Ilustrasi pembatik.

Jakarta - Batik Indonesia saat ini terancam oleh banyaknya batik dari luar negeri, khususnya negeri Tiongkok. Berdasarkan data Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta, belanja batik Indonesia dari China sebesar Rp 43 miliar selama tiga bulan terakhir ini.

Ketua Umum Hippi DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, hal ini jelas menjadi ancaman besar bagi UKM dan industri di Indonesia, karenanya, Pemerintah harus segera mengambil tindakan tegas untuk mengatasinya.

”Hal ini sangat mengerikan kalau batik dari luar tidak segera di-protect. Pemerintah harus jeli melihat hal ini dan mewaspadainya. Kalau tidak, tiga bulan ke depan industri batik Tanah Air terancam, khususnya  UKM-UKM,” tegasnya pada acara gerakan program ”Aku Bangga Memakai Produk Indonesia” di Dharmawangsa Square, Jakarta, Selasa (14/5).

Ditambahkan Sarman, keadaan tersebut bisa berbahaya, karena harga batik dari China jauh di bawah harga batik lokal, sementara karakteristik masyarakat Indonesia --sebagai negara berkembang-- lebih menyukai barang murah meski kualitasnya rendah.

Batik Tiongkok mirip batik Indonesia, karena memang ditiru dan diproduksi secara massal. Persaingan dengan batik lokal pun sangat terasa. Contohnya saja di ITC Cempaka Mas, batik-batik yang berasal dari negeri Tiongkok tersebut dijual dari harga termurah Rp 25 ribu per pakaian.

"Ini sudah lampu merah. Batik China sangat mirip dengan batik kita, bahkan mereknya banyak mencaplok merek Indonesia tapi harganya jauh lebih murah. Masyarakat kita lebih memilih yang lebih murah dan warnanya menarik meski kualitas batik kita jauh lebih baik karena dikerjakan secara manual,” tuturnya.

Untuk itu, pemerintah harus segera mewaspadai keadaan tersebut dengan segala kewenangan yang dimilikinya lewat kebijakan. Misalnya, melakukan program dengan membuat suatu aturan baru bila batik sudah bisa diproduksi sendiri, maka impor batik dilarang.

”Atau bisa juga dengan cara lain yang mengikuti aturan WTO misalnya produk batik dari luar, pajaknya jauh lebih besar, bahkan kalau perlu mencapai 500 persen, sehingga orang akan berpikir lagi bila membeli batik impor dari luar,” ungkapnya.

Hal ini berbeda halnya dengan masyarakat seperti Jepang dan Malaysia yang bangga dan memakai produk negaranya, termasuk dalam urusan makan, seperti di restoran lokal.

Menurutnya, Jakarta adalah kota jasa dan perdagangan. Batik Indonesia yang berasal dari UKM di Jawa lebih mendominasi. Hal ini menjadi kompetisi batik Tanah Air dengan batik impor, termasuk juga seperti kerajinan UKM lainnya yakni sepatu, tas, mukena, aksesori dan lainnya.

Suara Pembaruan

Penulis: H-15/NAD

Sumber:Suara Pembaruan