Amfibi Raksasa dari Tiongkok Ini Terancam Punah

Amfibi Raksasa dari Tiongkok Ini Terancam Punah
Seorang wanita mengagumi salamander raksasa Tiongkok selama festival Konservasi Internasional China di Zhangjiajie, provinsi Hunan China tengah, pada 10 Desember 2005. ( Foto: AFP )
Nurlis E Meuko / NEF Selasa, 22 Mei 2018 | 16:17 WIB

Salamander raksasa -amfibi terbesar di dunia- dari negeri Tiongkok, kini terancam punah. Hewan ini menjadi sasaran perburuan illegal untuk dijadikan santapan mewah.

"Eksploitasi berlebihan untuk konsumsi manusia telah memiliki efek malapetaka pada jumlah salamander di alam liar selama rentang waktu yang sangat singkat," kata Samuel Turvey, seorang peneliti di Zoological Society of London.

Secara umum, salamander adalah nama ubagi sekitar 550 spesies amfibi. Mirip kadal, bertubuh ramping, hidung pendek, dan ekor yang panjang.

Sedangkan salamander raksasa (andrias davidianus) adalah salamander terbesar di dunia yang panjangnya dapat mencapai hingga 165 cm dan merupakan spesies asli dari Tiongkok. Salamander ini memiliki kepala besar, mata kecil dan kulit yang gelap dan berkerut-kerut. Spesies ini hidup di aliran air dingin di pegunungan dan suka hidup di gua.

Nah, salamander raksasa inilah yang terancam punah. Dikatakan, jika jika tindakan konservasi terkoordinasi tidak segera diberlakukan, maka masa amfibi terbesar di dunia berada dalam bahaya serius.

Survei pada 2013 dan 2016 di lokasi sungai di mana salamander yang terancam punah - seukuran buaya kecil dan berat sekitar 140 pon (64 kilogram) - diketahui masih ada.

"Kami tidak dapat mengkonfirmasi kelangsungan hidup populasi salamander raksasa liar di setiap lokasi survei, dan mempertimbangkan spesies itu akan habis atau secara fungsional punah di daerah yang disurvei,” kata laporan dalam jurnal Current Biology.

Di beberapa tempat di mana salamander terlihat, para peneliti tidak dapat memastikan apakah mereka liar atau diternak.

"Survei lapangan menunjukkan bahwa spesies tersebut telah mengalami bencana penurunan yang drastis akibat eksploitasi berlebihan," kata laporan itu.

Para peneliti juga melaporkan bahwa salamander yang pernah dianggap sebagai spesies tunggal sebenarnya ada lima spesies berbeda - semua mempercepat menuju kepunahan, dan beberapa diantaranya sudah punah.

China memiliki program untuk membiakkan dan melepaskan salamander raksasa kembali ke alam liar. Namun, upaya ini tidak disarankan sebab tidak memperhitungkan perbedaan genetik salamander.

Melepaskan hibrida dapat berarti mereka tidak beradaptasi dengan baik untuk lingkungan individual mereka, dan tidak mungkin bertahan hidup.

"Strategi konservasi untuk salamander raksasa sangat mendesak," kata Jing Che dari Institut Zoologi Kunming, Akademi Ilmu Pengetahuan China



Sumber: AFP
CLOSE