Merlion di Singapura, lambang negara tersebut.

Bagian I

Singapura, siapa yang tidak mengenal negara ini? Termasyhur dengan kebersihannya, ketertibannya, dan keamanannya. Apalagi yang menarik dari negara ini? Tempat-tempat wisatanya tentu saja. Selain bisa berfoto-foto ria di depan patung singa Merlion, kita bisa melancong ke sebuah tempat wisata yang canggih dan mendunia. Tepatnya di Universal Studios Singapore.

Negara yang satu ini benar-benar membuat banyak orang berdecak kagum. Pepohonan rindang berjajar indah di sepanjang tepi jalan. Sehari-hari, jalan raya di kota ini hampir tidak tampak kemacetan. Infrastruktur begitu rapi. Udara pun bersih tanpa polusi. Sebagian besar kendaraan menggunakan bahan bakar gas yang tidak akan mengumbar asap hitam. Tahun kendaraan bila sudah 10 tahun harus berganti. Mungkin karena negara ini kecil, sehingga mudah diatur.

Ya, Singapura adalah negara kecil. Bahkan lebih mirip sebagai kota. Namun kota modern yang serbaada. Negara ini bukan produsen yang memproduksi berbagai barang. Tetapi mereka adalah distributor yang andal sehingga mampu menyajikan semua kebutuhan manusia seluruh dunia.

Oya, jangan mencari kaki lima di kota ini, ya. Tentu saja tidak akan ditemukan. Apalagi gelandangan yang berkeliaran. Sudah jelas tidak ada. Kita bisa membeli segala keperluan makan atau minum di tempatnya, yaitu di toko-toko atau supermarket yang sudah dibangun. Di sepanjang jalan, siapa pun bisa menemukan tempat air untuk minum. Kita bisa minum gratis di situ atau menampungnya di botol.

Warga negara ini beragam, tapi kebanyakan berasal dari China, Inggris, Melayu, dan India. Sehingga tidak heran bila di setiap lokasi terdapat peraturan dalam empat bahasa, yaitu bahasa Inggris, Cina, Melayu, dan India. Rumah penduduk Singapura kebanyakan berupa apartemen. Namun, para tamu dan pendatang bisa tinggal di hotel yang cukup banyak dibangun di negara ini. Hotel di negara ini terbilang mahal. Wajar, karena kota ini memiliki public service yang jempolan. Untuk yang murah, sehari bisa mencapai Sing$100.

Biaya hidup di negara ini memang terkesan mahal sekali. Butuh kocek dalam jumlah banyak untuk piknik ke sini, apalagi tinggal di negara ini. Mungkin karena tidak ada pedagang kaki lima dan warung-warung makan yang murah meriah. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan perut, kita terpaksa harus makan di tempat-tempat yang disediakan, tidak boleh sembarangan. Akibatnya harga makanan pun jadi mahal. Namun begitu banyak orang-orang kita yang kuliah di sini. Tentu saja fasilitasnya bagus, jadi tidak masalah harus mengeluarkan biaya besar.

Masalah ketertiban, negara ini memang jempolan. Bila makan di restoran, pembelilah yang harus membersihkan meja makannya sendiri. Membuang segala sampah ke tempat sampah yang tersedia. Jadi petugas kebersihan tinggal membersihkan meja saja. Oke, kan?

Bicara mengenai sampah. Mengapa negara ini begitu bersih di lokasi manapun? Ternyata di berbagai lokasi, termasuk di jalan selalu dipasang alat perekam. Bagi warga yang membuang sampah akan kena denda yang cukup besar. Jadi, daripada keluar uang, lebih baik membuang sampah pada tempatnya. Rupanya sistem denda ini cukup membuat warga Singapura menjadi pribadi yang tertib.

Tak hanya tertib, warga negara ini juga memiliki empati yang tinggi. Di manapun berada, di bandara, halte, stasiun, di dalam kendaraan umum, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, dan sebagainya, orang-orang akan memberi prioritas dan mempersilakan duduk bagi para manula, orang cacat atau ibu yang membawa anak kecil. Sungguh perhatian yang luar biasa.

Keliling negara
Mau keliling Indonesia? Wah, bakal makan waktu berbulan-bulan. Tapi keliling negara Singapura hanya butuh waktu tiga hari.

Hanya butuh waktu satu setengah jam melalui udara dari Jakarta untuk tiba di Singapura. Begitu tiba di bandara Changi, pengunjung bisa langsung melihat kebersihan dan ketertiban negara itu. Bandara ini begitu bersih. Tak secuil sampah pun yang tampak. Tak ada secolek debu pun yang menempel pada setiap lokasi. Pemeriksaan setiap individu yang masuk ke negara ini dilakukan dengan super teliti. Paspor benar-benar dicek. Topi, kacamata, jaket, sepatu, isi kantong, semua harus dilepas. Isi tas juga dideteksi dengan hati-hati. Bagi orang baik-baik pemeriksaan ini tidak menjadi masalah, bukan?

Keluar dari bandara, kita bisa menumpang bus menuju tempat penginapan. Perlu diketahui, baik di bus maupun kereta api, penumpang dilarang makan dan minum di dalam angkutan umum. Bila tidak menaati peraturan, dendalah akibatnya. Mungkin supir bisa saja tidak memperhatikan kita. Tapi setiap sudut bus dan kereta api pasti dipasangi alat perekam, sehingga aparat negara bisa mengenali siapa yang bandel dan patut kena hukuman. Jadi, jangan berani-berani melanggar peraturan di negeri ini.

Di Singapura, cara membayar pada saat naik kendaraan umum terbilang modern. Kita harus memiliki kartu khusus sebagai penumpang. Kartu ini memiliki alat elektrik. Di setiap bus, tepat di depan pintu masuk dan pintu keluar terdapat sebuah mesin pendeteksi kartu. Nah, bila masuk ke dalam bus, kita harus menempelkan kartu tersebut ke arah mesin hingga berbunyi “bip”. Penempelan kartu di mesin itu disebut TAP. Begitu juga ketika turun, kita harus melakukan tap lagi. Bila tidak melakukan tap, baik naik maupun turun, akan terkena denda. Jadi, jangan sampai lupa.

 

Halte busnya pun sangat bersih dan rapi. Tidak ada pedagang asongan. Tidak ada coret-coretan, tidak ada sampah, bahkan debu pun mungkin tak ada. Yang ada hanyal tempat duduk yang apik untuk menunggu kedatangan bus tanpa asap knalpot. Juga pepohonan rindang.

Begitu juga bila naik kereta. Di Singapura, kereta api disebut MRT (Mass Rapid Transit). Kendaraan ini beroperasi di bawah tanah, sehingga bisa melaju dengan kecepatan super cepat karena tidak ada lawan. Rata-rata penduduk Singapura lebih sering naik MRT guna mempersingkat jarak dan waktu. Untuk bisa naik MRT, dari jalan raya kita harus naik eskalator atau tangga jalan turun menuju stasiun. Eskalator di stasiun bergerak sangat cepat. Bahkan dua kali lebih cepat dari eskalator di Indonesia. Meski begitu ada saja orang-orang yang ingin berjalan lebih cepat lagi karena diburu pekerjaan. Jadi dibuatlah peraturan tidak tertulis. Bagi yang bepergian bisa naik eskalator di jalur sebelah kiri. Sedangkan di jalur sebelah kanan untuk orang-orang yang lebih berpacu dengan waktu.

Tak hanya di eskalator rupanya. Kecepatan orang berjalan juga bisa dilihat di jalanan biasa. Rata-rata penduduk Singapura termasuk manusia yang selalu bergerak dan berjalan sangat cepat. Jarang kita temui orang-orang berjalan santai, kecuali di pusat perbelanjaan.

Kembali ke MRT. Saat menuju stasiun kita harus tap kartu ke mesin. Lalu berjalan cepat ke arah kereta yang akan kita naiki dan antre dengan tertib. Ketika pintu kereta terbuka, penumpang di dalam kereta harus keluar lebih dahulu, baru penumpang yang akan naik dapat giliran masuk ke dalam kereta. Sangat-sangat tertib. Tapi ingat, kita harus cepat masuk ke dalam kereta, sebab dalam hitungan detik, pintu MRT akan tertutup kembali setelah terdengar bunyi “ bip bip bip bip” dan lampu alarm menyala. Jangan coba-coba menerobos kalau tidak mau terjepit pintu. Fatal akibatnya. Lebih baik memilih naik MRT selanjutnya. Percayalah, tidak akan lama menunggu. Hanya hitungan menit, kereta berikutnya akan datang kembali. Jangan khawatir, cepat dan banyak sekali armadanya. Berbagai lokasi akan dilalui oleh MRT. Jadi tidak perlu cemas berada di Singapore. Semua tempat bisa kita jajaki melalui kereta bawah tanah ini.

Jadi, mau keliling Singapore, naik bus umum saja atau kereta MRT. Hemat dan asyik.

Nah, bagaimana dengan tempat wisata di negara ini? Tunggu lanjutannya pada bagian kedua di hari Rabu (29/5).

Penulis: Nagiga/NAD

Sumber:Rumah Oren