Koleksi Wastra RMD Bidik Kalangan Milenial

Koleksi Wastra RMD Bidik Kalangan Milenial
Perancang busana, Raden Mas Dicka. ( Foto: Beritasatu Photo/Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FER Sabtu, 10 Februari 2018 | 23:21 WIB

Jakarta - Sempat dipandang sebelah mata, wastra atau kain tradsional khas Indonesia kini kembali menjadi perhatian banyak orang, tak terkecuali kaum milenial. Dengan perkembangan fesyen saat ini, wastra dari berbagai daerah pun satu persatu unjuk gigi ke hadapan publik. Hal tersebut merupakan salah satu kepedulian para desainer Indonesia, termasuk Raden Mas Dicka (23).

"Saya memiliki misi untuk mengenalkan wastra Nusantara, seperti batik, tenun, dan songket. Mungkin kalangan milenial sudah mengenal batik. Namun, untuk tenun dan songket mungkin mereka belum tahu lebih dalam. Jadi saya ingin mengimplementasikan songket dan tenun untuk anak muda," terangnya.

Mengusung brand RMD, Raden Mas Dicka berusah mengubah pandangan bahwa kain tenun dan songket hanya untuk mereka yang berusia tua. Salah satunya, dengan mengkombinasi kain tenun ataupun songket dengan bahan lain. Selain itu, model pakaian yang diproduksi pun terlihat kekinian namun tetap elegan.

Motif buatannya pun terkonsep dengan unik. Dirinya menggabungkan kain tenun Betawi bermotif ikon Jakarta, dan dipadukan dengan batik ataupun tenun dari daerah lain, seperti Bali dan NTT. Tak lupa, beberapa asesoris kekinian juga dibuat seperti, handphone case, laptop sleeve, dan card holder.

RMD sudah membuat kurang lebih 40 koleksi khusus pakaian pria, yang terdiri jas berkulitas premium. Selain itu, terdapat kemeja lengan panjang dan lengan pendek, dengan kisaran harga mulai dari Rp 600.000 hingga belasan juta rupah, tergantung kualitas bahan dan kerumitan motif.

"Pasar saya memang eksekutif muda. Namun, saya pun juga ingin produk ini bisa diterima oleh kalangan yang masih kuliah ataupun kelas menengah ke bawah. Oleh karenanya, saya pun tetap memberikan harga yang miring namun dengan kualitas yang baik pula," tambah lulusan Hogeschool Van Arnhem en Njimegen HAN, Belanda ini.



Sumber: Suara Pembaruan