Menelusuri Goa Jepang di Punggung Nusantara

Menelusuri Goa Jepang di Punggung Nusantara
Goa Jepang ini terletak di Dusun Koripan, Banjarangkan, Klungkung, ( Foto: kemendikbud.go.id )
Nurlis E Meuko / NEF Minggu, 11 Februari 2018 | 15:51 WIB

Tak ada yang meragukan pesona Bali. Biasanya pembahasan wisata Pulau Dewata ini hanya dua hal, yaitu keindahan pantai dan budayanya.

Padahal sangat banyak peninggalan sejarah yang menjadi objek wisata di sini, di antaranya adalah Goa Jepang, yaitu gua buatan Jepang.

Terletak di Dusun Koripan, Banjarangkan, Klungkung, berjarak 6 km dari arah barat Kota Semarapura. Terpaut 43 kilometer dari Bandara Ngurah Rai, memakan waktu 80 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor dari kota Denpasar.

Pemerintah Kabupaten Klungkung sedang menata Goa Jepang. Bupati I Nyoman Suwirta tak ingin Goa Jepang ini rusak. Apalagi ia menemukan sejumlah titik tanah dinding goa yang terlihat labil, sehingga mudah longsor dan mengakibatkan kemacetan.

Laman antaranews.com menuliskan, Bupati meminta penataan Goa Jepang itu disertai dengan kajian geologi. "Goa Jepang sudah menjadi cagar budaya. Saya perintahkan Dinas Kebudayaan untuk mulai merancang Festival Goa Jepang dalam rangka re-branding Goa Jepang," ujarnya, Jumat (9/2).

Jepang membangun goa ini pada 1941-1942, tujuannya sebagai tempat perlindungan Tentara Dai Nippon. Gua-gua itu berjejer di dinding tebing yang berbentuk melengkung mengikuti kontur pinggir jalan berkelok sebelah kanan jalur Denpasar-Semarapura yang memanjang di tepi sungai Tukad Bubuh.

Berjumlah 16 lubang dengan kedalamannya yang mencapai 14 meter. Hampir semua lubang goa saling terhubung, kecuali dua yang berada di ujung selatan dan utara.

Pemerintah Klungkung menyadari, bahwa peninggalan sejarah itu sangat penting. Karena itu, Goa Jepang ini menjadi terawat. Di tempat ini telah dibangun area parkir, sebuah taman kecil, warung makanan dan berbagai art-shop.

Lubang-lubang itu pun bisa dimasuki. Suasana di dalam gua begitu gelap dan lembab.

Goa Jepang di Bali ini mirip dengan Goa Jepang di Taman Hutan Ir. H. Juanda, Dago Atas, Bandung, Jawa Barat. Di dalam gua terdapat empat lorong masuk. Di dalamnya juga gelap dan lembab.

Di dalam gua ada 18 bunker tempat tawanan perang. Juga dipakai untuk ruang tembak, ruang pertemuan, ruang tembak, dapur, gudang, dan lain-lain.

Bagian atas Goa Jepang ditumbuhi rimbunan pepohonan, beberapa pohon berumur ratusan tahun memiliki akar yang telah merayap turun ke bawah hingga menembus kerasnya batu cadas di luar dinding goa.

Di Jawa Barat, Jepang juga menggali lubang goa di Garut yang berlokasi di sebuah lembah diantara dua bukit Puncak Munasim.

Gua yang berada di lembah ini ada 4, salah satunya menjadi sarang kelelawar dan sumber mata air bagi penduduk Cikopo. Gua ini tidak terlalu dalam, kedalamannya paling panjang sekitar 10 meter.

Selain itu ada juga di Pangandaran. Begitu juga di Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Di sini ada 24 gua yang semuanya saling terhubung. Sedangkan Goa Jepang Bandealit di Jawa Timur terletak di ketinggian 200 meter.

Bahkan, Jepang membuat goa di Biak, Papua. Karakternya mirip dengan yang di Bali dan Bandung. Terdapat bilik-bilik di dalam goa yang difungsikan sebagai gudang, tempat menyimpan makanan, obat-obatan, peralatan perang, dan alat-alat komunikasi. Ada juga ruang perawatan orang sakit dan ruang rapat.

Di Manado, Sulawesi Utara, juga ada peninggalan gua Jepang yang dikenal dengan Goa 100 Kamar. Sulawesi Utara adalah wilayah pendaratan Sekutu untuk masuk ke Indonesia dari arah Pasifik.

Di kawasan Sulawesi Utara, ada lagi goa yang sama di Kawangkoan, Singkil Satu, Tanjung Batu, Titiwungen Selatan, Pakowa, Tikala Ares, dan Kairagi.

Bahkan Jepang juga menggali gua di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Berbentuk empat lubang yang menempel di batu karang tepi Sungai Liliba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Di kawasan Sumatera, gua Jepang yang paling terkenal adalah Lobang Jepang di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Gua sepanjang 5000 meter ini terletak di bawah kota Bukit Tinggi.

Membangun lubang-lubang pertahanan menjadi ciri khas pertahanan tentara Jepang. Contohnya di Iwo Jima ketika menahan serangan tentara Amerika.

Dari lubang-lubang rahasia dalam perut Iwo Jima, tentara Jepang menyerang tentara Amerka. Posisi tentara Jepang di pulau ini berada dalam bunker yang saling terhubung, dan terowongan sepanjang 18 kilometer.

Ini pertempuran yang paling sengit antara Amerika dan Jepang. Dari 22.000 tentara yang ditempatkan di Iwo Jima hanya tersisa 216 orang yang hidup. Sedangkan Amerika Serikat kehilangan 6,821 tentaranya serta hampir 20.000 terluka parah.



Sumber: BeritaSatu.com