Pengantin perempuan Palembang.
Songket Palembang.
Ada pengaruh zaman kerajaan Sriwijaya.

Akad nikah putra dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Ani Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono dengan putri dari Menteri Hatta Rajasa-Okke Rajasa,  Siti Rubi Aliya Rajasa akan digelar dengan adat Palembang. 

Menelisik sedikit mengenai adat Palembang, berbagai literatur mengungkap, kebudayaan daerah ini diwariskan dari kerajaan Sriwijaya di masa jaya. Emas adalah salah satu ciri yang paling mencolok pada masa itu. 

Selain itu, kebudayaan Palembang juga konon mendapat pengaruh pula dari kebudayaan China dan Hindu. Hal ini terlihat dari berbagai simbol adat yang digunakan, seperti warna merah dan bentuk simbol-simbol yang digunakan. 

Upacara pernikahan adat merupakan salah satu kegiatan yang umumnya menggunakan banyak simbol dan kental nuansa budaya. Tak terkecuali pada pernikahan adat Palembang, dan yang paling terlihat adalah melalui pakaian kedua mempelai. 

Pakaian Pengantin
Menurut M Deddy, penata rias yang juga penulis buku rias pengantin, seperti Pesona Prameswari mengatakan, busana pengantin Palembang ada 2 jenis; Aesan Pasangkong dan Aesan Gede. 

"Aesan Pasangkong merupakan riasan yang sederhana. Sementara Aesan Gede, mengikuti riasan dari warisan kerajaan zaman dulu, dan lebih banyak ornamen," katanya saat dihubungi beritasatu.com beberapa waktu lalu. 

Di busana Aesan Gede, menurut M Deddy, ada beberapa hal yang umum digunakan pada tampilan perempuan, yakni Sisir Komering Ilir di bagian mahkota, kemudian ada tusuk berbunga yang menghadap belakang, kembang goyang beringin/tanjung, cempako limo (tusuk kembang), dan untuk rias rambut, biasanya menggunakan tipe sanggul malang di belakang. 

Kemudian ada pula karsuhun atau mahkota untuk dikenakan. Di bagian sisi dari mahkota, terdapat juntaian bola-bola berwarna-warni, atau disebut dengan sumping. 

Kemudian, ada beberapa perhiasan yang digunakan, yakni anting bulan bintang, kalung kebo munggah atau tapak jajo, kemudian teratai dada, klah bahu, selempang, pending, dan beberapa lapis gelang, selendang, dan di bawahnya menggunakan kain songket Palembang yang umumnya menggunakan motif nago besarang.

Untuk menutupi bagian dada, digunakan kain songket lepus sebagai dodot, atau mirip kemben, biasanya dibentuk menyerupai kipas. 

Sementara, menurut situs yang khusus membahas tentang pernikahan, Weddingku.com mengatakan, pakaian mempelai lelaki mengenakan kain songket, celana satin bersulam benang emas, serta perhiasan berwarna keemasan yang mirip dikenakan oleh sang mempelai perempuan. Keduanya mengenakan terompah bersulam. 

Untuk Aesan Pasangkong, M Deddy mengatakan, tampilan pengantin lebih sederhana, kemungkinan ditujukan bagi para masyarakat biasa. Pakaian yang digunakan pun adalah baju kurung. 

Dalam prosesi pernikahan adat Palembang diketahui ada beberapa ritual yang kerap dilakukan. Konon kegiatan-kegiatan ini merupakan bentuk dari tata kehidupan masyarakat Palembang sendiri. Berikut ini beberapa kegiatan yang umum diketahui dari prosesi pernikahan adat Palembang, seperti dikutip dari situs Weddingku.com:

1. Madik. Merupakan sebuah kegiatan pendekatan dari keluarga calon lelaki kepada calon perempuan. Dilakukan oleh anggota keluarga calon lelaki untuk mengetahui apakah sang perempuan sudah ada yang meminang atau belum. Dilakukan jauh-jauh hari. 

2. Senggung. Diartikan sebagai pagar, sebuah simbol supaya sang calon mempelai perempuan tidak diganggu lelaki lain. Prosesi berupa hantaran tenong (keranjang) atau sangkek (anyamanan bambu) berisi makanan, atau apa pun sesuai keadaan keluarga perempuan, ditutupi kain batik sulam emas. 

3. Ngebet. Merupakan proses sepakat atau disebut nemuke kato. Dalam proses ini, pihak lelaki membawa tenong 3 buah, isi terigu, gula pasir, dan telur itik. Artinya, merupakan kesepakatan keduanya akan melangsungkan pernikahan, dan pihak lelaki umumnya membawa bingkisan lain berupa benda berharga, seperti perhiasan atau kain. 

4. Berasan. Artinya, kedua keluarga bermusyawarah menentukan hari pernikahan, dan pertemuan keluarga. Serta menentukan apa yang diinginkan sebagai antaran.

5. Mutuske Kato. Memutuskan tanggal pelaksanaan prosesi ritual-ritual:
* Hari Nganterke Belanjo (lelaki memberi sejumlah uang kepada perempuan dalam nampan serta membawa permintaan keluarga perempuan, mirip seserahan), Hari Pernikahan, Munggah (puncak acara), Nyemputi, Nganter Pengantin, Ngalie Turon, Bercacap (suap-suapan), dan Mandi Simburan 

6. Akad Nikah/Kawin Numpang. Dilaksanakan di kediaman lelaki, biasanya berupa akad nikah. Jika dilakukan di rumah perempuan, disebut kawin numpang. Jika dilakukan sebelum Munggah, pihak perempuan harus mengantarkan keris ke kediaman lelaki 

7. Munggah. Biasanya dilakukan di kediaman perempuan, dengan kegiatan-kegiatan serupa resepsi, dan suguhan tarian rebana dan atraksi palang pintu. Pihak lelaki biasanya membawa bunga langsih supaya bisa masuk ke rumah perempuan, dan dibalas pihak perempuan dengan memberikan kain dan kemeja. 

Penulis: /WEB

Sumber:Weddingku.com