Festival untuk Menyelamatkan Anyaman Kalimantan

Anjat, tas anyam dari Kalimantan. (Dokumen/Yosie Sesbania Gewap)

Oleh: Yosie Sesbania Gewap / AB | Sabtu, 23 Maret 2013 | 08:06 WIB

Jakarta - Yayasan Lontar dengan dukungan Yayasan Bhakti Total Bagi Indonesia Lestari serta Bentara Budaya akan mengadakan pergelaran seni dan budaya. Pergelara dengan teman “Seni Anyam: Adi Kriya Kalimantan” diselenggarakan pada 27 Maret sampai 7 April 2013 di Bentara Budaya, Jakarta. Selain itu, juga dilakukan peluncuran buku Plaited Arts from the Borneo Rainforest.

Edi Mulyadi dari Yayasan Bhakti Total Bagi Indonesia Lestari mengatakan festival dan buku tersebut merupakan upaya membantu melestarikan seni anyam dari Kalimantan yang nyaris punah. Seni anyam yang diaplikasikan pada barang sehari-hari suku asli Kalimantan kini sudah tergantikan oleh barang yang lebih praktis dan murah.

“Mereka membuat anyaman karena dipakai untuk keperluan sehari-hari. Dengan beralihnya zaman, banyak kebutuhan yang dipenuhi oleh produk plastik yang harganya lebih murah dan praktis. Generasi muda tidak punya kesempatan untuk belajar membuat anyaman,” katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (22/3).

Ika W Burhan, salah satu anggota tim persiapan festival, mengatakan sudah tidak terlalu banyak orang yang bisa menganyam. “Saat ini hanya orang tua yang usianya di atas 40 tahun,” katanya.

Sulitnya bahan baku, lanjutnya, membuat perempuan Kalimantan enggan menganyam. “Bahan baku semakin sulit didapat, karena hutan rotan banyak yang sudah terbakar. Mencari rotan pun jauh dan sulit. Perempuan enggan menganyam,” jelasnya.

Selain sulitnya bahan baku dan pengerjaannya, penduduk sekitar yang bukan berasal dari suku Dayak, seperti Bugis dan Jawa, jarang memakai hasil anyaman orang Dayak. Alasannya, tidak praktis dan harganya mahal.


Sumber:
ARTIKEL TERKAIT