''Monolog 3 Perempuan'', Fragmen Karya Sastra Terkemuka dalam Satu Panggung

''Monolog 3 Perempuan'', Fragmen Karya Sastra Terkemuka dalam Satu Panggung
Ine Febriyanti memerankan tokoh Nayla yang diadaptasi dari novel karya Djenar Maesa Ayu dengan judul yang sama, dalam "Monolog Perempuan" di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu, 11 Oktober 2014. ( Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin )
Shesar Andriawan / JAS Sabtu, 11 Oktober 2014 | 21:40 WIB

Jakarta - Sewajarnya Annelies Mellema hanya ada novel Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer, Nayla di Nayla karya Djenar Maesa Ayu, dan Srintil serta ibunya, Nyai Kertareja cukup muncul di Ronggeng Dukuh Paruk buatan Ahmad Tohari. Tapi hari ini, Sabtu (11/10), keempat tokoh itu muncul bersamaan dalam Monolog 3 Perempuan yang dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat.

Lakon ini mengambil fragmen dari tiga karya sastra terkemuka Indonesia. Ahda Imran menulis naskah Ronggeng Dukuh Paruk, Gunawan Maryanto menyadur ulang Bumi Manusia, dan Djenar sendiri yang mengurusi Nayla.

Tiga cerita itu dipilih karena mewakili tiga masa berbeda yaitu masa kolonialisme, masa pergerakan pemuda, dan masa kekinian. Satu benang merah yang menjalin Annelies, Nayla, dan Srintil adalah kekerasan dan perlawanan. Pertunjukan ini mengajak penontonnya menyelami apa dan bagaimana sesungguhnya menjadi perempuan.

Monolog dimulai oleh Sha Ine Febriyanti yang menjadi Nayla, seorang gadis yang dididik dengan keras oleh ibunya dan tumbuh di lingkungan yang kemudian memaksanya menyukai sesama jenis. Ine memainkan peran Nayla dengan banyak mengumpat, mengutuk, menyebut alat kelamin, dan segala macam perilaku yang memang ada di novel.

Annelies muncul dalam fragmen akhir cerita Bumi Manusia. Anak gadis Herman Mellema itu dipaksa oleh hukum untuk pergi ke Belanda, meninggalkan Minke suaminya dan Sanikem alias Nyai Ontosoroh, ibunya. Olga Lydia mempertunjukkan sosok Annelies yang cantik, penyayang, tapi begitu rapuh.

Sama seperti Nayla, Annelies juga bernasib nelangsa. Nayla diperkosa pacar ibunya ketika baru berusia sembilan tahun. Annelies punya nasib lebih hina lagi, diperkosa kakaknya sendiri, Robert Mellema.

Nyai Kertareja yang diperankan Pipien Putri adalah penyegar, menurut sang sutradara, Agus Noor.

"Awalnya mau Srintil, tapi kalau dipikir nanti jadinya monolog ini akan sedih banget. Annelies dipaksa ke Belanda, Nayla yang seperti itu, dan Srintil yang dipenjara dua tahun. Butuh sosok yang funny, humoris untuk menyegarkan," Agus menjelaskan.

Dan Pipien melakukannya. Dalam satu adegan dia meronggeng, cuma sebentar lalu sempoyongan kehabisan energi.

"Wah kalau kalian lihat saat nyong masih muda dulu, pasti bakal melihat bokong nyong megal, megol, megal, megol," Pipien bermonolog sambil menggoyangkan pinggul. Audiens tertawa.

Monolog ini menampilkan tiga perempuan dari cerita berbeda. Ada kalimat yang beririsan, sambung menyambung. Ada transisi yang manis.

Misal saja saat Nayla mengutuki nasibnya, "Kenapa? Kenapa saya lahir di situasi berbeda?".

Lampu sorot ke arah Nayla padam, berpindah ke Nyai Kertareja. "Ya, kamu memang berbeda Srintil. Kamu harus menanggung beban Dukuh Paruk. Inyong sebetulnya kasihan, Srintil menanggung nasibnya sendirian,".

Nyai Kertareja tak lagi disorot, kali ini giliran Annelies yang bicara, "Beginilah aku sekarang, sendirian bersama koper Sanikem,".

Otak di balik irisan itu adalah Agus Noor. Ia bilang, "Itu jadi tugas saya untuk nyambungin, melihat bagaimana persilangan nasib mereka punya irisan yang sama,".

Di akhir cerita, ketiganya kalah. Srintil tak bisa menolak nasib sebagai ronggeng, Nayla sulit keluar dari jerat kehidupan malam, dan Annelies dipisahkan paksa dari Minke dan Sanikem yang mencintainya.

"Tapi seperti kata Mama, kita telah melawan Nak. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya," Annelies menirukan perkataan Sanikem.

CLOSE