Hana Madness: Seni Membantu Saya Mengatasi Gangguan Jiwa

Hana Madness: Seni Membantu Saya Mengatasi Gangguan Jiwa
Seniman doodle sekaligus aktivis kesehatan jiwa Hana Alfikih, biasa dipanggil Hana Madness. ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FMB Kamis, 11 Oktober 2018 | 11:30 WIB

Jakarta - Masalah kesehatan mental remaja dan anak muda jadi fokus pembahasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Hari Kesehatan Jiwa tahun ini yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2018. Dikutip dari situs resminya, WHO menyebut kesehatan jiwa remaja dan anak muda sering kali terabaikan dan dianggap remeh. Padahal, masalah kejiwaan dan gangguan jiwa bisa muncul sejak usia 14 tahun.

Hal ini juga disampaikan oleh seniman doodle sekaligus aktivis kesehatan jiwa Hana Alfikih, biasa dipanggil Hana Madness. Ia menceritakan bahwa sejak duduk di bangku SD, ia sudah merasakan ada yang salah dengan dirinya yang tidak bisa mengatur emosi dengan baik.

Situasi semakin sulit saat Ia berada di tingkat SMP, pasalnya Hana mengaku kerap mengalami perlakuan yang tidak semestinya dari lingkungan terdekat. Mulai dari dikurung di rumah, hingga beberapa kali dirukiah. Baru kemudian, pada 2010 ia mendapat diagnosa bipolar disorder atau gangguan mental yang ditandai perubahan suasana hati ekstrem, dari mania (bahagia).

“Aku sangat ekstrem dan psikotik sekali. Saat SMP aku merasa tidak punya siapa-siapa, karena jarang pulang, menggelandang. Kalau di rumah aku juga selalu nangis, menyakiti diri, bahkan mencoba bunuh diri beberapa kali. Sampai pada keluar masuk bangsal psikiatri,” ungkapnya kepada SP, beberapa waktu lalu di kawasan Jakarta Pusat.

Ketika merasa kesepian dan tidak ada tempat untuk berteduh, dirinya mencoba menuangkan emosi dan bercerita pada pensil dan sketchbook. Sejak itu, ia tidak pernah meninggalkan benda itu kemana pun ia pergi, termasuk sekolah.

“Tidak ada buku pelajaran yang aku bawa selain pensil dan sketchbook. Semakin dianggap aneh sama teman-teman. Tetapi akhirnya aku membuktikan, setelah lulus SMA desain doodle yang aku buat dilirik salah satu perusahan besar untuk dicetak menjadi cover korek api dan tersebar ke seluruh Indonesia,” cerita perempuan kelahiran Oktober 1992 ini.

Saat ini ia mengatakan bahwa belum sepenuhnya sembuh dari gangguan kejiwaan. Namun, dengan hadirnya seni di kehidupannya ternyata mampu mendorong Hana untuk terus bangkit dari keterpurukan.

“Dulunya aku selalu melawan. Menolak sama keadaan diri dan selalu menyalahkan orang lain. Sekarang sudah nggak lagi. Aku jadi bisa menerima kondisi, dan membiarkan depresi dan halusinasi itu di diri aku. Aku fokus berkarya dan menjadikan itu sebagai senjata yang ampuh untuk menjaga kewaarasan. Selain itu, seni bisa menggantikan suara teriakan aku dalam mengutarakan emosi,” ungkapnya.

Atas komitmennya yang kuat, beberapa tahun lalu, Hana Madness dikirim ke British Council Indonesia untuk mengikuti Unlimited Festival di London, Inggris. Festival karya seni yang memuat hasil seni dari orang-orang yang berkebutuhan khusus. Jenis seni yang dihasilkan oleh orang-orang seperti Hana dikenal sebagai Art Brut. Genre seni ini diinisiasi oleh Adolf Wolfli (1864-1930). Wolfli merupakan pasien rumah sakit jiwa di Swiss sejak 1899.

Edukasi Luas
Setelah bangkit, kini ia memiliki keinginan yang kukuh untuk menyosialisasikan bagaimana cara penanganan terbaik untuk orang-orang yang mengidap kesehatan jiwa. Hal ini menjadi sorotan utamanya, karena melihat masyarakat Indonesia masih banyak yang menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang tabu dan dianggap sebagai aib keluarga.

“Harapanku di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia adalah ingin agar masyarakat dapat lebih terbuka dalam menerima isu ini. Karena kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Pengetahuan seperti ini sangat penting untuk disebarluaskan terutama bagi mereka yang berada diluar daerah, yang masih menganggap hal ini tabu. Dan teruntuk teman-teman di luar sana yang masih atau sedang berjuang dengan kondisi kejiwaan, jangan pernah menyerah! Aku tahu ini sulit, tetapi nikmatilah setiap prosesnya, dan berusahalah untuk berdamai dengannya. Kamu tidak sendiri!,” ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE