Terminal Hijau sampai Bukit Teletubies, Jadi Destinasi Wisata Arsitektur Banyuwangi

Terminal Hijau sampai Bukit Teletubies, Jadi Destinasi Wisata Arsitektur Banyuwangi
Pendopo Kabupaten Banyuwangi yang digarap arsitek Adi Purnomo, telah di-review oleh majalah internasional asal Belanda. Pendopo yang juga menjadi destinasi wisata ini, dikonsep hijau dengan bunker sehingga banyak yang menyebutnya sebagai 'Bukit Teletubbies'. ( Foto: Beritasatu Photo )
Feriawan Hidayat / FER Jumat, 7 Desember 2018 | 11:04 WIB

Banyuwangi - Konsep wisata arsitektur mulai berkembang di Kabupaten Banyuwangi. Berbagai lembaga, peminat arsitektur, hingga kampus mendatangi kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu, untuk melihat penerapan konsep arsitektur pada sejumlah bangunan dan lansekap.

"Ikhtiar kita bersama membangun Banyuwangi bersama arsitek ternyata membuahkan hasil di sisi lain. Selain mengoptimalkan fungsi bangunan maupun lansekap untuk kepentingan pelayanan publik, ternyata juga mampu menarik minat orang untuk datang," ujar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, saat ditemui, Jumat (7/12).

http://img.beritasatu.com/cache/beritasatu/620x350-2/1544153465.jpeg

Terminal Bandara Banyuwangi mengadopsi penutup kepala khas Suku Osing

Anas mengatakan, kalangan mahasiswa jurusan arsitektur telah ke Banyuwangi, antara lain Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, ITS, UI, ITB, Universitas Brawijaya (Unibraw), hingga Universitas Atmajaya. Rombongan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dari sejumlah provinsi pun telah mendatangi Banyuwangi. Sejumlah pemerintah kabupaten dan kota dari berbagai provinsi juga datang untuk studi penerapan pembangunan yang mengadopsi arsitektur khas lokal.

"Saya juga dapat info ada lembaga pegiat arsitektur di Jakarta yang membuka tur arsitektur awal 2019 di Banyuwangi. Mereka membawa para peminat arsitektur dari berbagai daerah," ujar Anas.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah arsitek yang karyanya sudah lintas negara memang dilibatkan membangun Banyuwangi, mulai Andra Matin, Budi Pradono, Adi Purnomo, hingga Yori Antar. Mereka mengembangkan ruang terbuka hijau, terminal bandara, fasilitas pendidikan, stadion, pasar tradisional, pendopo, hingga lansekap destinasi wisata.

"Kami berterima kasih kepada para arsitek, karena mereka punya dedikasi tulus mengembangkan daerah lewat arsitektur," ujarnya.

Banyuwangi juga mewajibkan bangunan baru berskala besar untuk memasukkan unsur budaya lokal dalam arsitekturnya, seperti hotel hingga gedung perkantoran.

"Ini upaya menitipkan kebudayaan kami agar lestari. Maka di Banyuwangi kita bisa melihat hotel berbintang memasukkan batik bermotif Gajah Oling dalam arsitekturnya, dan sebagainya," papar Anas.

Arsitektur rumah tradisional Suku Osing yang merupakan masyarakat asli Banyuwangi.

Arsitektur rumah tradisional Suku Osing

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Mujiono, menambahkan, berkat kolaborasi arsitek dan publik Banyuwangi, Bupati Banyuwangi baru saja diganjar penghargaan tertinggi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Sejumlah bangunan yang kerap dikunjungi untuk wisata arsitektur antara lain Terminal Bandara Banyuwangi yang berkonsep hijau dan mengadopsi penutup kepala khas Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) yang digarap Andra Matin. Itu merupakan terminal bandara berkonsep hijau pertama di Indonesia.

Selain itu, imbuh Mujiono, ada pendopo yang digarap Adi Purnomo, dan telah di-review oleh majalah internasional asal Belanda. Pendopo yang juga menjadi destinasi wisata itu dikonsep hijau dengan bunker, sehingga banyak yang menyebutnya sebagai 'Bukit Teletubbies'.

Ada pula Taman Blambangan yang digarap Adi Purnomo sebagai ruang publik tempat masyarakat bercengkerama. Yori Antar juga merancang shelter-shelter menuju kawasan Gunung Ijen. Kemudian, Stadion Diponegoro dengan dengan siluet penari Gandrung dikerjakan Budi Pradono.

"Dan masih banyak lagi bangunan lain berarsitektur khas budaya lokal, mulai gedung olahraga, sentra kuliner, pasar tradisional, destinasi, hingga sejumlah ruang terbuka hijau," jelas Mujiono.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE