BMKG: Siklon Flamboyan Timbulkan Gelombang Empat Meter

BMKG: Siklon Flamboyan Timbulkan Gelombang Empat Meter
Ilustrasi siklon. ( Foto: Wikipedia )
/ YUD Minggu, 29 April 2018 | 14:19 WIB

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat siklon tropis Flamboyan yang lahir di wilayah Samudera Hindia Barat Daya Sumatera sekitar 1.345 km Barat Daya Pulau Enggano berdampak peningkatan tinggi gelombang laut hingga empat meter.

"Siklon tropis Flamboyan berdampak pada peningkatan tinggi gelombang 1,25-2,5 meter di Perairan Bengkulu hingga Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, dan perairan Enggano.

Bahkan, gelombang laut dengan tinggi 2,5-4.0 meter di wilayah Perairan Selatan Jawa, Samudera Hindia Barat Lampung hingga Selatan Jawa," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati melalui keterangan tertulis, Minggu (29/4).

Siklon tropis Flamboyan timbul di wilayah Samudera Hindia Barat Daya Sumatera Sekitar 1.345 km Barat Daya Pulau Enggano atau 1.410 km barat daya Bengkulu pada Sabtu (28/4) pukul 19.00 WIB, dengan kecepatan angin maksimum 65 km/jam (35 knot).

Siklon bergerak ke arah barat- barat daya dengan kecepatan sembilan km/jam (lima knot) menjauhi wilayah Indonesia. Untuk 24 jam kedepan siklon tropis flamboyan masih mempunyai kecenderungan meningkat intensitas hingga mencapai kecepatan angin maksimum 85 km/jam (45 knot).

"Hari ini siklon tropis Flamboyan sudah meninggalkan wilayah tanggung jawab TCWC (Tropical Cyclone Warning Centre) Jakarta dan memasuki wilayah RSMC ( Regional Specialized Meteorological Centre)/ Tropical Cetre La Reunion," kata Dwikorita Karnawati.

Disamping adanya siklon tropis Flamboyan, saat ini telah terjadi adanya aliran massa udara basah (MJO/ Madden Julian Oscillation) yang memberikan pengaruh dalam peningkatan suplai uap air yang berperan pada pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.

Saat ini sebagian wilayah Indonesa masih berada dalam masa transisi (peralihan dari musim hujan ke musim kemarau), meskipun beberapa wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau.

Kondisi masa transisi biasanya ditandai dengan potensi pertumbuhan awan-awan konvektif lokal yang mengakibatkan terjadinya hujan lebat, angin kencang dan puting beliung, seperti kejadian angin kencang dan puting beliung yang terjadi di Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta pada 24 April lalu yang memporakporandakan rumah warga.

Dalam sepekan terakhir terjadi curah hujan ekstrem di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Kalimatan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Meskipun beberapa wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau, perlu diwaspadai potensi hujan badai dalam dua hari kedepan yang masih dapat terjadi di wilayah Sumatera bagian tengah dan selatan, pesisir timur Sumatera, Banten, Jawa Barat bagian utara.

Hujan lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Sulawasi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku Papua Barat dan Papua.



Sumber: ANTARA
CLOSE