Menyelamatkan Mata Air dengan Upacara Kebo Ketan

Menyelamatkan Mata Air dengan Upacara Kebo Ketan
Para penari Solo berlatih Bedaya Kebo Ketan yang nantinya dipentaskan perdana di Upacara Kebo Ketan 2018. ( Foto: Dwi Surni )
Bernadus Wijayaka / BW Sabtu, 10 November 2018 | 22:38 WIB

Jakarta- Ratusan seniman dari berbagai daerah di Indonesia akan memeriahkan Upacara Kebo Ketan (UKK) di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi, Jawa Timur, 23-25 November mendatang.

UKK, yang disutradarai Bramantyo Prijosusilo, Godeliva D Sari, dan Giyono Dhatnyenk, merupakan sebuah karya seni kejadian berdampak, yang dibuat oleh LSM Kraton Ngiyom bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, warga Desa Sekaralas dan Sekarputih, serta ratusan seniman.

Selain menyelamatkan mata air Sendang Margo dan Sendang Ngiyom dan mengembalikan fungsi hutan di kawasan Alas Begal di Ngawi, secara khusus UKK juga berfungsi sebagai ruang serbuk silang kreativitas seni rakyat Nusantara. Oleh karena itu, tahun ini berbagai karya seni kreatif dari berbagai daerah diberi ruang luas untuk tampil dan saling memengaruhi.

Karya seni itu, antara lain pentas ketoprak dari kelompok Puspo Budoyo yang terkenal di Ngawi. Mereka membawakan lakon Setyowati Winisuda, atau Setyowati Ratu. Ada beberapa bintang tamu yang akan tampil, yakni Endah Laras, Bonita Adi, AB Setiadji, dan Kodok Ibnu Sukodok. Ketoprak digelar pada 23 November.

Selanjutnya, digelar pula Garebeg Maulud atau dikenal juga sebagai Sekaten pada masa diciptakannya berfungsi menguatkan kohesi sosial di masyarakat Jawa yang terpecah dua, yakni para penganut agama lama dan baru.

Di ruang dan waktu Sekaten itu kedua golongan itu sama-sama dimanusiakan. Yang ingin menikmati gamelan, telor merah, kerbau sakral, gunungan, diberi tempat, dan yang ingin mengucapkan Syahadat juga diberi tempat. Adapun dewasa ini fungsi penguat kohesi sosial upacara Garebeg Maulud ini sudah pudar dan masyarakat sudah terbelah menjadi lebih banyak dari sekedar dua golongan.

Selain menyanyikan lagu Indonesia Raya lengkap 3 stanza dipimpin oleh Petrus Briyanto Adi, ada juga ceramah agama, seni dan kebudayaan dari KH Zastrouw Al-Ngatawi, dan juga mengundang tampil KH. Yahya Cholil Staquf, Khatib Am PBNU, ada perwakilan Katholik memimpin menyanyikan Indonesia Raya lengkap 3 stanza, ada Rama Padma Vhira Dharma Sogatadari agama Kasogatan Jawa, ada Dirajo Maharajo dari agama Hindu Buddha Sriwijaya, dan ada Okky Satrio Djati dari agama Sunda Wiwitan melakukan upacara sakralisasi perarakan dan penyembelihan Sang Kebo Ketan.

UKK juga bercita-cita membantu kebangkitan seni budaya nasional sehingga ia juga menjadi arena “serbuk silang kreativitas”.

Puncak UKK pada 24 November akan dimulai pada pagi hari di Rumah Tua Sekaralas pada pukul 08.00 dengan selamatan dan diteruskan dengan pengguyangan Sang Kebo Ketan dan penghiasannya. Mulai pukul 16.00, di Rumah Tua akan dilaksanakan upacara-upacara sakralisasi oleh pemuka agama Kasogatan Hindu Jawa, Hindu Buddha Sriwijaya dan Sunda Wiwitan, dengan musik sakralisasi oleh Galih Naga Seno.

Acara terakhir adalah penampilan singkat Bonita & the Hus Band membawakan repertoar yang khusus disusun untuk UKK.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE