Misteri Bawah Tanah Sabang yang Eksotik

Misteri Bawah Tanah Sabang yang Eksotik
Benteng-benteng Jepang yang tersebar di bawah tanah Pulau Weh. ( Foto: the atjeh )
Nurlis E Meuko / NEF Rabu, 14 Februari 2018 | 14:30 WIB

Laksana kayangan kesepian yang diapit Selat Malaka dan Samudera Hindia, Pulau Weh menebar pesonanya. Tak hanya di daratan seluas 156 kilometer per segi itu saja, alam lautnya sangat menawan, bahkan bawah tanah Kota Sabang –pusat kota di Pulau Weh, Aceh—juga menyimpan misteri.

Perut pulau itu penuh cerita eksotik tentang kurok-kurok. Ini bukan tentang kutu tanah bernama undur-undur yang dalam bahasa Aceh disebut kurok-kurok, melainkan jejak sejarah tentara Jepang yang masih ada di sini.

Benteng-benteng Dai Nippon itu masih tersebar di bawah Kota Sabang hingga ke bibir pantai. Di antaranya dapat dimasuki, sebagian lainnya sudah tertimbun tanah dan semak belukar.

Tak ada nama resmi untuk benteng-benteng Jepang yang dibangun dalam kurun waktu 1942-1945, tapi perilaku membangun persembunyian yang mirip kutu tanah itulah yang membuat orang Aceh menyebutnya “kurok-kurok”.

Diperkirakan, Jepang menggali tempat bersembunyi sekaligus untuk mengintai musuh itu setelah menguasai sebagian Asia Tenggara. Sejarah mencatat, Perdana Menteri Jepang Hideko Tojo menerbitkan perintah menguasai sumber alam di Asia Tenggara.

Ini dilakukannya setelah embargo minyak dari Amerika. Keputusan Hideko diikuti pengiriman bala tentara ke setiap sasaran yang dituju pada Oktober 1941.

Kawasan Asia Tenggara yang menjadi target Jepang tak lain adalah Filipina, Malaysia, Singapura, dan Pulau Jawa. Penyerangan bersandi Operasi Selatan ini mengerahkan kekuatan 11 divisi infantri, tujuh resimen tank, serta 795 pesawat tempur.

Pada masa penyerangan itulah tentara Jepang memasuki Pulau Weh.

Sejarawan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, bercerita kepada Majalah The Atjeh, Jepang datang ke Aceh sebetulnya atas pemintaan orang Aceh. “Tujuannya mengusir Belanda karena terlalu lama berperang,” katanya.

Undangan itu bersambut, Jepang mendarat di Aceh pada Maret 1942. Mereka masuk ke tiga wilayah. Mula-mula ke Sabang, lalu Ujong Batee di Aceh Besar, kemudian di Peureulak, Aceh Timur.

Jepang memang mengusir Belanda, namun Dai Nippon memanfaatkan rakyat Aceh terlibat dalam Perang Asia Timur Raya. Selain berperang, rakyat Aceh juga dipaksa bekerja.

“Di Jawa itu disebut romusa, rakyat ini digerakkan untuk bekerja seperti mendirikan benteng-benteng pertahanan, bunker-bunker bahkan sampai lapangan terbang,” kata Rusdi. “Jadi berbicara kurok-kurok di Sabang, itu dibangun ketika mereka berada di Aceh."

Menurut Rusdi, Jepang masuk ke Aceh bukan untuk berperang, tapi menjadikannya sebagai wilayah pertahanannya, terutama menghadapi gempuran tentara sekutu (Amerika-Belanda-Inggris) yang memang menyasar Jepang.

***

Sign Post, berada di atas Sabang Hill, untuk menuju kemari perlu mendaki bukit berundak tiga yang dilakap nama berbeda. Di undakan dasar ada Sabang Fair yang tepat di pinggir Teluk Sabang, langsung menghadap Pulau Klah, Rubiah, dan Seulako di seberangnya.

Mendaki melalui jalan beraspal di lereng-lereng bukit nan hijau akan bertemu resort Sabang Hill’s. Agaknya, nama inilah yang kemudian melekat pada undakan kedua.

Pada kelokan berikutnya, perjalanan berakhir di bangunan berpagar besi pintu terkunci. Berkonstruksi beton dua tingkat, di belakangnya ada tower dilengkapi lampu, kabel, dan antena menunjuk langit.

Menurut catatan Sabang Heritage Society, dulu di sini juga banyak benteng Jepang. Berfungsi sebagai pengiriman sinyal sekaligus pos pengamanan pintu Teluk Sabang. Sekarang tersisa dua bunker Jepang.

Tepat di sisi lereng bukit, ada tanah landai selebar gang menjadi simpang masuk dua bunker di kiri dan kanan. Ada tangga ke lorong bawah tanah yang berujung pada dua ruangan dikelilingi beton kokoh dari konstruksi batu gunung.

Di dalam ruangan bawah tanah 4x2 meter itu, udara pengap menyergap. Di sudut kanan, sebuah pipa besi setinggi pinggang menyembul dari dalam tanah.

Berbalut karat dengan ujung bengkok berpenutup lubang, pipa ini mirip periskop kapal selam yang dimanfaatkan untuk alat komunikasi antar bunker. Pipa itu, mengindikasikan kemungkinan ada ruangan lagi di bawah ruangan ini.

Satu lagi ruangan berukuran 1x0,5 meter yang tanpa langit-langit. Dari sini dapat melihat menembus ke permukaan tanah. Udara bebas masuk ke dalam. Di dinding menempel bangkai tangga besi. Ini ruangan komando.

Bunker satu lagi, ruangannya dibentegi dinding yang kokoh berupa bersak-sak semen 50 kilogram utuh yang sengaja dikeraskan. Di sini juga ada dua ruangan yang terpisah yang sudah diberi lampu penerang, mirip penjara bawah tanah.

***

Menghadap Teluk Sabang, taman ini membelakangi tiga bangunan: Kantor Detasemen Polisi Militer, Mess Pamen Samudera (Rumah Administratur Sabang Maskapai 1899), dan Double House (Rumah Ganda). Dua nama terakhir adalah bangunan tua masa penjajahan Belanda yang kemudian dimanfaatkan Jepang menjadi pusat komando militernya.

Terletak di Jalan Diponegoro, Kota Atas Sabang, diramaikan aneka pepohonan yang rimbun dan menyejukkan. Lokasinya strategis di atas bukit. Di bawahnya, atap ruko dan perumahan penduduk di pusat perbelanjaan jelas terlihat.

Di tengah taman teronggok tembok berlumut seperti tak berfungsi, seperti setangkup beton kokoh yang keberadaannya terasing dan tanpa perencanaan. Di tangkupan lubang yang menganga selebar semeter, ada tangga untuk menuruni lubang gelap ini.

Di lantai dasar bawah tanah langsung seperti masuk dalam pipa beton berbentuk balok. Jalan bawah tanah berbelok ke selatan ada lorong di sisi kanan. Di sisi kiri dan kanan lorong ini, ada tembok setebal 30 sentimeter menjadi penyekat memisahkan dua pasang ruangan saling berhadapan.

Tak berapa jauh melangkah dari empat ruang ini, ada tangga menuju pintu akses ke luar terowongan. Bunker ini sebelumnya sudah tertimbun, anggota Sabang Heritage Society menggalinya lagi pada Juli 2011. Namun setelah bersih, ada saja warga yang membuang sampah ke bunker ini.

Dari permukaan tanah, hanya tiga lubang udara sebagai penanda bahwa di area taman kota ada bunker pertahanan peninggalan Jepang.

Di Cot Bak U yang berada di sebelah tenggara Sabang, ada lagi ada jejak pertahanan Jepang yang berada di lahan seluas 700 meter persegi yang dibatasi pagar pohon kedondong yang diikat kawat berduri.

Dari sini Teluk Sabang terlihat jelas. Pemandangan yang mencolok di lahan kosong ini hanyalah bangunan bekas kantor meteorologi Jepang yang sudah terlantar. Di belakangnya terhampar bekas bunker besar dengan tembok kokoh.

Sama seperti bunker lainnya, ada tangga menuju bawah tanah. Di dasarnya tepat menghadap bunker utama. Adapun parit selebar 1,5 meter menjadi akses ke bunker lain yang mengitari lokasi ini. Parit sedalam 1,8 meter ini penuh semak belukar.

Bunker utama berdinding kokoh setebal 50 sentimeter. Di dalamnya ada empat ruang tersekat beton setebal 30 sentimeter. Pada dinding ruangan di depan pintu utama ada lukisan dua wajah manusia yang warnanya sudah lusuh.

Kendati demikian, goresannya masih jelas. Hidung, mata, bibir, dan telinga mirip wajah orang-orang Jepang kebanyakan. Dari Cot Bak U, melintasi Jalan Tinjau Alam menuju Danau Aneuk Laot, di beberapa bagian lereng terdapat empat gua buatan yang semuanya tertimbun tanah.

Tak jauh dari sini, ada area yang telah menjadi tempat pembuangan sampah yang hampir menutupi seluruh bunker beton, masih terlihat di beberapa sisinya sejumlah lubang berdiameter 20 sentimeter. Diyakini, ada sejumlah bunker yang saling terhubung tersebar di Sabang.

***

Menyusuri  timur laut Sabang melalui jalanan pinggir pantai terdapat benteng pertahanan Jepang berupa pilboks yang semuanya menghadap laut.

Di sepanjang jalur tiga titik benteng yang terletak di tiga daerah berbeda, yaitu pilboks di Tapak Gajah, Ie Meulee, dan Anoi Itam.

Semua benteng memiliki bentuk yang hampir mirip. Berupa bangunan berdinding tebal dan pintu masuk lebar satu meter dengan formasi bangunan poligon di atas area seluas sekitar 50 meter persegi.

Di kawasan Tapak Gajah, satu benteng tampak telah dipugar. Di depannya didirikan tugu dengan tulisan Japanese Coastal Fortress di atasnya.

Benteng ini terletak di pinggir pantai menghadap Selat Melaka. Dari posisinya, ini merupakan lubang bidik meriam yang cuma tinggal jejak dudukan berupa 16 pacakan baut di lantai dasar berbentuk lingkaran.

Dari kedudukan ini, bisa ditaksir pula moncong meriam diarahkan ke samping kanan dan kiri mengikut bentuk lubang bidik benteng.

Di daerah Sumur Tiga Desa Ie Meulee, sebuah benteng pertahanan laut pasukan Jepang tampak masih kokoh. Terletak di sisi kiri sebuah tikungan Jalan Ujong Kareung, tepat di sudut sebidang tanah yang penuh pohon kelapa.

Di samping benteng, berdiri rumah penduduk. Benteng ini juga menghadap Selat Melaka yang letaknya di atas Pantai Sumur Tiga yang terkenal dengan pasir putihnya. Dari atas benteng, menghampar gugusan pasir putih yang memanjang dengan riak ombak yang tenang.

Benteng yang terletak di kawasan Anoi Itam kondisinya lebih baik. Terletak sekitar 13 kilometer dari kota Sabang, kawasan perbukitan dan pinggir Selat Melaka ini telah menjadi salah satu destinasi wisata.

Menuju ke lokasi benteng haruslah melalui sebuah bukit landai pinggir laut yang ditumbuhi berbagai jenis pepohonan. Masuk melalui jalan berbatu dari Jalan Ujong Kareueng sebagai jalur akses utamanya, kami memutar melewati sebuah jalan setapak.

Sampai di ujung, di padang rerumputan ada jalan menanjak yang sudah dipaving. Di samping kiri jalan, sebuah gundukan berdinding beton dengan atapnya yang ditumbuhi rumput lebat tampak seperti bersembunyi di antara beberapa pepohonan besar.

Ada sebuah pintu di dinding beton tersebut. Masuk ke dalamnya, kita sadar ini adalah ruangan pengintai yang menghadap ceruk laut yang letaknya menyempil antara dua karang besar. Ada dua lubang intai yang terdapat dalam ceruk lereng bukit.

Di atas bukit ada sebuah benteng berdiri kokoh dengan muka depan terbuka seperti mulut lebar menganga ingin menangkap angin yang berhembus dari Selat Malaka. Berada di sini seperti sedang berdiri dalam sebuah mesin perang.

Mulut bangunan membentuk setengah lingkaran, moncong meriam dapat menyisir tiga arah mata angin, selatan di samping kanan, timur di depan, dan utara samping kiri.

Sementara di belakang, basis pertahanan berwujud batu karang, adapun pepohonan menjadi kamuflase menyembunyikan benteng sebelah barat.

Dari atas benteng berbentuk poligon ini, pemandangan menakjubkan terhampar di depan mata. Matahari yang mulai mengufuk di sebelah barat menyiram sinarnya ke hamparan biru laut Selat Malaka.

Cahaya matahari yang menerpa bangunan seperti datang dari balik perbukitan yang memunggungi lapangan terbang Maimun Saleh, Sabang.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE