Lantunan takbir dari para pelayat, mengiringi jenazah almarhum Ustad Jefry Al Bukhori (Uje), saat diusung ke mobil ambulans menuju Masjid Istiqlal Jakarta Pusat, Jumat (26/4).

Jakarta - Semilir angin yang berembus di malam pertama tahlilan atas wafatnya Ustaz Jeffry Al Buchori, Jumat (26/4) rupanya belum mampu menyejukkan insan yang kehilangan separuh jiwanya.

Pipik Dian Irawati, masih terlihat syok. Dengan berlinang air mata, ia kembali mempertanyakan takdir, menggugat kenyataan, meski pasti di hati kecilnya berkata, inilah jalan yang terbaik dari Sang Pencipta.

Emosi yang merasuk jiwa kemudian kembali tenang dengan kumandang ayat-ayat suci Alquran yang tak henti dibacakan para pelayat. Pipik kemudian tertegun, terdiam, dan mengambil napas panjang. Kembali ia memandang anak-anaknya yang terlihat tegar, meski sesekali tampak terisak.

Dalam pelukan doa-doa yang dipanjatkan, Pipik dapat kembali membuka suara. Ia mengisahkan drama kehidupannya bersama Uje, menjelang kematiannya.

"Memang suami saya sedang sakit tapi berulang kali bilang baik-baik saja. Malam sebelum kejadian, dia masih minta dibelikan makanan. Dia makan dengan lahap sampai habis tak bersisa," ujar Pipik dengan terbata-bata.

Setelah menarik napas panjang dan menyeka air matanya, Pipik kemudian melanjutkan kisahnya.

"Siang harinya saya bilang kalau Dede, anak kami ingin beli sepatu karena sepatu yang lama sudah sempit. Abi (panggilan Pipik untuk Uje) minta saya saja yang belikan. Kemudian ia telepon minta dibelikan kue kesukaannya," tutur Pipik, masih dengan diiringi derai air mata.

Pipik kembali terdiam, ia rupanya tengah menahan gejolak kesedihannya. Pipik sempat tersedu, namun ia berusaha melanjutkan kata-katanya.

"Abi kemudian telepon bilang kalau dia mau ketemu orang. Ada program buat Ramadan naik motor. Saya sempat larang dia pakai motor tapi Abi bilang enggak apa-apa," ujar Pipik.

Tak ada yang dapat melawan kuasa Tuhan. Jika Dia telah berkehendak, tak satupun mahluk yang dapat menghentikannya. Pipik menyadari, larangannya terhadap sang suami untuk naik motor tidak akan mengubah ketetapan yang sudah digariskan Sang Maha Pencipta.

"Setelah pulang saya pun tidur. Lewat tengah malam telepon berbunyi tapi saya enggak dengar. Baru setelah beberapa kali, saya dikabarkan kalau suami saya masuk UGD dan semua itu pun terjadi," ujarnya kembali terisak.

Penulis: Teddy Kurniawan