Nenek Moyang Kadal dari Gunung Dolomites

Nenek Moyang Kadal dari Gunung Dolomites
Megachirella ( Foto: michaelwachtler.com )
Nurlis E Meuko / NEF Kamis, 31 Mei 2018 | 03:40 WIB

Para ilmuwan telah melacak keberadaan kadal tertua di dunia. Pernyataan yang disampaikan pada Rabu (30/5) menyebutkan nenek moyang kadal itu hidup sekitar 240 juta tahun lalu, ketika bumi masih satu benua.

Jurnal sains Nature melaporkan dari kerangka fosil Megachirella terungkap bahwa reptil berukuran bunglon itu adalah nenek moyang kadal dan ular. “Termasuk dalam kelompok yang disebut squamates,” tulis Nature.

Squamata adalah ordo reptil, terdiri dari kadal dan ular. Anggota ordo ini dibedakan dari kulit mereka. Ordo ini terbagi menjadi tiga subordo: lacertilia, serpentes, dan amphisbaenia

Temuan ini menyeret kelompok itu kembali ke masa lalu –sampai 75 juta tahun. “Kadal menghuni planet ini setidaknya sejak 240 juta tahun lalu," kata Tiago Simoes dari University of Alberta di Kanada kepada AFP.

Itu berarti squamates sudah terpisah dari reptil purba lainnya sebelum kepunahan massal perm-trias sekitar 252 juta tahun yang lalu, dan masih bertahan hidup.

Peristiwa perm-trias dikenal sebagai great dying atau great permian extinction, yang membentuk batas antara periode geologi Perm dan Trias, serta era Paleozoikum dan Mesozoikum.

Ini peristiwa kepunahan paling parah di bumi. Diketahui hingga 95 persen lautan dan 75 persen kehidupan terestrial di bumi hilang.

Megachirella, ditemukan sekitar 20 tahun yang lalu terkubur dalam lapisan pasir dan tanah liat yang dipadatkan di pegunungan Dolomites di timur laut Italia, awalnya salah diklasifikasikan sebagai kadal.

"Ketika pertama kali melihat fosil, saya menyadari itu memiliki fitur penting yang dapat menghubungkannya dengan evolusi awal kadal," kata Simoes.

Lalu, Dia terhubung dengan rekan-rekannya untuk melakukan analisis yang lebih rinci tentang kerangka kecil itu, termasuk pemindaian CT.

Hasil scan menunjukkan fitur fisik yang sebelumnya tidak terlihat, termasuk bagian bawah fosil, tertanam di batu.

Tim menemukan tulang kecil di rahang bawah megachirella yang unik bagi keluarga squamate.

"Saya menghabiskan hampir 400 hari mengunjungi lebih dari 50 museum dan koleksi universitas di 17 negara untuk mengumpulkan data tentang fosil dan spesies reptil hidup untuk memahami evolusi awal reptil dan kadal," kata Simoes.

"Saya menggunakan dataset ini ... untuk melakukan analisis filogenetik yang disajikan dalam penelitian ini."

Filogenetik adalah studi tentang bagaimana spesies yang berbeda berhubungan satu sama lain di pohon kehidupan.

Rekan studi Simoes, Michael Caldwell, menyamakan fosil Megachirella dengan "Rosetta Stone virtual dalam hal informasi yang diberikannya pada evolusi ular dan kadal."

Batu, yang digali di Mesir, itu memungkinkan para ilmuwan menguraikan hieroglif.

Ada 10.000 spesies squamate modern yang hidup hari ini, Caldwell menambahkan, "namun kita benar-benar tidak memiliki pemahaman yang sesungguhnya tentang dari mana mereka berasal dari segi sejarah evolusi mereka".

Bagi Simoes, penelitian ini lebih dari sekadar sejarah kadal. "Saat ini terjadi krisis di dunia yang kurang percaya pada bukti dan fakta ilmiah. Penolakan informasi ilmiah telah meningkat dan digantikan oleh fakta-fakta alternatif yang tidak didukung sains.

"Studi ini, mencoba memahami aspek fundamental evolusi ... mudah-mudahan ini menghidupkan lagi keingintahuan dan perhatian orang terhadap dunia alam, dan bagaimana hal itu telah berubah selama ratusan juta tahun."



Sumber: afp
CLOSE