Polri Telusuri Kabar Tewasnya Bahrun Naim

Terdakwa kasus kepemilikan amunisi Muhammad Bahrun Naim (kanan) menjalani sidang di Pengadilan Negeri Solo, 21 Februari 2011. (Antara)

Oleh: Farouk Arnaz / YUD | Senin, 4 Desember 2017 | 10:12 WIB

Jakarta - Polri menelusuri informasi tewasnya tokoh utama kasus teror Bahrun Naim di Suriah. Informasi itu awalnya beredar dalam percakapan grup-grup jihad di dalam negeri.

"Sedang dicek oleh Densus (kebenarannya)," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, Senin (4/12).

Kondisi Suriah yang dilanda konflik dengan ISIS membuat pengecekan tentu tak bisa cepat dan bahkan kadang buntu.

Namun, selama ini, polisi mengandalkan kroscek informasi itu dari menyadap informasi dari pembicaraan diantara jaringan teror seperti halnya dalam kematian Abu Jandal beberapa saat lalu.

Jika benar Naim tewas maka itu adalah pukulan besar bagi kelompok pro ISIS Indonesia di Suriah dan di dalam negeri. Sebab nama Naim selalu muncul dalam tiap peristiwa teror di tanah air belakangan ini.

Sebut saja aksi teror di Jl MH Thamrin, Jakarta, Januari 2015 lalu. Naim berobsesi mendirikan Khatibah Nusantara. Dia juga ingin menjadi leader untuk kelompok ISIS di Asia Tengah.

Naim yang bernama lengkap Muhammad Bachrunna’im Anggih Tamtomo itu muncul di radar Densus 88, ketika dia diketahui menyimpan ratusan amunisi di rumah kontrakannya di Jalan Kali Sampang RT 002 RW 003, Kampung Metrodranan, Kelurahan Pasar Kliwon, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta pada 2010 silam.

Saat dicokok detasemen berlambang Burung Hantu itu dia kedapatan menyimpan ratusan amunisi yang diantaranya adalah amunisi senapan serbu AK-47 yang merupakan titipan seseorang yang bernama Purnama Putra alias Ipung alias Uus.

Ipung merupakan terpidana penyembunyi Noordin M Top dan pengeboman Kedutaan Australia. Meski saat itu ditangkap Densus 88 karena menyembunyikan amunisi milik kelompok Noordin M Top, Naim yang pada masa kecilnya dipanggil Anggih ini, tak dijerat dengan UU Anti Terorisme.

Naim yang juga memiliki nama lain Abu Rayyan dan Abu Aisyah ini hanya dijerat dengan UU Darurat No 12/1951 tentang kepemilikan amunisi, senjata api, dan bahan peledak tanpa hak. Naim saat itu diganjar hukuman 2,5 tahun penjara.

Paska bebas, lelaki kelahiran Pekalongan 1983 tersebut menghabiskan waktunya di tempat usahanya yakni warnet (warung internet) yang berjarak sekitar dua kilometer dari kontakannya.

Usaha warnet itu dirintis Naim selepas dia menyelesaikan program D3 Ilmu Komputer (sekarang D3 Teknik Informatika) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret (FMIPA UNS).

Nama Naim kembali mencuat pertengahan Maret 2015 saat sepasang suami istri asal Demak mendatangi Polres Sukoharjo untuk melaporkan hilangnya seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bernama Sri Lestari.

Mahasiswi Fakultas Farmasi itu belakangan diketahui diajak pergi Naim ke Suriah. Naim

pergi dengan paspor dari Kantor Imigrasi Surakarta di bulan Desember 2014.

Sejak di Suriah itulah Naim menjelma menjadi tokoh sentral yang mengendalikan dan memerintahkan sejumlah aksi teror di dalam negeri.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT