Penyanyi senior Iwan Fals.

Konsisten di jalur pop balada selama 38 tahun membuat hidup Iwan Fals banyak cerita. Bukan hanya cerita tentang perjuangannya mempertahankan idealisme semata, tetapi ada juga cerita bahagia ketika musisi senior ini dianugerahi beragam penghargaan karena kesetiannya berkarya.

Iwan Fals (51) baru-baru ini kembali mendapat sebuah penghargaan. Tidak tanggung-tanggung, penghargaan itu diperoleh dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Penghargaan dengan nama Karya Bhakti Musik Indonesia diberikan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) Mari Elka Pangestu, pada Jumat (17/5) di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona Jakarta.

Iwan diberikan penghargaan untuk kriteria pengarang serta penyanyi bergaya balada. Selain Iwan, ada empat tokoh senior lain yang juga diberikan penghargaan Karya Bhakti Musik Indonesia. Mereka adalah tokoh musik kontemporer (Slamet Abdul Syukur), produser dan pejuang hak kekayaan intelektual bidang musik (Heins Enteng Tanamal), penyanyi keroncong legendaris (Waldjinah), dan produser musik yang membangun festival internasional (Peter F Gontha).

Adanya penghargaan dari pemerintah yang baru pertama kali diselenggarakan ini ditanggapi Iwan sebagai titik terang kemajuan industri musik. Sekarang, industri musik bukan lagi hal yang kurang mendapat perhatian. Lewat Kemparekraf, industri musik sudah dianggap sebagai industri kreatif yang bisa menyokong pemasukan ekonomi negara.

Selain adanya penghargaan Karya Bhakti Musik, Iwan juga menyambut baik pencanangan Hari Musik Nasional. Tepatnya pada 9 Maret 2013 silam, Presiden Bambang Soesilo Yudhoyono menetapkan hari musik nasional. Lewat Hari Musik Nasional itulah, eksistensi musisi semakin dikuatkan.

"Kami para musisi sudah berjuang puluhan tahun untuk menjadikan musik sebagai industri yang diutamakan. Sekarang perjuangan kami mulai dihargai. Musik mulai dianggap penting. Musik juga bisa menjadi alat promosi Indonesia ke mata dunia," ujar Iwan Fals.

Sementara itu penghargaan yang diberikan kepada lima insan musik diharapkan Iwan bisa membangkitkan semangat di antara para musisi Indonesia. Sebab, ke depannya Menparekraf Mari Elka berjanji akan memberikan penghargaan setiap tahun, kepada tokoh musik yang dianggap menjadi inspirator di setiap genrenya.

Mari Elka yang hadir sebagai tuan rumah juga mengatakan, penghargaan Karya Bhakti Musik bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada para insan kreatif di bidang musik. Penghargaan ini juga diharapkan bisa memotivasi para insan kreatif lainnya, agar terus konsisten berkarya dan berinovasi.

"Penghargaan ini diberikan sejalan dengan dicanangkannya Hari Musik Nasional, yang jatuh tanggal 9 Maret 2013. Bagi saya, musik adalah industri kreatif yang sangat menjanjikan. Karena itu Kemenparekraf mencoba berkontribusi dengan memberikan penghargaan setiap tahunnya," ungkap Mari Elka sebelum pemberian penghargaan di Balairung Soesilo Soedarman.

Selain peran Mari Elka, adanya penghargaan untuk insan musik juga didukung oleh PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia). Pihak PAPPRI yang melakukan penilaian pada lima insan dengan lima kriteria.

Insan Muda
Ditambahkan Iwan, penghargaan ini juga bisa menjadi tolok ukur bagi musisi muda berkarya. Siapa tahu, di tahun depan Kemenparekraf akan memberikan penghargaan kepada musisi muda yang kreatif. Sesuai dengan slogan Kemenparekraf selama ini yakni "Yang Muda Yang Kreatif".

"Tahun depan Ibu Menteri berjanji akan memberikan penghargaan kepada insan muda. Sebab saya yakin, di industri musik banyak sekali insan muda yang kreatif," lontar Iwan.

Harapan dan optimisme Iwan pada insan muda sebenarnya juga berkaca dari masa lalunya. Iwan adalah seorang penyanyi beraliran balada dan country yang memulai kariernya sejak masih belia. Lewat lagu-lagunya, ia "memotret" suasana sosial kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang.

Iwan juga menyuguhkan lagu-lagu tentang kehidupan dunia pada umumnya, kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia).

Bukan hanya di musik, Iwan juga sempat aktif di kegiatan olahraga. Ia pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional dan Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Harus diakui juga kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum "akar rumput". Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan OI. Yayasan ini mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang OI dapat ditemui di setiap penjuru nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Suara Pembaruan

Penulis: A-23/NAD

Sumber:Suara Pembaruan