Wiranto Ingatkan Modifikasi Serangan Teroris

Wiranto Ingatkan Modifikasi Serangan Teroris
Wiranto. ( Foto: Istimewa )
Robertus Wardi / YUD Selasa, 6 November 2018 | 17:05 WIB

Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan (Polhukam) Wiranto dan Menteri Dalam Negeri Australia, Hon Peter Dutton memimpin pertemuan sembilan negara yang membahas perlawanan terhadap terorisme di Sub Kawasan. Pertemuan berlangsung di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Selasa (6/11).

Selain Indonesia dan Australia, negara-negara lain yang terlibat adalah Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Singapura dan Thailand.

Dalam pertemuan itu, Wiranto mengingatkan adanya modifikasi pola serangan pelaku teroris. Jika sebelum-sebelumnya serangan dilakukan dalam skala besar, melibatkan banyak pelaku, kini serangan dilakukan secara sporadis. Pelaku tidak terlalu banyak, hanya 1-2 orang. Pola lainnya adalah melibatkan anggota keluarga seperti peledakan bom di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

"Pola penyebaran paham radikal telah berkembang. Para pelaku teror memodifikasi strategi serta pola serangan mereka," kata Wiranto.

Sebelumnya, mereka beraksi sebagai satu organisasi dalam melakukan serangan. Namun kini serangan-serangan tersebut muncul daIam unit yang lebih kecil atau bahkan atas inisiasi sendiri atau "lone wolf" serta juga melibatkan kaum perempuan dan anak-anak," kata Wiranto.

Ia menjelaskan media yang digunakan teroris untuk melakukan aksinya bervariasi. Pola terbaru adalah menggunakan sosial-media (Sosmed) untuk rekrut anggota dan kampanye menyebarkan ajaran.

"Ini semua kita bicarakan dalam pertemuan ini. Kita merancang program-program baru dalam menghadapi serangan teroris," tuturnya.

Menurutnya, pertemuan di Jakarta adalah kelanjutan dari berbagai pertemuan sebelumnya. Pertemuan pertama terjadi di Manado, Sulawesi Utara ‎tanggal 29 Juli 2017 lalu. Pertemuan berikutnya dilakukan di Lombok beberapa waktu lalu. Namun terhenti karena ada bencana gempa bumi saat pertemuan sedang berlangsung.

‎"Pertemuan ini merupakan upaya diri negara-negara di sub-kawasan guna mengantisipasi dan menanggulangi masalah terorisme. Khususnya dengan melihat perkembangan dan perubahan strategi serta taktlk para teroris.

Pertemuan itu juga bertujuan membangun sinergi antara pemerintah dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Khususnya yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan keluarga guna mencegah nilai-nilai ideologis yang bersifat radikal serta dapat memicu terjadinya ekstremisme kekerasan," tutup Wiranto.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE