Tanaman Indigo, Pewarna Alam Batik yang Berkualitas

Tanaman Indigo, Pewarna Alam Batik yang Berkualitas
Penulis Buku Batik Kudus the Heritage sekaligus Pembina Galeri Batik Kudus, Miranti Serad Ginanjar, Deputi Fasilitasi HKI & Regulasi Badan Ekonomi Kreatif, Ari Juliano Gema, Komunitas Sobat Budaya, Gerakan Sejuta Data Budaya, Vande, Pimpinan Galeri Batik Jawa, Nita Kenzo, dan Perajin Batik Kudus, Yuli Astuti dalam Bedah Buku: Batik Kudus The Heritage di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta, 26 Oktober 2015. ( Foto: Beritasatu.com/Kharina Triananda )
Kharina Triananda / HS Senin, 26 Oktober 2015 | 21:23 WIB

Penulis: Kharina Triananda

Jakarta - Tanaman indigo atau dikenal juga tanaman nila merupakan pewarna alam yang sudah dipakai sejak jaman dulu untuk pewarnaan batik.

Menurut pendiri Galeri Batik Jawa, Nita Kenzo, pewarnaan dari tanaman indigo biasa diaplikasikan pada batik yang akan dipakai anggota kerajaan.

"Bahan baku tanaman inidigo sudah hampir punah, akhirnya saat kita mulai pada 2006 pun mengambil tanaman indigo dari yang liar baru kemudian dibudidayakan kembali di Yogyakarta," kata Nita pada bedah buku Batik Kudus The Heritage di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta, Senin (26/10).

Tanaman indigo akan menghasilkan warna biru yang cantik pada batik. Tidak hanya untuk bahan tekstil, tanaman indigo juga bisa menjadi pewarna alam untuk keramik.

"Dulu VOC tidak hanya merampas rempah-rempah kita, tapi pewarna dalam bentuk pasta dari tanaman indigo juga dibawa mereka ke Eropa," tandasnya.

Saat ini Galeri Batik Jawa milik Nita memproduksi souvenir dan pakaian batik dengan pewarna alam dari tanaman indigo. Untuk warna lain selain biru, Galeri Batik Jawa menggunakan bahan baku lain, seperti kayu.

"Pewarnaan menggunakan tanaman indigo paling kuat dan tidak mudah pudar," tandasnya.

CLOSE