Fukuoka Film Festival 2017

Restorasi dan Semangat Preservasi Film

Simposium "Restorasi Film dan Preservasi" dalam rangka Focus on Asia Fukuoka International Film Festival 2017 di United Cinemas Canal City. (Dewi Ria Utari)

Oleh: Dewi Ria Utari / AB | Sabtu, 7 Oktober 2017 | 20:56 WIB

Mengembalikan sejarah sering kali terdengar mustahil. Namun dalam perfilman, upaya itu coba dilakukan sejumlah pihak dengan merestorasi film-film klasik. Tema restorasi ini menjadi salah satu pembicaraan yang mengemuka dalam "Fukuoka International Film Festival" yang diselenggarakan Focus on Asia Fukuoka International Film Festival Committee dengan The Japan Foundation Asia Center pada 15-24 September lalu.

Berlangsung di Canal City Hakata, di Fukuoka, Jepang, diskusi bertema restorasi ini mengambil titik tolak dari upaya pertama perfilman Thailand merestorasi film Santi Vina. Film 35 mm berwarna pertama ini diproduksi negara tersebut pada 1954.

Hadir dalam diskusi tersebut, pembicara dari Thailand dan Indonesia. Dari Thailand tampil Sanchai Chotirosseranee (dari Thai Film Archive), dan dari Indonesia, Lisabona Rahman (film preservation consultant). Simposium ini berlangsung setelah pemutaran film Santi Vina yang berlangsung pada 21 September.

Dalam simposium tersebut, Sanchai menceritakan proses penyelamatan film Santi Vina yang pernah meraih dua Golden Harvest Award untuk kategori "Best Cinematography" dan "Best Art Direction" saat film itu mengikuti edisi pertama Film Festival in Southeast Asia di Tokyo pada Mei 1954. Film Santi Vina juga meraih penghargaan khusus dari Association of Motion Picture Producers of America untuk kategori "The Feature Picture which will Best Disseminate Asian Culture and Increase Understanding of Asia by the West”.

Meski meraih banyak penghargaan, materi asli Santi Vina menghilang selama bertahun-tahun. Namun pada 2014, negatif asli dari film itu ditemukan di British Film Institute dan cetakan film itu juga ditemukan di China Film Archive dan di Gosfilmofond di Rusia.

Restorasi format 4K kemudian dikerjakan dari hasil gambar dari kamera awal dan negatif suara. Sementara negatif warna yang asli telah melapuk dan semuanya berwarna kekuningan. Print yang ditemukan di China Film Archive kemudian digunakan sebagai referensi dalam proses merestorasi.

Pengalaman restorasi Santi Vina ini ditambahkan dengan pengalaman restorasi film di Indonesia yang disampaikan Lisabona. Ia mengambil contoh keberhasilan Indonesia merestorasi film Lewat Djam Malam dan Tiga Dara.

“Restorasi film di Indonesia berhasil dilakukan karena kolaborasi berbagai pihak, yang mana hal ini merupakan efek besar dari perhatian publik Indonesia terhadap film-film lama yang akan direstorasi,” ujar Lisabona.

Kalangan perfilman Indonesia melakukan strategi yang melibatkan publik untuk memberi perhatian terhadap sejumlah isu restorasi film.

Lisa menjelaskan material film-film lama di Indonesia umumnya berasal dari Sinematik Indonesia yang didirikan Misbach Yusa Biran pada 1975. Sinematik Indonesia merupakan sebuah institusi independen mengarsipkan film-film Indonesia.

“Koleksinya tidak banyak yang berupa negatif, tetapi ia mendapatkan banyak kopi film dari Perfini,” ujar Lisabona.

Sejauh ini sudah ada tiga film lama yang direstorasi di Indonesia. Selain Lewat Djam Malam dan Tiga Dara, juga ada film Darah dan Doa yang telah direstorasi pada 2013. Melihat animo masyarakat Indonesia untuk melihat kembali film-film lama, telah disiapkan sejumlah judul yang akan direstorasi. Namun, Lisabona menyarankan fokus utama para pemerhati film hendaknya diarahkan pada perawatan film.

“Restorasi itu mahal harganya. Masih banyak hal-hal yang lebih penting untuk dilakukan. Lebih baik jika kita melakukan preservasi ketimbang restorasi,” ujarnya.

Focus on Asia Fukuoka International Film Festival merupakan festival film yang diluncurkan pada 1991 yang bertujuan untuk melakukan pertukaran budaya dengan negara-negara Asia lainnya. Penyelenggara festival ini melakukan perjalanan untuk melakukan riset dan memilih film-film yang akan diseleksi untuk ditampilkan di Fukuoka. Sejak 2015, festival film ini didukung sepenuhnya oleh The Japan Foundation Asia Center.

Tahun ini, terpilih 63 film dari 22 negara dan wilayah. Dari Indonesia, tampil film Ben & Jody yang merupakan sekuel dari film Filosofi Kopi. Saat pemutaran film ini pada 24 September, studio 5 United Cinemas Canal City dipadati sekitar 70 persen penonton. Sayangnya jumlah penonton ini tak cukup untuk mengantarkan film ini meraih Audience Award yang tahun ini didapatkan film Bad Genius dari Thailand.




Sumber:
ARTIKEL TERKAIT