Mencari Calon Pemimpin Masa Depan Lewat 'Menjadi Indonesia'

Mencari Calon Pemimpin Masa Depan Lewat 'Menjadi Indonesia'
Para penampil di Menjadi Indonesia ( Foto: Yanuar Rahman/Beritasatu.com )
Jumat, 13 Juli 2012 | 09:44 WIB
"Mengapa kita menjadi Indonesia? Haruskah kita menjadi Indonesia? Apakah kita belum menjadi Indonesia?"

Sebuah program yang merangsang dan mengasah kreativitas serta bakat kepemimpinan kaum muda yang diberi tajuk 'Menjadi Indonesia' yang merupakan sebuah kompetisi menulis esai untuk para mahasiswa di Indonesia dimulai pada Kamis (12/7) dan diresmikan di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta Pusat atas gagasan dan kerjasama dari Tempo Institute dan GE (General Electric).

Pada acara peluncuran tersebut, hadir sejumlah tokoh-tokoh seperti Goenawan Mohammad (penulis, budayawan), Handry Satriago (CEO GE Indonesia), Christine Hakim (bintang film senior), Riri Riza (penulis skenario, sutradara dan produser film) serta para mahasiswa peserta program Menjadi Indonesia.

Para tokoh-tokoh yang hadir itu kemudian diberi kesempatan untuk membacakan sebuah surat yang mereka tulis sendiri beserta para pemimpin dan pakar profesional di bidangnya masing-masing dalam tema 'Surat Dari dan Untuk Pemimpin' yang berisi pesan kepada anak muda Indonesia sebagai calon pemimpin di masa depan.

Goenawan Mohammad yang diberikan kesempatan pertama kali untuk membacakan suratnya memaparkan definisi tema program yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2009 ini.

"Mengapa kita menjadi Indonesia? Haruskah kita menjadi Indonesia? Apakah kita belum menjadi Indonesia? Saya di sini tidak bermaksud memberi jawaban. Saya hanya hendak membangun sebuah percakapan, pertanyaan-pertanyaan tadi adalah pertanyaan yang tidak bisa dielakkan, tapi memerlukan perenungan," ujarnya saat membacakan suratnya di depan para hadirin.

Goenawan kemudian melanjutkan pembacaan suratnya yang berisi tentang ajakan untuk merenungi apa yang telah dan tengah terjadi di Indonesia. Mulai dari perjuangan memperebutkan kemerdekaan, hingga perubahan politik seperti Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, hingga Reformasi.

"Maka 'Menjadi Indonesia' adalah menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak akan pernah selesai," tegasnya.

Acara pembacaan 'Surat Dari dan Untuk Pemimpin' kemudian dilanjutkan oleh Handri Satriago, Arif Zulkifli yang mewakili Thoriq Hadad selaku wartawan senior dan pemimpin grup Tempo Inti Media, Christine Hakim, dan Riri Riza. Kesemuanya menyampaikan ragam pendapat dan cara pandang mereka terhadap tanah air, namun memiliki satu harapan yang sama, yaitu menyambut Indonesia yang lebih baik dengan Menjadi Indonesia.

Semenjak diselenggarakan dalam empat kali penyelenggaraannya, gelaran Menjadi Indonesia setiap tahunnya mencatat rata-rata 1500 mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk berpartisipasi dalam penulisan esai ini.

"Dengan banyaknya jumlah siswa yang berpartisipasi, menandakan bahwa program ini disambut baik oleh anak-anak muda Indonesia," ucap Mardiyah Chamim selaku perwakilan dari Tempo Institute saat dijumpai di Galeri Nasional.

Bukan hanya sekedar kompetisi menulis esai, program ini bertujuan untuk mencari pemimpin masa depan Indonesia melalui serangkaian acar kunjungan ke beberapa kampus di Indonesia, Leadership Camp bagi 20 penulis esai terbaik, dimana mereka akan menjalani pelatihan jurnalistik, pelatihan kepemimpinan dan sekaligus bertemu dnegan tokoh-tokoh dan lembaga-lembaga yang mewakili dinamika kehidupan di Indonesia.

Handry Satriago yang merupakan petinggi GE Indonesia yang juga mendukung penuh acara ini menyatakan bahwa kegiatan semacam ini perlu diteruskan karena dapat membawa dampak positif bagi anak muda Indonesia. "Diharapkan bisa menghasilkan orang-orang yang bisa menulis, karena orang yang bisa menulis adalah orang yang bisa berpikir," katanya.

"Saya berpesan kepada anak muda Indonesia untuk jangan takut menyongsong masa depan. Kesusahan akan selalu ada. Memiliki sebuah mimpi akan membuat kalian lebih ringan menghadapi masalah," tutupnya
CLOSE