Sebuah adegan menarik ketika mekanik Ducati dan Yamaha mengintip motor Honda di garasinya dalam sebuah sesi uji coba pramusim 2013.

Ada adegan cukup menarik di sela-sela uji coba pramusim terakhir di Jerez akhir Maret lalu, ketika para mekanik Ducati dan Yamaha menyempatkan diri mendatangi garasi Honda untuk “mengintip” dua motor RC213V. Mereka seperti ingin mengobati rasa penasaran kenapa motor Honda bisa begitu kencang di trek dan stabil di tikungan.

Pedrosa: Sekarang Atau Tidak
Sejak 2011, Repsol Honda memang mendominasi ajang MotoGP dengan mengantar Casey Stoner menjadi juara dunia dan pada musim lalu dua pembalapnya memenangi duapertiga dari 18 seri yang digelar, meskipun akhirnya Jorge Lorenzo dari Yamaha yang menjadi juara dunia.

Momentum RC213V tampaknya akan berlanjut setelah serangkaian hasil uji coba resmi pramusim menujukkan Dani Pedrosa mendominasi catatan waktu tercepat.

Pedrosa sudah demikian percaya diri dengan motornya sehingga dia memilih absen di hari terakhir ujicoba Jerez.

Dan Honda juga sudah begitu yakin telah memberi senjata terbaik baginya untuk bertarung musim ini, sehingga bosnya hanya memberi satu target jelas ke pembalap Spanyol itu: jadilah juara dunia sekarang, atau kamu takkan pernah bisa lagi. It’s now or never!

Shuhei Nakamoto menyatakan keyakinannya bahwa kalau Pedrosa bisa juara dunia untuk pertama kali tahun ini, dia akan lebih gampang merebut trofi dunia kedua dan seterusnya.

Dalam pernyataannya sebelum ini, tim Repsol Honda juga tak sungkan mematok target ambisius menyapu bersih semua tiga gelar MotoGP. Itu berarti juara dunia pembalap, juara dunia tim utama, dan juara dunia konstruktor yang nilainya dihitung bersama tim satelit Honda.

Menempatkan Pedrosa sebagai unggulan sangat gampang dilakukan, karena di sembilan seri terakhir musim lalu, dia menjuarai enam diantaranya, diteruskan dengan hasil uji coba pramusim yang sangat memuaskan.

Paket Honda nyaris sempurna, kecuali satu hal bahwa tim itu tidak memiliki juara dunia selepas hengkangnya Casey Stoner, yang digantikan oleh rookie Marc Marquez.

Yamaha Bawa 9 Trofi Dunia
Di garasi sebelah, satu lagi raksasa Jepang juga menebarkan ancaman lewat Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi, masing-masing telah mengoleksi dua dan tujuh trofi juara dunia di kelas premier.

Kematangan dan mental juara bisa menutupi sisi kelemahan teknis sepeda motor yang sedikit di bawah Honda.

Lorenzo sudah membuktikan musim lalu dia tak gentar bertarung meskipun dikeroyok Pedrosa dan Stoner, dan terlepas dari dua kecelakaan yang menimpa di Assen dan Valencia, hasil terburuk dia di setiap seri adalah juara dua!

Namun dia pasti ingat ketika Pedrosa mulai bangkit di paruh kedua, dia hanya bisa satu kali juara dalam sembilan seri yang tersisa.

Sekarang Stoner tinggal kenangan karena asyik dengan dunia barunya di ajang roda empat, namun bukan berarti tugas Lorenzo lebih ringan. Seperti pepatah: apa pun yang layak diperjuangkan, pasti susah dipertahankan.

Untuk strategi tim, mendatangkan kembali Rossi dinilai tepat dalam mengimbangi keunggulan mesin Honda, namun bagi Lorenzo pribadi, langkah ini seperti menghadirkan Stoner yang lain yang akan menghalanginya di trek. Bahkan mungkin menyerangnya lebih agresif dari siapa pun.

Mereka pernah satu tim sebelumnya pada 2008-2010 dan tak pernah akur. Dan untuk reuni yang sekarang, legenda balap motor Giacomo Agostini jauh hari sudah meramalkan mereka tak akan pernah bisa akur.

Pemegang rekor juara dunia 15 kali berbagai kelas itu berkaca pada pengalamannya sendiri saat bertarung dengan rekan setim.

“Hal yang paling kamu inginkan adalah mengalahkan siapa pun yang mengendarai motor yang sama dengan punyamu, karena itulah cara menunjukkan siapa yang lebih baik,” kata Agostini.

"Jika kamu tertinggal dari pembalap dengan motor berbeda maka situasinya tidak terlalu negatif, karena perbandingannya tidak imbang."

Argumen pria gaek ini tepat sekali untuk menggambarkan kondisi di garasi Yamaha yang bakal kembali gerah nantinya. Rossi kembali ke Yamaha bukan untuk bernostalgia. Dia harus menebus kekecewaan setelah dua musim yang tak sukses di Ducati, yang nyaris membawa akibat mengerikan bagi penggemarnya bahwa the Doctor tak lagi mencintai MotoGP.

Rossi datang untuk bisa menjadi juara dunia lagi, paling lambat musim 2014 karena waktu terus berjalan dan dia sudah berumur 34 tahun, kategori veteran di olahraga ini.

Dia cemas menunggu ujicoba, dan senyumnya mulai merekah ketika di hari pertama tes Sepang bisa masuk empat besar. “Aku belum lupa membalap di level atas, aku tak lagi tertinggal 1,5 detik dari yang terdepan,” ucapnya.

Dan senyumnya makin lebar ketika di salah satu hari di Jerez dialah pembalap yang terdepan itu, menjadi yang tercepat di trek kering dengan semua pembalap hadir.

Di Sepang dia berucap targetnya adalah podium, dan paling tidak sekali juara seri untuk membangkitkan keyakinannya. Di Jerez, tak ada yang tahu pasti apakah target pribadinya itu sudah direvisi. Namun jelas sikap riang Rossi sudah kembali, dan mungkin diam-diam dia sudah menentukan misi seperti Pedrosa: it’s now or never.

Lorenzo #1? Jangan Yakin Dulu
Lorenzo harus cepat-cepat melupakan komitmen Yamaha yang dulu menghiburnya: kamu tetap yang nomor satu dan prioritas di tim.

Orang-orang Yamaha sudah cukup lama berada di bisnis ini untuk bisa memahami peta kekuatan dengan cepat. Dan hasil di Jerez boleh jadi membuat beberapa petinggi Yamaha mengubah beberapa strategi di balik pintu.

Yamaha adalah tim yang sangat peduli kinerja. Mereka akan menyanjung dan memanjakan siapa pun yang bisa menjadi juara dunia. Tak peduli meskipun dia memakai sepatu beda warna merah di kanan dan putih di kiri seperti Lorenzo, atau keras kepala tak mau memakai nomor 1 biarpun berkali-kali juara dunia seperti Rossi. Yang penting mereka menjadi yang terbaik di akhir musim di atas motor garpu tala.

Tapi kalau si pembalap melempem, seperti Ben Spies yang musim lalu tak sekalipun bisa naik podium, tokoh-tokoh Yamaha tak segan menyindir dan membentak.

“Kami telah menaruh banyak uang padamu. Tak usah datang … kalau kamu tidak memberi 100 persen,” itu yang menurut pengakuan Spies pernah didengarnya.

Lorenzo juga perlu bersikap rendah hati karena pernah membuat kesalahan yang dinilai fatal untuk tim berkultur Asia seperti Yamaha.

Sebelum memperpanjang kontrak dua tahun lagi dengan Yamaha Juni lalu, Lorenzo ternyata diam-diam bicara dengan Honda.

Para petinggi Yamaha dikabarkan sangat kaget dan marah dengan peristiwa itu, dan mengubah pandangan mereka tentang Lorenzo. Ternyata dia sama saja dengan semua pembalap lain, mencari penawaran tertinggi.

Akibat peristiwa itu, Yamaha yang pernah tersinggung dengan kepergian Rossi justru kembali teringat semua kenangan manis bersama nomor 46 dan mulai merindukannya.

Lorenzo yang sekarang harus menyadari bahwa fakta dia digaji lebih tinggi dari Rossi (meski jumlahnya tak pernah disebutkan) tidak menjamin preferential treatment.

Rossi tak pernah mempermasalahkan itu karena satu alasan: dia lebih mudah mencari uang dari pembalap sepeda motor mana pun. Rossi adalah magnet bagi sponsor dan sudah punya brand komersil VR46 yang dikelola secara profesional.

Gaji resmi mungkin kalah, tapi pendapatan pribadi jangan ditanya. Di semua ajang kebut-kebutan, mungkin hanya pembalap Formula 1 Fernando Alonso yang mendapat penghasilan lebih tinggi darinya.

Ketika Rossi pindah ke Yamaha, brand minuman Monster Energy yang diusungnya cepat-cepat meningkatkan penawaran sehingga mencakup tim Yamaha keseluruhan. Justru Lorenzo yang harus mengalah merk minuman yang diiklankan dia sebelumnya dibuang dan dia akan harus mengacungkan kaleng Monster kalau naik podium nanti.

Pedang Dua Mata
Kehadiran dua juara dunia di tim Yamaha menjadi sebuah pedang bermata dua, satu sisi menjamin balance of power terhadap Honda, namun di sisi lain membuka celah kelemahan yang bisa dimanfaatkan seterunya itu.

Rivalitas internal yang terlalu sengit selalu memberi keuntungan ke tim lawan. Di paruh pertama musim lalu, Stoner menjadi pesaing utama Lorenzo. Namun beberapa kali dia terlalu mengambil resiko melawan rekan sendiri Pedrosa, sehingga membuatnya keluar trek.

Bahkan di Jerman, Stoner terjatuh ketika tinggal satu putaran saja saat menyerang Pedrosa, sehingga Lorenzo yang membuntuti jauh di belakang mereka bisa finis kedua, sampai dia bilang seperti ditakdirkan finis tak lebih buruk dari podium kedua.

Siapa pun yang mengikuti perkembangan MotoGP percaya bahwa rivalitas Stoner-Pedrosa tak ada apa-apanya dibandingkan perseteruan Rossi-Lorenzo musim 2008-10, ketika mereka harus memasang sekat di garasi dan memakai merk ban berbeda.

Kalau situasi demikian terjadi lagi, tinggal bagaimana Pedrosa memanfaatkannya dengan RC213V yang diyakini sebagai motor paling hebat saat ini.

Mungkin dia bisa belajar dari Formula 1 musim 2007, ketika pembalap Ferrari Kimi Raikkonen menjadi juara dunia di seri terakhir memanfaatkan rivalitas duo McLaren Alonso dan Lewis Hamilton dengan beda 1 poin saja dari mereka berdua.

Honda Lagi, Yamaha Lagi
Dalam sebuah perspektif, cukup menyedihkan bahwa menjelang dimulainya musim 2013 hampir semua analisis berfokus hanya pada dua tim utama Jepang ini.

Honda dan Yamaha memang sangat serius menggeluti MotoGP bukan hanya sebagai promosi produknya, namun juga sebagai tempat yang paling tepat untuk membuktikan keunggulan teknologi mereka, dan seiring perjalanan waktu mereka sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari MotoGP dan gampang disimpulkan mereka mencintai balapan ini.

Jadi tidak mengapa kalau pecinta MotoGP juga menghormati dua produsen itu. Kawasaki dan Suzuki datang dan pergi, bandingkan dengan Honda yang sampai bersedia memasok mesin untuk semua tim di Moto2, yang menjadi ajang penggodokan para pembalap MotoGP.

BMW bahkan tak mau mengirim tim utama karena teknologi yang ada sekarang sudah demikian maju dan mereka tak akan bisa mengejar tingkat yang sudah dicapai dua raksasa Jepang itu. Para produsen sepeda motor itu bersama Aprilia lebih fokus ke ajang Superbike.

Ducati adalah tim utama ketiga yang serius menggeluti MotoGP, namun mereka sudah menegaskan lebih memilih evolusi untuk kembali ke papan atas, daripada melakukan revolusi yang tak mungkin untuk kembali bersaing musim ini.

Keputusan yang masuk akal mengingat tim itu baru dibeli produsen mobil Jerman, Audi, dan baru saja melakukan perombakan manajemen total baik di divisi komersil Ducati mau pun di ajang balap.

Penulis: Heru Andriyanto/HA