jumlah pasar pengguna akhir (end user) yang lebih banyak.

Selain itu, peningkatan pasar properti yang tinggi memang berdampak terhadap kenaikan tanah yang disediakan untuk pasar menengah sampai bawah.

"Dalam hal ini, Pemerintah seharusnya segera menyiapkan mekanisme bank tanah untuk menyiapkan mekanisme bank tanah untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah)," katanya.

Penulis: /YUD

Sumber:Antara