Ambon Jazz Plus Festival 2012

Bukti Ambon Kota Musik

Bukti Ambon Kota Musik
Dansa Tali di Ambon Jazz Plus Festival, Sabtu (14/10/2012) ( Foto: Joanito De Saojoao/ Suara Pembaruan )
Selasa, 16 Oktober 2012 | 07:44 WIB
Denyut kota Ambon adalah musik. Festival Jazz digelar hingga pukul lima dini hari.

Barangkali tak ada kota di Indonesia yang menggelar festival musik semalam suntuk. Tapi di Ambon Jazz Plus Festival 2012, musik dimainkan dari bakda isya' hingga shubuh, Sabtu (14/10/2012). Lapangan Merdeka menjadi saksi antusiasme warga Ambon dengan musik.

Bayangkan saja sejak pukul 19.00 Waktu Indonesia Timur, musisi dan band silih berganti.  Mereka tampil di dua panggung yaitu panggung Pala dan panggung Sagu. Band yang tampil pertama kali pada hari terakhir festival adalah Tele Project. lalu disusul paduan suara Haleluya Choir, Reo Moreno, Tarian Dansa Tali, Amadeus Choir. Ada juga band dari Serbia Bilja Kristic and Bistik Orchestra. Penyanyi dari Jakarta yang tampil adalah Calvin Jeremy, Narnia Idol, Citra Scholastika. Sebagai penutup penyanyi Solo asal Ambon yang terkenal seantero wilayah Indonesia Timur,  Doddie Latuharhary.  
 
Malam penutupan seperti sengaja dibuat untuk memuaskan penonton. Penampilan Dansa Tali mengingatkan pada tarian persatuan. Para penari terdiri laki dan perempuan yang berdansa dengan berpusat pada sebuah tali panjang yang bercabang puluhan. Mereka menari diiringi musik campuran Portugis, Belanda dan Perancis. Para penari secara bergantian saling tukar menukar tali.

Dansa Tali Untuk Persatuan
Dansa Tali, menurut Alexander Kalahatu, Guru di SD Kristen Belakang Soya A-2 Ambon yang juga pembina tarian pada malam itu, merupakan tarian khas Ambon. Tarian ini berasal dari Routong, sebuah wilayah di Ambon. "Tarian ini biasanya ditampilkan di hari-hari besar nasional dan untuk menyambut tamu yang datang ke Maluku," ujar Alex kepada Beritasatu.com.

Tarian kuno tersebut mulai populer kembali di Ambon sejak 2007. Para penari malam itu datang dari Sanggar Wae Ratang (air tanah) yang terbentuk pada 2010. Pada hari jadi Kota Ambon 7 September 2012, Alex Kalahatu dan kawan-kawan menampilkan tarian massal Dansa Tali yang melibatkan 692 siswa.

"Tarian itu sudah dijadikan muatan lokal dari SD sampai SMU. Tarian ini filosofinya bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Ini persekutuan yang indah," ujar Alex. Makanya para penari berasal dari lintas suku agama dan golongan.

Selain Dansa Tali, malam itu juga ditampilan Tarian Katreji. Sebuah tari yang dimainkan secara pasangan, laki dan perempuan. Para penari berlari-lari kecil secara lincah sambil bergandengan tangan. Tari ini hampir sama dengan tari-tarian Eropa pada umumnya karena Katreji juga merupakan suatu akulturasi dari budaya Eropa (Portugis dan Belanda) dengan budaya Maluku.

Setiap aba-aba dalam perubahan pola lantai dan gerak dalam tarian ini menggunakan bahasa Portugis dan Belanda. Tarian ini diiringi alat musik biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar.

Saking serunya pada malam itu, Walikota Ambon, Richard Louhenapessy dan Duta Besar Indonesia untuk Serbia, Djauhari Oratmangun, yang merupakan keturunan Maluku, ikut menari bersama. "Kita harus selalu bergandengan tangan, mengingat kita satu gandong: Maluku Manise. Kita bergandengan tangan, bergandengan hati untuk menjaga kota ini, menyejahterakan kota ini. Ini hanya sarana untuk kita bersama," kata Richard Louhenapessy.

Citra dan Doddie Disambut Histeris
Sesudah tarian yang berlangsung cukup lama itu, musik masih terus berlanjut. Citra Scholastika yang tampil prima disambut hangat penonton. Apalagi CItra membawakan satu dua lagu asal Ambon. Bebarapa lagu seperti "Cinta" yang dipopulerkan band Armada dinyanyikan Citra dengan menyelipkan panggilan yang biasa dipakai di Ambon, seperti kata-kata beta dan ale.

Saat Citra naik ke panggung sebenarnya waktu sudah mendekati jam tiga dini hari. Tapi penonton belum beringsut hingga Citra mengakhiri dengan lagu "Everybody Knew". Hingga akhirnya giliran penyanyi asal Ambon yang malang melintang dari panggung ke panggung di kawasan Indonesia Timur, Doddie Latuharhary, penonton pun masih sanggup ikut bernyanyi.

Ambon sebagai kota musik yang dideklarasikan sejak 2011, benar-benar terbukti pada malam itu. Para penonton masih ikut bernyanyi dengan Doddie hingga akhir festival pada pukul 05.00 WIT. Doddie membawakan lagu-lagu yang sudah dihapal para penonton. Musik adalah denyut nadi Ambon.
CLOSE