46 Patung Refleksikan Budaya Bangsa

Pengunjung sedang memperhatikan Pengembala Negri karya Wilman Syahnur, di pameran patung Skala, Galeri Nasiona, Jakarta Pusat, Rabu (13/9 (Ist/Heri Luthfianto)

Oleh: Dina Fitri Anisa / FMB | Kamis, 14 September 2017 | 10:15 WIB

Jakarta - Sebanyak 46 karya patung modern dan kontemporer dipamerkan dalam pameran tiga tahunan bertajuk "Skala" di Galeri Nasional Indonesia pada 7-26 September 2017. Dengan proses kurasi yang ketat, seluruh seniman yang terlibat merupakan pematung yang konsistensi kerja, sikap, serta konsep berkarya yang merefleksikan budaya bangsa.

Tema kurasi Skala yang digagas oleh kurator Rizki A. Zaelani dan Asikin Hasan, bergerak dari persoalan re-skilling ( penguatan kembali aspek keterampilan) dalam tradisi seni patung yang jadi pokok gagasan pada tema “Versi” (Trienal Seni Patung Indonesia #2). Selanjutnya, re-skilling juga tak terpisahkan dari tema “Ekspansi” (Trienal Seni Patung Indonesia #1) yang menggagas ekspresi dalam tradisi seni patung Indonesia untuk dijadikan gagasan kuratorial pada penyelenggaraan trienal yang pertama tahun 2011.

“Tema yang diprakarsai untuk pameran tahun ini didasarkan pada masalah penguatan aspek keterampilan dalam tradisi patung yang diawali pada pameran sebelumnya. Sebelum mesin 3D printer booming, para seniman ini biasa membuat patung mereka dengan cara konvensional. Namun, seiring perkembangan teknologi, para seniman ini sekarang memiliki pilihan lain untuk membuat patung mereka," kata Rizki.

Di samping karena bertumpu pada kedua landasan kuratorial perhelatan sebelumnya, tema Skala ini juga tak terbatas tentang persoalan cara seseorang mengukur dan membandingkan jarak bentuk secara fisikal, melainkan soal mengartikulasikan makna dari pokok-pokok masalah secara mental serta konseptual.

“Pokok-pokok masalah saat kini yang diperbandingkan dengan atau melalui karya-karya seni patung adalah kenangan maupun imajinasi tentang budaya yang kita hidupi. Kebudayaan bukan hanya soal kumpulan objek, barang, atau benda-benda melainkan juga tentang aneka rangkaian kejadian dan pemahaman yang terus berubah berkelanjutan,” ungkap Rizki.

Mengenal serta menyelami praktek kebudayaan adalah rangkaian proses pemaknaan, dan lebih dari sekedar memikir serta membandingkannya sebagai satuan objek-objek yang bersifat statis. Seni patung tentu juga bagian dari produk kebudayaan yang sejatinya mampu mengartikulasikan bentuk budaya bersifat hidup. Tradisi seni patung yang terbiasa dalam rangkaian persoalan memiliki kanon bagi cara penghayatan nilai secara mendalam sekaligus juga jadi ajakan bagi pengalaman yang bersifat konkrit.

“Ketika sebuah patung dipamerkan, sebenarnya seseorang tidak hanya menyaksikan apa yang ditunjukkannya, tetapi juga menemukan bagaimana yang dimaksud ditampilkan. Lebih jauh, seseorang bahkan diundang agar mampu menjangkau pengalaman dalam titik-titik peralihan waktu,” tutur Rizki.

Perhatian
Pematung senior Ichwan Noor memamerkan karyanya yang terakhir, yang disebut "Dewa Perang". Patung raksasa yang meniru Dewa Perang Tiongkok, dikenal sebagai Guan Yu cukup menarik perhatian. Menggabungkan blok aluminium dan mesin, Ichwan mengatakan unsur-unsur tersebut mewakili sebuah negara ekonomi, yang mendominasi dunia.

"Saya terinspirasi oleh fenomena di mana kita tidak dapat dipisahkan dari produk Tiongkok. Kita tidak dapat menyangkal bahwa sebagian besar produk yang kita buat dibuat di Tiongkok, seperti kamera yang kita gunakan, pakaian yang kita kenakan dan nasi, kompor yang kita miliki di rumah. Jadi, saya terinspirasi oleh bagaimana Tiongkok bisa mendominasi hampir semua kehidupan kita. Blok mesin ini juga mewakili sisi industrinya," seperti yang dilansir Jakarta Globe.

Tak hanya itu, ada sebuah karya yang juga cukup menjadi perhatian di tengah puluhan karya yang dipamerkan. Yaitu karya Wilman Syahnur dengan karya yang berjudul "Pengembala Negri". Setelah viral dengan karya foto mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang sedang menaiki becak, kini karyanya terlihat menyerupai sosok presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dengan beberapa domba yang berwana putih bersih.

Presiden dan domba-dombanya berdiri di atas peta kepulauan Indonesia yang berbahan dasar kayu. Wilma seakan ingin menggambarkan bahwa sosok Joko Widodo adalah pengembala yang mampu menggiring domba menjadi satu dari seluruh penjuru negeri.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT