Salah satu iring-iringan sesaji Suku Sasak.
Film garapan sutradara Sandi Amaq Rinjani itu bercerita tentang  persoalan perempuan dan hilangnya kearifan lokal karena derasnya  moderenisasi.

Mengambil seting kehidupan perempuan di perkampungan adat masyarakat Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sandi ingin menceritakan posisi perempuan saat ini.  Perempuan sebagai ibu, sebagai pengajar, tulang punggung keluarga hingga fungsi sosialnya dalam keluarga dan masyarakat.

"Disini kami memotret tentang isu-isu perempuan seperti kekerasan, akses kesehatan hingga benturan budaya lokal dalam arus globalisasi saat ini," ujar Sandi, di Jakarta, hari ini.

Film itu memang jauh dari tema utama film komersial saat ini yang  cenderung menjual kisah horor dan sensual. Sandi berpandangan, salah  satu fungsi film Indonesia yang kini mulai hilang adalah kesadaran untuk mengangkat akar budaya Indonesia itu sendiri.

"Setidaknya kita mulai dari hal yang kita bisa. Kami ingin menceritakan  kembali tentang sejarah dan budaya serta kronik persoalannya melalui cerita keseharian masyarakat Sasak di Lombok," tambahnya.

Selain mengangkat isu berbeda, film yang akan diputar perdana di Blitz  Megaplex, Grand Indonesia ini menampikan wajah-wajah baru dalam  perfileman nasional. Seperti Edwin Sukmono, Aufa Asfarina Febrianggie, Azhar Zaini dan lainnya.

Selain cerita yang berbeda, film ini akan menyuguhkan panorama pedalaman desa Sembalun di lereng Gunung Rinjani yang eksotis.

"Semoga film ini bermanfat dan diterima masyarakat," harapnya.

Film ini bercerita tentang perempuan yang kurang mendapatkan edukasi, tindak kekerasan terhadap TKW, kematian ibu melahirkan hingga posisi marjinal perempuan dalam tatanan sosial. Inilah beberapa persoalan yang dialami perempuan di Indonesia saat ini.

Berangkat dari persoalan itu, sutradara muda Sandi Amaq Rinjani, berupaya mengungkapkan kegelisahannya tentang persoalan yang dihadapi perempuan melalui film "Perempuan Sasak Terakhir".

Film ini dibagi dalam  tiga alur cerita yang bermuara pada sebuah perkampungan adat masyarakat Sasak, Lombok, NTB tepatnya di Desa Sembalun, Lereng Gunung Rinjani.

Alur pertama mengisahkan tentang Riyan alias Sasak Adi (Edwin Sukmono). Dikisahkan Ryan lahir di kampung tersebut, namun karena ibunya meninggal saat melahirkannya maka ia, sedari kecil diasuh pamannya di Jakarta. Namun karena krisis ekonomi, sang paman tak lagi mampu membiayai  pendidikannya di ibukota. Ryan yang berusia 22 tahun pulang ke Lombok  untuk menemui ayah kandungnya.

Disinilah cerita bermula. Ryan yang terbiasa dengan budaya popular Jakarta, tiba di tanah kelahirannya yang masih kental dengan tradisi. Ia  merasa asing dan sulit menyatu dengan suasana baru tersebut.

Penulis: