Sembilan Asosiasi Profesi Pekerja Film Resmi Didirikan

Sembilan Asosiasi Profesi Pekerja Film Resmi Didirikan
Deklarasi 9 Asosiasi Film ( Foto: Beritasatu.com / Aisya Putrianti )
Aisya Putrianti Senin, 2 September 2013 | 22:27 WIB

Jakarta - Bertempat di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, sebanyak sembilan asosiasi profesi dalam perfilman Indonesia didirkan, Senin (2/9).

Pendeklarasian sembilan asosiasi tersebut dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Mari Elka Pangestu, dan hadir pula kesembilan ketua dari masing-masing asosiasi.

Asosiasi-asosiasi tersebut adalah : Indonesian Film Directors Club (IDFC) yang diketuai oleh Lasja Fauzia Susantyo, Rumah Aktor Indonesia (RAI) yang diketuai oleh Lukman Sardi, Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR) yang diketuai oleh Perdana Kartawiyudha, Indonesian Film Editors (INAFEd) yang diketuai oleh Sastha Sunu, Indonesian Motion Picture and Audio Association (IMPAct) yang diketuai oleh Tya Subiakto Satrio, Asosiasi Casting Indonesia (ACI) yang diketuai oleh Bowie Budianto, Indonesian Production Designers (IPD) yang diketuai oleh Adrianto Sinaga, Asosiasi Produser Sinema Indonesia (APSI) yang diketuai oleh Dewi Umaya, dan Sinematografer Indonesia (SI) yang diketuai oleh Agni Ariatama.

Pada sambutan yang diberikan masing-masing ketua, mereka menyebutkan beberapa kali kata kunci yang menjadi visi dan misi asosiasi-asosiasi tersebut.

Lukman Sardi, aktor Indonesia yang juga menjabat sebagai ketua Rumah Aktor Indonesia (RAI) menyatakan bahwa pemikiran awal terbentuknya RAI dimulai sejak empat tahun lalu.

"Pemikiran untuk mendirikan Rumah Aktor Indonesia (RAI) sebenarnya sejak empat tahun lalu. Tapi saat itu masih banyak yang harus dipertimbangkan," ujarnya.

"Berdirinya RAI berawal dengan adanya kegelisahan untuk segera ikut serta dalam proses perkembangan industri perfilman Indonesia ke arah yang lebih baik dari segi aktor. Kami ingin proses regenerasi aktor bisa berkembang," lanjutnya.

Pada kata sambutannya Lukman Sardi juga menjabarkan visi dan misi RAI yaitu mengedukasi penonton Indonesia untuk datang ke bioskop, menyejahterakan para aktor Indonesia, dan membina kualitas para aktor.

Tya Subiakto, ketua Indonesian Motion Picture and Audio Association (IMPAct) juga memberikan keterangan mengenai visi dan misi tentang asosiasi yang diketuainya.

"Keberadaan dan peran audio dalam film sangat penting. Dalam asosiasi ini, kami berbicara dalam bahasa audio hingga mencapai profesionalisme dan standar yang sama. Kami juga berharap IMPAct bisa menjadi wadah bagi semua pekerja audio dan musik film, dan tentunya mengedukasi semua pekerja film," kata Tya.

Setelah kesembilan ketua masing-masing asosiasi menyampaikan sambutannya, giliran Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, memberi kata sambutan.

Pangestu menyebutkan, bahwa dirinya terharu karena merasakan apa yang baru saja disuarakan oleh sembilan perwakilan setelah melalui proses yang panjang selama kurang lebih dua tahun.

"Ini adalah mimpi kita bersama. Bagaimana bisa mimpi bersama kalau tidak berada di ranjang yang sama," kata Pangestu merujuk kepada tujuan berdirinya kesembilan asosiasi di atas.

Pangestu menjelaskan, diperlukan adanya kerja sama dalam berkarya untuk mengembangkan perfilman Indonesia yang kuat dan sehat, serta berinovasi.

Rata-rata, inti dari isi pidato yang mereka berikan adalah mengembangkan kualitas profesi masing-masing serta komitmen untuk bertindak profesional.

Selain itu mereka juga menekankan visi misi tentang jaminan kesejahteraan masing-masing profesi yang ada di sektor perfilman serta hak-hak yang dilindungi.

"Semua profesi berperan dalam keberhasilan suatu film. Maka itu kita semua harus saling mendukung. Ini adalah sebuah awal dari proses membangun sesuatu. Saya optimis dan terharu akhirnya kita semua bisa berkumpul. Mudah-mudahan kita bisa mempertahankan ini," kata Pangestu.

CLOSE