Posesif Angkat Dilema Cinta Remaja

Para pemain, produser, sutradara dan penulis film Posesif (Ist)

Oleh: Dina Fitri Anisa / FMB | Rabu, 13 September 2017 | 10:52 WIB

Jakarta - Cinta itu berkorban tanpa menjadi korban. Dewasa ini, alih-alih mengatasnamakan cinta, banyak remaja yang kehilangan akal dan menjadi korban kekerasan. Hal ini pun menarik perhatian rumah produksi Palari Films membuat karya perdananya yang berjudul Posesif. Film yang dibintangi oleh Adipati Dolken ini disutradarai oleh Edwin.

Mengangkat kisah percintaan remaja sebagai karya perdana memang bukan tanpa pertimbangan. Justru saat melakukan riset, dua orang yang berperan penting dalam Palari Film, Meiske dan Muhammad Zaidy (Eddy), menemukan fenomena unik dalam menjalin hubungan percintaan remaja masa kini. Yaitu tindakan posesif yang begitu tinggi dalam sebuah hubungan percintaan.

“Ingin cari angle baru, yang dikemas dengan fun, dan menghibur. Kita tahu, jarang film yang mengangkat persoalan posesif terhadap cinta pada remaja. Dalam film coming of age ini, ia memotret kenaifan dan kebebasan remaja, yang menjadi sorotan utamanya,” ungkap Eddy saat jumpa pers Posesif di kawasan Jakarta Pusat.

Sedangkan sang sutradara Edwin, nampaknya ia baru pertama menjejakkan kakinya di permasalahan romansa remaja dengan durasi panjang. Diketahui, sebelumnya Edwin adalah sutradara beberapa film pendek, yang namanya sudah terbang di Internasional. Seperti, Babi Buta Yang Ingin Terbang yang memenangkan FIPRESCI Award 2009, Postcards From The Zoo yang terseleksi berkompetisi di Berlinale 2012, dan juga Kara Anak Sebatang Pohon, film pendek Indonesia pertama yang ditampilkan di Director’s Fortnight, Festival Film Cannes 2005.

Ia mengatakan ingin terus melihat dan menggali permasalahan yang dekat dengan dirinya saat ini. salah satunya adalah dilema percintaan remaja yang akhirnya menimbulkan banyak korban. Dengan film ini, ia ingin meluruskan apa sebenarnya yang dikatakan dengan cinta dan posesif.

Pada pemutaran pertama Posesif, wartawan diajak menyaksikan sepenggal adegan yang sangat menarik. Terlihat beberapa adegan yang memang seirama dengan permasalahan pokok. Kekerasan, kehilangan privasi, dan ketidakbebasan seseorang dalam lingkar cinta Posesif.

“Fenomena ini adalah salah satu dari banyak sisi kehidupan remaja yang bisa dieksplorasi dan dikemas dalam bentuk film. Kita belajar menjadi korban, lama-lama kita belajar menjadi pelaku juga. Jadi berputar semacam siklus. Inilah yang kami coba bawa ke pasar remaja Indonesia lewat film Posesif yang bergenre romance suspense,” ungkapnya.

Ia ingin memotret kisah asmara remaja lewat dua tokoh Lala (Putri Marino) dan Yudish (Adipati Dolken) yang salah mengartikan cinta pertama. Ada yang punya obsesi untuk memperbaiki pasangannya sehingga selalu memaafkan sebagai tanda kesetiaan, ada juga yang terobsesi untuk melindungi pasangannya sehingga lupa cara kekerasan datang dengan sendirinya.

Cerita ini ditulis oleh Gina S. Noer sendiri, yang namanya sudah dikenal oleh penonton Indonesia. Sebagai penulis skenario, hasil karyanya telah disaksikan jutaan penonton lewat film-film box office seperti Habibie Ainun (2012) dan Rudy Habibie (2016). Gina menghabiskan waktunya selama setahun lamanya, untuk meramu naskah Posesif.

Sedangkan soundtrack, mencakup nama-nama baru dan lawas. "Dan", sebuah lagu klasik dari band Sheila on 7, turut meramaikan film ini. Selain itu ada juga nama Dipha Barus, seorang DJ yang membuat pengaruh yang cukup besar terhadap industri musik kontemporer Indonesia. Sejumlah band independen berkualitas turut dilibatkan, termasuk Banda Neira, Gardika Gigih, Matter Halo, Pagi Tadi, dan Afternoon Talk.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT