Seorang warga berdoa di Vihara Dharma Bhakti kawasan petak sembilan, Glodok, Jakarta Barat, Warga mulai mendatangi melakukan persiapan di Vihara menjelang tahun baru Imlek  (16/1/12).  FOTO : AFP / ADEK BERRY
Berawal dari Nian, binatang buas bersisik emas, legenda Imlek dimulai...


Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan sebuah perayaan besar bagi masyarakat Tionghoa. Tradisi menggantung lentera merah, membunyikan petasan dan sapu adalah salah satu keunikan dari perayaan ini. Pun tradisi menempel gambar Dewa Penjaga Pintu pada hari-hari perayaan ini juga sering dilakukan.

Dari mana semua tradisi ini berasal?

Asal muasal Imlek bisa dipandang dari dua sisi, mitos atau legenda dan berdasar sejarah. Jika menurut mitos, jaman dahulu dunia dipenuhi dengan binatang-binatang buas dan berbahaya. Diantara mereka terdapat sebuah monster yang sangat besar, Nian.

Hewan tersebut berbadan besar dan buas menyerupai singa. Uniknya, tubuh Nian bersisik emas. Nian mempunyai kebiasaan mulai makan manusia tepat pada malam tahun baru.

Nian mempunyai mulut yang sangat besar yang dapat menelan banyak orang sekaligus dalam sekali caplokan, tak heran jika penduduk menjadi amat takut kepadanya.

Pada suatu hari, ada seorang tua yang datang untuk menolong mereka. Beliau menawarkan diri untuk menaklukkan sang monster Nian.

Dengan setengah hati, penduduk setuju. Dan orang tua itu pun mencari Nian.Ternyata kecerdikan orang tua itu berhasil membuat Nian takluk dan hanya memangsa binatang. Orang tua tersebut juga mengetahui kelemahan Nian yang takut warna merah. Sejak itulah sang monster Nian hanya memangsa binatang, tidak pernah lagi dia memakan manusia.

Setelah kejadian tersebut, orang tua itu pun menghilang dengan mengendarai sang monster Nian.

Barulah penduduk sadar bahwa orang tua tersebut adalah dewa yang turun ke dunia untuk menolong manusia.

Nian telah pergi, binatang buas lainnya juga takut berkeliaran, mereka masuk ke hutan-hutan. Sejak saat itu penduduk mulai dapat hidup tenang dan damai.

Sebelum pergi sang orang tua berpesan agar penduduk menaruh dekorasi yang terbuat dari kertas merah pada pintu-pintu dan jendela pada setiap akhir tahun, demi menangkal kembalinya si Nian, karena Nian takut warna merah.

Sejak itulah, menempel kertas merah menjadi kebiasaan.Namun tak jarang orang lupa mengapa harus menempel warna merah. Rata-rata, mereka hanya menyukai kemeriahan warna dan suasana yang dianggap dapat lebih menyemarakkan Perayaan Tahun Baru Imlek.

Ada versi lain mitos atau legenda tersebut. Di salah satu desa di negara China, terdapat seekor hewan buas yang disebut Nian. Secara harafiah, Nian berarti tahun.

Dia muncul setiap akhir tahun ke desa itu dan membuat penduduk desa gemetar ketakutan. Nian memakan apa saja yang ditemuinya. Hasil panen, binatang ternak, bahkan manusia. Oleh karena itu, pada hari kemunculan Nian di awal tahun, penduduk desa meletakkan makanan di depan pintu rumah mereka. Khusus, untuk hewan pemangsa itu.

Pada suatu hari, ada sekelompok anak kecil yang bermain-main pada hari kemunculan Nian. Mereka lupa kalau Nian akan datang di saat itu. Dengan asyiknya, mereka menyalakan petasan. Ternyata, Nian tidak berani mendekati salah seorang anak yang memakai baju berwarna merah.

Dia hanya berani mendekati anak-anak dengan baju berwarna lain. Untunglah, pada saat Nian mendekat, petasan-petasan ramai meledak. Nian berlari ketakutan menuju hutan dan bersembunyi selama setahun penuh.

Penduduk desa pada akhirnya tahu kelemahan hewan buas bersisik emas itu. Hewan pemangsa itu takut dengan suara petasan dan warna merah. Maka, sejak saat itu, penduduk desa mengatur siasat agar Nian tidak datang dan memangsa orang-orang desa.

Setiap tanggal 1 bulan 1 kalender China, mereka selalu mengenakan pakaian berwarna serba merah. Di depan rumah-rumah mereka, dipasang rentengan petasan, lentera, dan gulungan kertas berwarna merah menyala.

Penduduk desa juga serentak bersembahyang untuk memohon perlindungan. Selain itu, mereka membagikan angpao. Maksudnya adalah untuk membuang sial, serta menarik rezeki dan keselamatan. Adat pengusiran Nian setiap awal tahun akhirnya berkembang menjadi sebuah perayaan. Guo Nian, yang berarti mengusir Nian diartikan sebagai perayaan menyambut tahun baru.

Sejak saat itu, Nian tidak berani kembali ke desa. Keberadaan Nian tidak diketahui hingga akhirnya tertangkap oleh seorang pendeta Tao bernama Hongzun Laozu. Nian kemudian menjadi kendaraan pribadi pendeta tersebut.

Sejarah Imlek
Imlek jatuh pada tanggal yang berbeda-beda, yaitu antara tanggal 21 Januari sampai 20 Februari.Hal itu berdasarkan penghitungan dalam kalender Tionghoa, titik balik matahari musim dingin harus terjadi di bulan 11, yang berarti Tahun Baru Imlek biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin (dan kadang yang ketiga jika pada tahun itu ada bulan kabisat).

Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China.

Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian).

Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.

Ada versi lain pola penghitungan Imlek. Kata Imlek berasal dari dialek bahasa Hokkian yang berarti penanggalan bulan atau yinli dalam bahasa Mandarin. Tahun Baru Imlek di Tiongkok lebih dikenal dengan sebutan Chunjie (perayaan musim semi). Kegiatan perayaan itu disebut Guo nian (memasuki tahun baru), sedang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan konyan.

Di Indonesia mereka merayakan Tahun Baru Imlek sebagai perayaan hari lahirnya Kong Hu Chu yang lahir di tahun 551 SM, sehingga dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan Masehi itu berselisih 551 tahun. Jika tahun Masehi saat ini 2008, maka tahun Imleknya menjadi 2008 + 551 = 2559.

Namun, di luar Indonesia, mereka merayakan tahun baru Imlek bukannya tahun 2559 melainkan tahun 4645, sebab dalam sejarah tercatat, bahwa penanggalan Imlek dimulai sejak tanggal 8 Maret 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti 2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya.

Jadi tepatnya ialah 4645 tahun yang lampau, maklum bagi mereka tahun baru Imlek hanya berdasarkan perayaan budaya.

Penghitungan Berdasar Kalender Lunar China
Kalender lunar China merupakan kalendar yang tertua di dunia, digunakan sejak 2600 Sebelum Masehi. Pengggunaan kalender ini diperkenalkan maharaja Huang Ti. Seperti kalender barat, kalender lunar China juga berdasarkan pergantian tahunan yang mana permulaan tahun dimula berdasarkan pergantian bulan. Oleh sebab itu, permulaan tahun bagi kalender China jatuh di sekitar bulan Januari dan Februari.

Satu putaran lengkap bulan mengelilingi bumi memakan masa selama 60 tahun dan terdiri daripada 5 putaran yang setiap satunya memakan masa selama 12 tahun. Kalendar lunar China menamakan setiap tahun berdasarkan 12 binatang.

Masyarakat China percaya bahawa setiap manusia yang lahir mempunyai pengaruh terhadap personaliti dan sikap berdasarkan binatang yang dinamakan pada tahun manusia tersebut dilahirkan.

Tikus
1924 1936 1948 1960 1972 1984 1996

Lembu
1925 1937 1949 1961 1973 1985 1997

Harimau
1926 1938 1950 1962 1974 1986 1998

Arnab
1927 1939 1951 1963 1975 1987 1999

Naga
1928 1940 1952 1964 1976 1988 2000

Ular
1929 1941 1953 1965 1977 1989 2001

Kuda
1930 1942 1954 1966 1978 1990 2002

Kambing
1931 1943 1955 1967 1979 1991 2003

Monyet
1932 1944 1956 1968 1980 1992 2004

Ayam
1933 1945 1957 1969 1981 1993 2005

Anjing
1934 1946 1958 1970 1982 1994 2006

Babi
1935 1947 1959 1971 1983 1995 2007


Sebenarnya penanggalan Tionghoa dipengaruhi oleh 2 sistem kalender, yaitu sistem Gregorian dan sistem Bulan-Matahari, dimana satu tahun terbagi rata menjadi 12 bulan sehingga tiap bulannya terdiri dari 29 ½ hari.

Penanggalan ini masih dilengkapi dengan pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam, sehingga pembagian musim ini terbukti amat berguna bagi pertanian dalam menentukan saat tanam maupun saat panen.

Di bawah ini adalah beberapa contoh dari pembagian 24 musim tersebut:
- Permulaan musim semi. Hari pertama pada musim ini adalah hari pertama Perayaan Tahun Baru, atau saat dimulainya Perayaan Musim Semi (Chun Jie).
- Musim hujan, saat hujan mulai turun.
- Musim serangga, saat serangga mulai tampak setelah tidur panjangnya selama musim dingin.
- Dan masih banyak lagi. Masih terdapat 21 musim lain.

Selain dari pembagian musim di atas, dalam penanggalan Tionghoa juga dikenal istilah Tian Gan dan Di Zhi yang merupakan cara unik dalam membagi tahun-tahun dalam hitungan siklus 60 tahunan. Masih ada lagi hitungan siklus 12 tahunan, yang kita kenal dengan Shio, yaitu Tikus, Sapi, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi.

Kesimpulannya, penanggalan Tionghoa tidak hanya mengikuti satu sistem saja, tetapi juga ada beberapa unsur yang memengaruhi, yaitu musim, 5 unsur, angka langit, shio, dan lain-lain.

Walaupun demikian, semua perhitungan hari ini dapat terangkum menjadi satu sistem Penanggalan Tionghoa yang baik, lengkap dan harmonis bahkan hampir bisa dikatakan sempurna karena sudah mencakup Koreksinya juga.

Kebiasaan Menyembunyikan Sapu
Menurut legenda, pada jaman dahulu terdapat seorang pedagang bernama Ou Ming yang selalu berpergian menggunakan perahu untuk menjalankan usahanya.

Suatu hari Ou sedang naik perahu di Danau Pengze. Tiba-tiba badai menghadang, sehingga perahu terdampar pada sebuah pulau. Ditengah kebingungan karena perahu rusak berat dan tidak dapat dipakai untuk meneruskan perjalanan, datang seorang bernama Qing Hongjun, pemilik dari pulau tersebut.

Qing mengundang Ou ke kediamannya dan menjamu Ou dengan hangat. Sebagai kenang-kenangan atas kunjungan Ou, Qing berminat memberikan sebuah tanda mata. Ou dipersilahkan memilih barang yang disukainya dari begitu banyak barang permata yang ada di rumah Qing.

Pada saat seorang pelayan Qing menghidangkan teh bagi Ou, secara tidak sadar terucap bahwa Ru Yuan adalah harta yang paling berharga.

Ou mendengarkan hal itu dan berpikir siapakah Ru Yuan itu. Namun dia memastikan bahwa Ru Yuan sangat berharga.

Akhirnya Ou meminta Ru Yuan kepada Qing. Meskipun pada awalnya Qing ragu, namun akhirnya Ru Yuan diberikan kepada Ou. Ternyata Ru Yuan adalah seorang pembantu wanita di rumah Qing yang sangat cantik.

Qing lalu mempersiapkan perahu untuk Ou. Pada saat perpisahan, Qing memberikan satu peti permata kepada Ru Yuan. Melihat permata yang sangat banyak, timbul pikiran jahat pada Ou untuk memiliki permata tersebut bagi dirinya sendiri.

Setibanya di rumah, Ou melayani Ru Yuan sangat baik. Sehingga lama kelamaan Ru Yuan terlena dan memberikan kunci peti permata kepada Ou.

Begitu mendapatkan kunci peti permata, sifat Ou langsung berubah total. Ru Yuan diperlakukan secara buruk dan disuruh bekerja keras siang dan malam. Menghidangkan teh, memasak, mencuci pakaian, dan banyak lainnya.

Suatu hari pada hari pertama Perayaan Tahun Baru Imlek, Ou berpikir bahwa Ru Yuan terlalu malas, karena baru bangun pada saat ayam berkokok, sehingga memukuli Ru Yuan.

Tidak tahan, Ru Yuan lari. Ou tidak tinggal diam, dia mengejar.Melihat sebuah sapu tersandar pada pohon, Ru Yuan memutuskan untuk menghilang ke dalam sapu. Bersamaan dengan menghilangnya Ru Yuan, semua harta benda dan permata yang ada di rumah Ou turut terbang dan menghilang ke dalam sapu.

Ou hanya bisa terpaku menyaksikan semuanya. Melaratlah Ou sejak saat itu.

Jadi orang-orang menyembunyikan sapu, dan segala macam pembersih lainnya, untuk menghindari segala hal yang diharapkan hilang tersapu.

Dipercaya, agar rezekinya tidak tersapu habis keluar, maka diwajibkan menyembunyikan sapu, karena ada pantangan dimana tidak boleh menyapu dalam rumah pada hari Imlek dan dua hari sesudahnya.

Tradisi Memberi Angpao dan Sungkeman
Konon Angpauo ini bukan hanya sekedar dapat membawa keberuntungan saja, bahkan dapat melindungi anak-anak dari roh jahat, sebab uang (qian) secara harfiah berarti dapat menekan kekuatan jahat atau ya sui qian,

Masalahnya ada roh jahat yang bernama Sui, yang selalu hadir setahun sekali untuk mengganggu anak-anak kecil, maka dari itu diusulkan sebagai penangkal roh tersebut, sebaiknya ditaruh koin yang dibungkus dengan kertas merah di bawah bantal mereka. Maklum unsur api yang membakar pada warna merah dapat melindungi dari pengaruh jahat.

Bagi yang belum menikah, mereka layak untuk menerima angpao. Pemberian uang atau angpao ini adalah untuk mengucapkan selamat bagi tahun tersebut dan berharap memperoleh kekayaan dan nasib yang baik untuk tahun tersebut. Uang tersebut juga boleh digunakan untuk membayar hutang yang tertunggak.

Menurut adat kuno, yang boleh pergi keluar bersilahturahmi di hari pertama tahun baru Imlek, hanya kaum lelaki saja, tetapi sekarang adat ini sudah tidak berlaku lagi. Dan yang harusdikunjungi secara berturut-turut adalah orang tua suami, setelah itu orang tua isteri, selanjutnya ke sanak keluarga lainnya.

Saat bersilaturahmi, acara sungkeman dilakukan yang disebut tee-pai.Cara memberi salam atau soja yang benar berdasarkan pedoman yang dan yin, tangan kanan dikepal kemudian tangan kiri menutupi tangan kanan. Jari jempol berdiri lurus, dan menempel keduanya. Kepada yang lebih tua sejajar mulut, kepada yang sebaya; sejajar dada, kepada yang lebih muda sejajar perut, soja kepada para dewa sejajar mata, soja kepada Tuhan di atas kepala.

Memasang Petasan
Dipercaya tradisi memasang petasan bisa mendatangkan keberuntungan dan perdamaian sepanjang tahun. Petasan sudah ada sejak Dinasti Tang (618-907). Konon menjelang tahun baru Imlek sering berkeliaran monster jahat yang bernama Guo Nien, monster ini selalu lari ketakutan apabila mendengar bunyi mercon, apalagi kalau melihat cahaya kilat yang keluar dari ledakan mercon tersebut.

Bermain mercon pada malam Tahun Baru juga satu cara untuk mengucapkan selamat tinggal kepada tahun yang akan ditinggalkan dan merayakan  tahun baru. Pada satu ketika di tengah malam tahun baru, semua pintu dan jendela mesti dibuka untuk membiarkan tahun yang lama pergi. Mercon juga sering dimainkan untuk menandakan musim perayaan yang akan tiba.

Pantangan Imlek
Seluruh kawasan rumah mesti dicuci sebelum tiba tahun baru. Pada malam tahun baru, semua sapu, alat pel dan semua jenis alat mencuci di simpan di tempat yang aman.

Menyapu dan mengemas tidak boleh dilakukan pada hari tahun baru, karena menurut kepercayaan masyarakat China, nasib baik akan disapu bersama dengan sampah-sampah tersebut. Selepas tahun baru, lantai rumah akan disapu, bermula dari pintu ke tengah rumah dan diletak di penjuru.

Sampah-sampah yang disapu itu tidak akan dibuang hingga hari ke 5 perayaan. Lampion merah digantung selama perayaan Tahun Baru Imlek sebagai makna keberuntungan.

Semua hutang harus dibayar saat tahun baru Imlek. Semua orang perlu menjaga tingkah lakusatu sama lain. Dilarang sama sekali menggunakan perkataan-perkataan kotor yang membawa maksud sial dan tidak baik.

Dilarang sama sekali menangis pada tahun baru, karena dikhawatirkan orang tersebut akan menangis sepanjang tahun tersebut.

Pada hari tahun baru, dilarang sama sekali mencuci rambut, karena akan mengakibatkan orang tersebut mambasuh pergi segala nasib baik untuk tahun baru itu. Pakaian merah dianjurkan dipakai. Merah dianggap warna cerah dan terang, yang memungkinkan pemakainya memperolehi masa depan yang terang. Dipercayai warna baju yang dipakai pada tahun baru menentukan nasib seseorang itu pada tahun tersebut.

Tradisi yang Umum Dilakukan
Walaupun puncak acara Perayaan Tahun Baru Imlek hanya berlangsung 2-3 hari termasuk malam tahun baru, tetapi masa tahun baru sebenarnya berlangsung mulai pertengahan bulan 12 tahun sebelumnya sampai pertengahan bulan pertama dari tahun yang baru tersebut.

Satu bulan sebelum tahun baru merupakan bulan yang bagus untuk berdagang, karena orang biasanya akan dengan mudah mengeluarkan isi kantongnya untuk membeli barang-barang keperluan tahun baru. Transportasipun akan terlihat mulai padat karena orang biasanya akan pulang ke kampung halaman untuk merayakan tahun baru bersama sanak saudara.

Beberapa hari menjelang tahun baru kesibukan dalam rumah mulai terlihat dimulai dengan pembersihan rumah secara besar-besaran bahkan ada yang mengecat baru pintu-pintu dan jendela. Ini dimaksud untuk membuang segala kesialan serta hawa kurang baik yang ada dalam rumah dan memberikan kesegaran dan jalan bagi hawa baik serta rejeki untuk masuk.

Acara dilanjutkan dengan memasang hiasan-hiasan tahun baru yang terbuat dari guntingan kertas merah maupun tempelan kata-kata harapan, seperti Kebahagiaan, Kekayaan, Panjang Umur, serta Kemakmuran.

Keluarga melakukan sembahyang terhadap leluhur, bermacam-macam buah diletakkan di depan altar.

Pada malam tahun baru, setiap keluarga akan mengadakan jamuan keluarga dimana setiap anggota keluarga akan hadir untuk bersantap bersama. Makanan populer pada jamuan khusus ini adalah Jiao Zi (semacam ronde). Setelah makan, biasanya mereka akan duduk bersama ngobrol, main kartu maupun game, atau hanya nonton TV. Semua lampu dibiarkan menyala sepanjang malam. Tepat tengah malam, langit akan bergemuruh dan gemerlap karena petasan. Semua bergembira.

Keesokan harinya, anak-anak akan bangun pagi-pagi untuk memberi hormat dan menyalami orang tua maupun sanak keluarga dan mereka biasanya akan mendapat Ang Pau. Acara dilanjutkan dengan mendatangi saudara yang lebih tua atau tetangga. Ini adalah saat yang tepat untuk saling berdamai, melupakan segala ketidakcocokan.

Suasana tahun baru berakhir 15 hari kemudian, bersamaan dengan dimulainya Perayaan Lentera. Lentera warna-warni aneka bentuk akan dipasang memeriahkan suasana, tarian tradisional digelar. Makanan khas pada saat itu adalah Yuan Xiao, semacam ronde yang lain.

Walaupun banyak legenda atau mitos yang menyertai serta ada tradisi dan kebiasaan yang berbeda tetapi ada satu semangat yang sama dalam merayakan Imlek, yaitu suatu harapan akan kedamaian, kebahagiaan keluarga, teman-teman dan penduduk dunia lainnya.

Selamat Tahun Baru China!

Penulis: