Romo Sindu: Menulis Itu Perjalanan Menempuh Jalan Sunyi

Romo Sindu: Menulis Itu Perjalanan Menempuh Jalan Sunyi

Romo Sindu (kanan) bersama Thengsoe Tjahjono. ()

Oleh: L Gora Kunjana / GOR | Senin, 13 November 2017 | 13:13 WIB

Semarang - Kesediaan menjadi seorang jurnalis semestinya adalah kesediaan untuk memperluas wawasan. Karena kesediaan memperluas wawasan tersebut, seorang jurnalis bisa menulis apa saja seperti politik, ekonomi, kebudayaan, filsafat, pendidikan. Menjadi seorang penulis juga merupakan perjalanan menempuh jalan sunyi, yang membutuhkan daya juang yang tinggi dengan disiplin ketat.

Demikian dikemukakan wartawan senior yang juga budayawan GP Sindunata SJ saat menerima Deo Gratias Award (DGA) di Griya Paseban, Semarang, Minggu (12/11).

Romo Sindu demikian sapaan akrab imam Jesuit ini, menerima penghargaan DGA berkat konsistensinya di bidang dunia kepenulisan. Deo Gratias adalah komunitas Katolik penggiat literasi yang anggotanya berasal dari seluruh Indonesia bahkan dari berbagai belahan dunia.

Ketika memberi orasi dalam malam penganugerahan bertema Mewartakan Kasih bagi Sesama, Romo Sindu, antara lain mengatakan, kesediaan menjadi seorang jurnalis semestinya adalah kesediaan untuk memperluas wawasan. Karena kesediaan memperluas wawasan tersebut, dia sendiri bisa menulis apa saja seperti politik, ekonomi, kebudayaan, filsafat, pendidikanbahkan dia terkenal sebagai pengamat sepak bola.

“Saya mau mengatakan, betapa luas horizon atau wawasan kita kalau menjadi penulis,” ujar penulis buku klasis Anak Bajang Menggiring Angin ini.

Namun dia mengingatkan bahwa menjadi seorang penulis adalah perjalanan menempuh jalan sunyi. Untuk menjadi seorang penulis, jelasnya, dibutuhkan daya juang yang tinggi dengan disiplin ketat. Berbeda dengan menjadi pembicara yang lebih bebas. Berbicara satu jam saja bisa mendapatkan honor yang lebih besar dan menjadi terkenal, apalagi kalau disiarkan televisi.

Seperti dijelaskan oleh Ketua Sekretariat Nasional Antonius A. Marhendro, DGA diberikan kepada tokoh yang konsisten dalam dunia kepenulisan dengan karya-karya yang mencerahkan masyarakat.

“Ada dua kriteria utama penerima Deo Gratias Award, yakni dia seorang Katolik dan konsisten dalam dunia kepenulisan dengan berbagai karya yang mencerahkan,” ujar Antonius.

Selain pemberian DGA tersebut, pada kesempatan yang sama diberikan juga penghargaan kepada pemenang festival Film Pendek Pentigraf berjudul Ciuman Terakhir dan Layung. Dua buah buku berjudul Sepotong Burger yang Terbuang dan Pada Detik Terakhir.

Sampai saat ini, Deo Gratias Award telah diberikan kepada tiga orang, yakni JFX Hoeri (penulis sastra Jawa), Romo Franz Magnis Suseno SJ (dosen dan penulis) dan Romo GP Sindunata SJ (wartawan dan penulis).




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT