Studi: Jumlah Anak Pengaruhi Kebahagiaan Orangtua

Ilustrasi ibu dan bayi baru lahir. (Visualphotos)

Oleh: | Kamis, 30 Oktober 2014 | 18:20 WIB

Jerman - Menjadi orangtua adalah sebuah peristiwa yang mengubah hidup seseorang. Tak peduli berapa banyak buku yang telah dibaca tentang cara menjadi orangtua, tak ada yang benar-benar bisa menyiapkan seseorang untuk menjalani peran tersebut. Perjalanan menjadi orangtua kerap dipenuhi beragam emosi, dari yang membahagiakan, menyenangkan, bingung, sedih, dan sebagainya. Menurut penelitian yang dilakukan di Jerman, emosi orangtua akan naik-turun bak rollercoaster setiap kehadiran anak dalam keluarga.

"Temuan kami mengungkap ada perubahan sementara pada tingkat kebahagiaan orangtua saat kehadiran anak pertama dan kedua. Perubahan yang positif. Faktanya, kebahagiaan orangtua meningkat sebelum kehadiran anak pertama dan kedua ini menunjukkan adanya isu yang lebih luas pada kehadiran anak, seperti kian eratnya hubungan orangtua serta merancang masa depan bersama," ungkap kepala penelitian ini, Mikko Myrskyla, dikutip dari Medical Daily, Kamis (30/10).

Menurut penelitian ini, kebahagiaan orangtua sangat tergantung pada keseimbangan faktor-faktor sosioekonomi yang bentuknya cukup beragam. Temuan ini juga mengatakan, salah satu hal yang memengaruhi kebahagiaan orangtua adalah jumlah anak yang mereka miliki. Dikatakan, tingkat kebahagiaan orangtua berada di titik tertinggi setahun sebelum dan setahun sesudah kehadiran anak pertamanya. Setelah itu, level kebahagiaannya akan kembali ke titik yang sama saat belum punya anak. Tingkat kebahagiaan ini kemudian naik lagi saat tahu akan hadir anak kedua, kemudian turun lagi setahun setelah kehadiran anak kedua. Namun, hal yang sama tak terjadi menjelang kehadiran anak ketiga.

"Tidak terjadi 'rollercoaster' kebahagiaan yang serupa pada anak ketiga. Namun, ini bukan berarti orangtua tidak mencintai anak ketiga seperti anak pertama dan kedua. Melainkan, ini menunjukkan, orangtua sudah punya pengalaman dalam menanti kehadiran seorang anak. Pengalaman kehadiran anak sudah bukan lagi hal baru bagi orangtua, kemenarikan menanti seorang anak juga sudah tidak seperti sebelumnya. Atau, bisa jadi pula, makin banyaknya anggota keluarga meningkatkan tekanan bagi orangtua. Ada pula kemungkinan, kehamilan ketiga ini tidak direncanakan, hal ini bisa menjadi tekanan atau stres tambahan bagi orangtua," kata Myrskyla.

Riset ini melibatkan pasangan di rentang usia 23-34 tahun, dibandingkan dengan pasangan yang sudah memiliki anak pertama yang berusia 18 tahun. Pada grup orangtua yang sudah memiliki anak berusia dewasa umumnya memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik dan menunjukkan kenaikan tingkat kebahagiaan sebelum dan sesudah kehadiran anak pertama. Sementara grup orangtua muda menunjukkan terdapat peningkatan kebahagiaan saat kehadiran anaknya, namun, setelah satu-dua tahun kehadiran anak pertama, level kebahagiaannya kembali ke titik normal atau bahkan menurun.

Menariknya, bagi remaja yang memiliki anak di luar perencanaan, tingkat kebahagiaannya terus menurun, bahkan di bawah titik kebahagiaannya sebelum kehadiran anak pertamanya.

Faktanya, di kalangan orangtua yang berusia matang dan berpendidikan cukup baik, kehadiran anak akan meningkatkan kebahagiaan. Namun, bagi kalangan muda, dengan tingkat pendidikan di bawah rata-rata, kehadiran anak bisa membuat level kebahagiaan menurun drastis. Hal ini bisa jadi penyebab banyak orang yang memilih menunda memiliki anak," ungkap salah satu peneliti, Rachel Margolis, yang juga menjabat sebagai asisten profesor di Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Western.

Selain masalah usia saat menjadi orangtua, gender juga punya pengaruh terhadap kebahagiaan orangtua. Peningkatan level kebahagiaan seorang perempuan akan meningkat drastis ketika mengetahui dirinya sedang mengandung dan setelah anaknya lahir, dibandingkan dengan tingkat kebahagiaan pasangannya. Bisa jadi ini ada hubungannya dengan hormon yang mengatur keterikatan ibu-anak, seperti hormon oksitosin, endorfin, dan adrenalin, yang berpengaruh dalam meregulasi proses persalinan. Oksitosin kerap disebut juga dengan hormon cinta, sebab membawa rasa untuk mengasihi, dan terproduksi saat sedang bercinta, melahirkan, dan ketika seorang ibu melihat bayinya untuk pertama kali. Namun, setelah setahun kelahiran anaknya, seorang ibu akan mengalami penurunan level kebahagiaan yang lebih tajam ketimbang pasangannya, lalu seiring waktu, level kebahagiaan keduanya berangsur setara.


Sumber: Medical Daily
ARTIKEL TERKAIT