Kisah Investor Miliarder dalam Becoming Warren Buffett

Salah satu adegan "Becoming Warren Buffett". (Istimewa)

Oleh: Indrie Pratiwi S / AB | Sabtu, 12 Agustus 2017 | 08:57 WIB

HBO bersama Kunhardt Film memproduksi sebuah film dokumenter berjudul Becoming Warren Buffett. Dokumenter yang disutradarai Peter Kunhardt ini sebagian besar diisi narasi dari Warren Buffett sendiri, serta beberapa wawancara dengan orang-orang terdekatnya, termasuk saudari-saudarinya, tiga anaknya, vice chairman Berkshire Hathaway Charlie Munger, serta Bill dan Melinda Gates.

Melalui akses khusus ke kehidupan pribadinya sehari-hari, film ini menceritakan kisah seorang anak laki-laki asal Nebraksa yang ambisius dan terobsesi menjadi salah satu orang terkaya dan paling dihormati di dunia. Dokumenter menyeluruh tentang Buffett yang kini menjadi filantrop adalah potret jujur tentang seorang pria yang membantu membentuk cara orang Amerika memandang kapitalisme. Sebagian besar isi film merupakan kata-kata Buffett sendiri.

Film ini menampilkan jejak Warren Buffett sejak pertama kali menjadi investor hingga pakar bisnis. Dokumentasi ini menguak kehidupannya sejak menjadi ayah dari tiga anak dan pebisnis paling kaya di dunia, hingga memecahkan skandal perdagangan Salomon Brothers, yang mengancam reputasinya, termasuk saat kehilangan istri tercinta dan cinta pertamanya, Susie Thompson Buffett.

Anak perempuan Warren bernama Susan mengaku tidak mengetahui bahwa ayahnya kaya raya sampai ketika umurnya mencapai 20 tahunan. Bahkan dirinya tidak mengetahuinya dari orangtuanya. Ia baru mengetahui bahwa ayahnya benar-benar kaya raya ketika membaca sebuah artikel di Wall Street Journal.

Susan yang juga pendiri badan amal anak-anak bernama Sherwood Foundation mengambil bagian dalam pembuatan film dokumenter yang ditayangkan HBO tersebut. Susan memberikan banyak informasil tentang orangtuanya, yakni ketika dia tumbuh di rumah keluarganya di Omaha, Nebraska dan apa yang mendorong ayahnya memberikan banyak kekayaan untuk beramal.

Dengan kekayaan bersih lebih dari US$ 60 miliar, investor legendaris ini masih menetap di rumah sederhana di Omaha, dan setiap pagi menyetir mobil ke kantor, Berkshire Hathaway, perusahaan publik keempat terbesar di dunia. Namun yang lebih mengejutkan dari gaya hidup dan kepribadiannya yang sederhana adalah integritas moral dan pemikiran unik Buffett.

"Saya menyukai angka," kata Buffet di depan sejumlah pelajar SMA Omaha.

Pada usia tujuh tahun, Buffett membaca buku perpustakaan Seribu Cara Menghasilkan US$ 1.000 dan mendapatkan uang tambahan dengan menjual Coca-Cola, permen karet, dan surat kabar ketika remaja. 

Warren Buffet memiliki kehidupan yang sederhana. Jika miliarder lainnya memilih menghiasi rumahnya dengan karya seni mahal karya Pablo Picasso, Warren memilih koran untuk menghiasi dinding rumahnya yang sederhana. Bukan sembarang koran, tetapi potongan surat kabar dari krisis keuangan yang terjadi pada 1907 "Panic of 1907" dan "Black Tuesday". Menurutnya, hal tersebut untuk mengingatkan bahwa segala sesuatu bisa terjadi di dunia ini.

Prinsip dan semangat Buffett merupakan kunci kesuksesannya. "Dia benar-benar senang melakukan apa yang dia lakukan," kata mantan editor Fortune, Carol Loomis.

Setelah kematian Susie, Buffett membesarkan anak-anak mereka serta menjadikannya lebih menghargai hak-hak sipil dan filantropi. Dia bangkit dari masa berkabung pada 2006 untuk mengumumkan bahwa sebagian besar kekayaannya akan dihibahkan untuk Bill and Melinda Gates Foundation, suatu tindakan filantropi yang tak terduga.

Meski pencapaiannya membuktikan kecerdasannya, Buffett berpendapat bahwa dia "memenangkan undian berhadiah" dengan lahir sebagai siapa dirinya, kapan dan di mana dia berada saat itu.

"Selama lebih dari 60 tahun, saya dapat menjadikan tarian sebagai pekerjaan, melakukan apa yang saya sukai. Saya merasa sangat beruntung," katanya di hadapan pelajar SMA Omaha.

Gaya hidup Buffett yang sederhana membuktikan bahwa dia dapat memberikan keuntungan bagi dunia. Ia pun berjanji untuk memberikan hampir semua kekayaannya untuk kegiatan amal. Bahkan, dia telah menyumbangkan miliaran dolar AS untuk Bill and Melinda Gates Foundation.

Buffet mengatakan dia hanya menghabiskan sekitar 1 persen dari kekayaan yang dimilikinya. Sedangkan 99 persen kekayaannya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan orang lain, karena dia tidak membutuhkannya.

"Konyol bagi saya jika saya tidak membagi kebutuhan tersebut untuk orang-orang yang membutuhkannya. Investasi harus rasional. Jika kita tidak memahami, jangan melakukannya," kata Buffett.

Saksikan tayangan perdana Becoming Warren Buffett pada Minggu 13 Agustus 2017 pukul 21.00 WIB di channel HBO Signature, First Media channel 308 (HD) dan BIGTV channel 185 (SD), serta FMX (fmx.firstmediax.com).




Sumber: Majalah View
ARTIKEL TERKAIT