Generasi 90-an Ajak Keluarga Tamasya dengan "Mesin Waktu"

Generasi 90-an Ajak Keluarga Tamasya dengan
Suasana event Tamasya Mesin Waktu Generasi 90-an di Jakarta Aquarium, 19-25 Maret 2018. ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FMB Kamis, 22 Maret 2018 | 12:03 WIB

Jakarta - Tamasya adalah sebuah kata yang menggembirakan bagi anak-anak zaman 90-an. Taman Mini, Ragunan, Ancol, Monas adalah tujuan hampir semua keluarga di akhir pekan. Namun seiring berjalannya waktu, tamasya ke tempat wisata tak lagi menarik hati. Berkutat di pusat perbelanjaan ataupun menghabiskan waktu seharian dengan gawai, inilah hiburan kebanyakan anak zaman sekarang.

Menyadari hal ini, komunitas Generasi 90-an membuat sebuah acara bertajuk "Tamasya Mesin Waktu". Acara tersebut telah dimulai sejak 19 sampai 25 Maret 2018, di Jakarta Aquarium, NEO Soho, Jakarta Barat.

Menurut salah satu pendiri komunitas Generasi 90an, Marcella F P, dengan konsep unik, acara ini memang sengaja dikemas untuk bernostalgia bersama keluarga di tempat wisata. Tak hanya sebagai sarana menghibur, tetapi acara ini juga sengaja dibuat sebagai sarana edukasi untuk para generasi muda saat ini.

“Tempat wisata Jakarta Aquarium dipilih sebenarnya mau mengambil euforia tamasya yang saat ini sulit ditemukan. Kalau dulu di zaman 90-an, orang sangat gemar pergi ke tempat wisata yang ada hewan, ataupun pemandangan alam. Memang niatnya biar keluarga datang membawa anak-anaknya, dan para orangtua bisa memberi tahu seperti apa masa kecilnya dulu,” ungkapnya saat ditemui SP, di peluncuran buku "Generasi 90an: Anak Kemaren Sore", di Jakarta Barat, Rabu (21/3).

Dalam acara ini, para pengunjung bisa menikmati empat era nostalgia 90-an. Pertama adalah Zona Musik, yang akan menghadirkan para musisi seperti Kunto Aji dan Dipa Barus, yang akan tampil pada Sabtu (26/3). Kemudian terdapat Zona Jajan, di mana para pengunjung bisa membeli berbagai jajanan favorit di era 90-an.

Ada juga Zona Museum, yang menghadirkan macam-macam barang, serta pernak-pernik di era 90-an, yang kemungkinan sudah langka saat ini. Terakhir adalah Zona Main, yang dibagi menjadi dua: permainan tradisional, seperti engklek, gundu ataupun lompat karet dan permainan "moderen" (pada zamannya) seperti Nintendo. Para pengunjung bisa berinteraksi dan bermain langsung.

“Bukan mau mengajak orang susah move on. Tapi, spirit zaman 90an yang ingin kita bawa. Generasi 90-an ingin mesin waktu untuk mendapatkan kebahagiaan yang sederhana melalui nostalgia. Seiring waktu Generasi 90-an juga turut berkembang menjadi wadah kreatif untuk menjalin networking teman-teman Generasi 90-an (Gen Y) yang hidup di jaman sekarang, dapat menjadi referensi dan inspirasi untuk semua generasi,” terangnya.

Launching Buku
Berawal dari tugas akhir Marcella sebagai mahasiswi Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara Jakarta, sebuah buku dengan judul Generasi 90an (POP, 2013) dan Generasi 90an Anak Kemaren Sore (POP, 2015) ini tercipta. Siapa sangka, buku tersebut sudah terjual sekitar 40.000 kopi.

Bahkan, setelah berhenti menulis tiga tahun silam, Marcella mendapat banyak permintaan dari berbagai kalangan masyarakat. Tak hanya dari generasi Y saja, namun kebanyakan permintaan berasal dari kalangan anak-anak SD, SMP, bahkan generasi babyboomers. Terbukti, bahwa buku ini bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Menariknya, kini kedua buku tersebut dihadirkan kembali dengan desain dan penambahan konten. Selain perubahan sampul yang kini menggunakan hard cover, perubahan signifikan lainnya ialah logo dari buku Generasi 90an ini. "Sekarang logonya bisa dilihat kita ada pesawatnya. Pesawat ini mengambil konsep mesin waktu dengan pesawat kertas sebagai pengantar pesan antar-era," ungkapnya.

Berbeda dari buku pertama, Generasi 90an: Anak Kemaren Sore juga menghadirkan tiga tokoh anak kecil era 90an, yang didatangkan Iewat "mesin waktu", yaitu Acel, Lala, dan Popi. Ketiganya memiliki latar belakang dan minat yang berbeda. Setiap tokoh, jelas Marchella, akan mengajak pembaca untuk bernostalgia dengan tema berbeda sesuai minat masing-masing.

"Konten dalam buku ini bukan milik aku seorang. Tapi memori orang-orang yang dikumpulkan dan dikemas supaya bisa menjadi konten yang diterima banyak golongan. Tidak hanya orang Jakarta saja, tetapi semua masyarakat di Indonesia,” tukasnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE