Menggetarkan, Konser Musik Indonesia di Selandia Baru

Menggetarkan, Konser Musik Indonesia di Selandia Baru
Konser musik "The Symphony of Friendship" di Opera House, Wellington, Selandia Baru, yang digelar oleh Kedutaan Besar RI, 9 November 2018. ( Foto: Beritasatu / Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / HA Jumat, 9 November 2018 | 20:43 WIB

Wellington - Hanya satu kata, "menggetarkan", untuk menggambarkan kesan terhadap konser bertajuk Symphony of Friendship yang digelar Jumat (9/11) malam di Opera House, Wellington, ibukota Selandia Baru. Selama 90 menit, para penonton disuguhi lagu-lagu Indonesia dan Maori yang dibawakan artis penyanyi Indonesia dan Selandia Baru. Meski dalam iringan orkestra, para penonton ikut bergoyang saat penyanyi asal Nusa Tenggara Timur membawakan lagu Gemu Famira dan penyanyi Papua menyanyikan lagu Rame-Rame dan Pangkur Sagu.

Diiringi Orkestra Wellington dengan konduktor Erwin Gutawa dan Justine Cormack, para penyanyi Indonesia dan Maori, suku asli Selandia Baru, benar-benar menghibur dan membuat penonton tenggelam dalam perasaan haru. "Saat lagu Bolelebo, saya meneteskan air mata," ujar seorang penonton asal Indonesia. Dari Indonesia, tampil Edo Kondologit, penyanyi asal Papua, Andmesh Kamaleng asal NTT, dan Gita Gutawa dari Jakarta. Sedang Selandia Baru menampilkan Solis dari etnik Maori, penyanyi cantik Maisey Rika, dan penyanyi pria Tama Waipara.

Ketika Andmesh Kamaleng dan Tama Waipara berduet lagu "Mimpi Sedih" karangan Aloysius Ariyanto, sekitar 1.300 penonton kembali tenggelam dalam keharuan. Tama menyanyikan lagu Mimpi Sedih dalam bahasa Maori dengan makna lirik yang tidak lagi sama dengan teks asli. Lagu yang dipopulerkan Broery Pesolima ini sangat populer di negara-negara Pasifik. Namun, liriknya menggunakan bahasa setempat.

Selain lima penyanyi, konser persaudaraan yang diadakan Kedutaan Besar Indonesia di Selandia Baru ini juga menampilkan koor anak-anak Selandia Baru. Mereka juga menyanyikan lagu Indonesia Raya selain lagu Kebangsaan Selandia Baru. Orkestra terdiri atas 55 pemain Selandia Baru, yang merupakan pemain inti Orchestra Wellington, ditambah delapan pemain musik dari Indonesia.

Konser musik ini ditonton langsung oleh warga Selandia Baru, termasuk puluhan orang etnik Maori, utusan dari negara-negara Pasifik, dan warga Indonesia yang tinggal di sana maupun 150 orang yang datang dari Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia. Dari kalangan pejabat Selandia Baru, tampak hadir Ketua Parlemen Trevor Mallard dan Menteri Kehakiman Hon Andrew Little. Sedang dari Indonesia, hadir Ketua DPR RI Bambang Soesatyo dan sejumlah anggota dewan, yakni Yorrys Raweyai, Akbar Faisal, dan Misbakhun. Dari kalangan swasta, hadir Chairman Panasonic Gobel Indonesia Rachmat Gobel.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo dalam kata sambutannya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Selandia Baru yang sudah memberikan bantuan kepada para korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan para korban tragedi Lion Air di Karawang. Ia menilai positif diplomasi budaya yang diadakan Kedubes Indonesia di Selandia Baru. Indonesia dan negara-negara Pasifik mempunyai akar budaya yang sama.

Sedang Ketua Parlemen Selandia Baru Trevor Mallard menyatakan apresiasinya kepada Kedubes Indonesia yang sudah berusaha mempererat hubungan Indonesia dan Selandia Baru, antara lain lewat konser musik.

Dari kiri: Ketua Parlemen Selandia Baru Trevor Mallard, Dubes Tantowi Yahya, dan Ketua DPR Bambang Soesatyo di sela konser "The Symphony of Friendship" yang digelar di Opera House, Wellington, Selandia Baru, 9 Nov. 2018.

Konser musik ini menjadi unik karena yang tampil sebagai pemandu acara adalah Dubes Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya. Sebagai penggagas dan pelaksana konser serta latar belakang sebagai seniman dan master of ceremony, Tantowi membuat acara lebih hidup.

Diplomasi Budaya
Konser musik, kata Tantowi, bertujuan untuk meningkatkan hubungan Indonesia dan Selandia Baru, serta secara khusus untuk mempererat ikatan tali budaya bangsa Indonesia dengan etnik Melanesia dan Polinesia di negara-negara yang berada di Kawasan Pasifik yang saat ini mencapai 18.

"Kita hendak membuktikan dengan musik bahwa secara budaya, kita satu," kata Tantowi. Lagu Papua, Maluku, dan NTT menunjukkan kesamaan, baik dalam alunan nada dan lirik. Alunan nada bergelombang seperti lautan, sedang syair banyak bercerita soal pentingnya menjaga kelestarian alam di samping hubungan antarsesama manusia.

Sejarah, demikian Tantowi, sudah membuktikan bahwa diplomasi politik yang ofensif umumnya berujung kegagalan. Sedang diplomasi budaya lebih mengena perasaan manusia.

Hingga saat ini, demikian Dubes, ada pemahaman yang keliru dari etnik Melanesia dan Polinesia yang berdiam di Kawasan Pasifik terhadap Indonesia. Mereka menilai Indonesia adalah hanya bagian dari Asia dan hanya memeluk satu agama tertentu. Pandangan ini sama sekali tidak benar dan bertolak belakang dengan realitas.

Dalam kenyataan, Indonesia memiliki lima provinsi yang secara geografis berada di Kawasan Pasifik. Kelima provinsi itu adalah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sedang dari sisi etnik, tiga provinsi -- Papua, Papua Barat, dan NTT-- adalah Melanesia, sedang Maluku dan Maluku Utara adalah Polinesia.

"Indonesia tidak salah kalau mengklaim sebagai negara di Pasifik dan secara etnik adalah juga Melanesia dan Polinesia," kata Tantowi. Dengan kesadaran ini, negara-negara di Pasifik bisa bekerja sama lebih erat dan Indonesia berada bersama 18 negara di Pasifik.

"Di Indonesia ada sekitar 11 juta lebih etnik Melanesia dan Polinesia yang mendiami lima provinsi. Jumlah itu, lebih dari 60% etnik Melanesia dan Polinesia di Kawasan Pasifik," papar Tantowi. Etnik Melanesia berada di Papua, NTT, Vanuatu, Salomon Island, dan Papua Nugini. Salah satu cirinya adalah warna kulit yang hitam. Sedang Polinesia adalah orang Hawai, Maori, Samoa, Tonga, dan Maluku. Salah satu ciri etnik Polinesia adalah kulit hitam tetapi sudah kecoklat-coklatan.

"Saya yakin, budaya adalah instrumen paling cepat dan efektif, menghujam ke relung hati pihak yang hendak kita rangkul," ungkap Tantowi, yang menjabat Dubes Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa, dan Tonga. Tugas Tantowi tidak saja meningkatkan volume perdagangan dan jumlah wisatawan, tetapi juga misi khusus untuk mempererat hubungan Indonesia dengan negara-negara di Pasifik.

Pegelaran konser "Symphony of Friendship" ditonton oleh negara-negara di Pasifik. "Tadi ada TV Maori yang meliput utuh dan televisi ini biasanya ditonton oleh semua negara di Pasifik," jelas Dubes.

Para penonton konser musik "The Symphony of Friendship" yang digelar Kedutaan Besar RI di Opera House, Wellington, Selandia Baru, 9 Nov. 2018. (Primus Dorimulu)

Konser musik ini merupakan acara puncak peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Selandia Baru. Acara ini diisi dengan pameran produk Indonesia, seminar, dan konser musik. Dubes mengatakan, acara konser didukung penuh oleh pemerintah, BUMN, swasta dari Indonesia, serta pemerintah Selandia Baru.

Bukan hanya para artis penyanyi yang mendapat apresiasi. Konduktor Erwin Gutawa juga mendapat banyak pujian sebagai salah satu konduktor dunia terbaik saat ini. Sedang Rachmat Gobel secara khusus mengapresiasi langkah Tantowi Yahya yang sudah sukses menggunakan pegelaran musik sebagai diplomasi budaya.

Tantowi menilai acara konser yang digelarnya berjalan sesuai rencana. Ia mengucapkan apresiasi kepada semua pihak, khususnya pemerintah dan korporasi dari Indonesia dan pemerintah Selandia Baru yang sudah memberikan dukungan penuh.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE