Teater Bawi Lamus

Menengok Dilematik Alam di Kalimantan Tengah

Menengok Dilematik Alam di Kalimantan Tengah
Pertunjukan teater bertajuk Bawi Lamus yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Minggu 14 Oktober 2018. ( Foto: dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Minggu, 14 Oktober 2018 | 08:20 WIB

Jakarta - Sebuah lagu dengan lirik yang syahdu dinyanyikan seorang wanita cantik dari tanah Dayak bernama Bawi Lamus (Sophia Latjuba). Suara indah dengan senandung lirih itu terndengar di tengah kedalaman hutan belantara Kalimantan, yang kini kekayaannya mulai terancam karena kerakusan para penguasa bumi, yaitu manusia.

Tidak hanya Bawi Lamus yang merasa perih, kelompok binatang langka seperti burung Tingang dan Orang Utan pun berlarian sampai tertatih. Penebangan dan pembakaran hutan, pengeboran batu bara, dan pemburuan Orang Utan liar yang ‘dihalalkan’ secara sepihak, membuat Ibu Pertiwi menangis tiada henti hingga kini.

Inilah sepenggal potret situasi dilema, di tengah pesona alam Kalimantan Tengah yang menakjubkan. Potret dilema menjadi santapan pembuka pertunjukan Bawi Lamus.

Pertunjukan yang jalan ceritanya ditulis oleh Paquita Widjaja Rustandi dipentaskan di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (13/10) dan Minggu (14/10).

Pentas teater menjabarkan bagaimana kekayaan alam Kalimantan yang kini tereksploitasi. Kisah sedih Kalimantan juga dikemas dengan keunikan tarian-tarian tentang perkawinan, yaitu Wurung Juei. Tari ini diiringi oleh permainan alat musik Garantung, yang dimainkan di atas rumah Betang.

Bawi Lamus juga mengupas bagaimana sejarah besar Kalimantan Tengah yang jarang diketahui masyarakat urban saat ini, yaitu Tumbang Anoi. Sebuah desa yang menjadi tempat bersejarah bagi suku Dayak, karena di sana digelar Rapat Damai Suku Dayak pada tanggal 22 Mei sampai dengan 24 Juli 1894.

Rapat itu, antara lain menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri pertikaian sesama suku Dayak dan tradisi “mengayau” atau memenggal kepala manusia. Untuk itulah, tarian Tumbang Anoi turut diperlihatkan, lengkap dengan atraksi api yang memukau.


Minim Narasi
Dalam teater Bawi Lamus, dikatakan sang sutradara Inet Leimana, penonton diajak untuk berkhayal narasi. Mengapa? Sebab dalam teater sangat minim dialog? Semua narasi yang terdiri dari informasi dan kritik sosial disampaikan melalui tarian dan nyanyian.

Inet percaya bahwa lewat tarian penonton lebih mudah menangkap pesan yang akan disampaikan, dibandingkan harus menggunakan dialog yang belum tentu bisa dicerna semua pihak.

Memang benar adanya, pertunjukkan Bawi Lamus seakan melarang mata penonton berkedip. Semua penari dengan detail properti yang mumpuni membuat penonton merasa sangat terhibur, terpaku, dan berhasil membuat emosi penonton dimainkan.

Tentu, keberhasilan ini tidak bisa terkabul bila tidak ada nama-nama besar di balik layar. Dari sisi visual Bawi Lamus memilih Jay Subyakto untuk menangani pertunjukan yang penuh simbol. Jay sengaja memberikan visual efek yang sangat memukau, bahkan penonton merasa seperti sedang menonton pertunjukkan film 3D.

“Bawi Lamus menggunakan efek multimedia yang disorot langsung oleh proyektor dari dua sisi sekaligus, sehingga membentuk beberapa lapis. Hal ini tentunya akan memberikan gambaran yang lebih natural, lengkap dengan kedalamannya. Harapannya dengan visual modern, bisa menggugah kaum milenial yang sering kali menutup mata, untuk melihat lebih jauh bagaimana keadaan dan kondisi bumi pertiwi saat ini,” terangnya kepada SP usai pementasan, Jumat (12/10). 



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE