Fosil di Ngawi Kemungkinan Gajah dan Banteng Purba

Fosil di Ngawi Kemungkinan Gajah dan Banteng Purba
Petugas Museum Trinil, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto, serta Dispora Kabupaten Ngawi memperlihatkan serpihan fosil gajah dan banteng purba. ( Foto: SP/Aries Sudiono )
Aries Sudiono / AB Kamis, 29 Maret 2018 | 08:52 WIB

Ngawi - Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto Wilayah Kerja Provinsi Jawa Timur bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Trinil Ngawi, menyatakan tulang-belulang kaki hewan raksasa yang ditemukan petani Sarno (45), kemungkinan besar adalah fosil gajah purba (Stegodon) dan banteng purba (Bibos paleosondaicus). Fosil sebanyak 94 serpihan besar dan kecil yang terbenam di lahan tegalan milik Perhutani di Dusun Grudo, Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi, diperkirakan berusia antara 1 juta hingga 1,5 juta tahun silam.

“Tim gabungan BPCB dan Museum Trinil Ngawi, hampir berani memastikan bahwa fosil itu merupakan fosil tulang gajah purba dan banteng purba yang berumur 1-1,5 juta tahun. Ini potongan tulang kakinya. Kita meyakhini bahwa ini betul temuan fosil purba karena tulang-tulangnya sudah berubah menjadi batu,” ujar Agus Hadi, juru pelihara Museum Trinil BPCB Mojokerto yang dikonfirmasi di kantor Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Rejuno Karangjati, Ngawi, Rabu (28/3) malam.

Guna menyibak akurasi temuan fosil tersebut, tim gabungan masih akan melakukan penggalian (ekskavasi) di sekitar lokasi temuan. Hanya saja, untuk proses penggalian, pihaknya memerlukan izin Perhutani selaku pemilik lokasi.

Agus memperkirakan masih banyak fosil hewan purba itu yang tertinggal di lokasi tersebut. Menurutnya, kemungkinan gajah purba itu tewas bersama ketika bertarung dengan banteng purba. Jika nanti permohonan izin ke Perhutani dikabulkan, maka ekskavasi nantinya akan dilakukan dalam radius antara 5 meter sampai 12 meter dari lokasi, mengingat fosil-fosil itu ditemukan di dua titik lokasi yang berjarak sekitar 30 meter di lahan Perhutani yang ditanami sengon dan kacang tanah oleh petani binaan Perhutani.

Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Ngawi juga menurunkan tim dari Museum Trinil untuk meneliti temuan fosil gajah dan banteng purba.

“Kita terus berkoordinasi guna mengenali temuan fosil itu dengan cepat,” ujar Kepala Dispora Kabupaten Ngawi, Rahmad Didik Purwanto, Kamis (29/3).

Temuan fosil hewan purba tersebut akan menambah koleksi dan pengetahuan lebih luas tentang perkembangan binatang purba yang hidup jutaan tahun silam.

Sebelumnya, Sarno menyampaikan ke petugas Polsek Karangjati, Ngawi, bahwa ketika sedang membersihkan rerumputan yang mengganggu tanaman sengonn yang baru berumur sebulan, Selasa (27/3) sekitar pukul 10.00 WIB, secara tak sengaja dia menemukan potongan tulang yang diduga fosil hewan raksasa. Temuan itu membuatnya gemetar dan melaporkannya ke perangkat desa. Laporan itu kemudian diteruskan ke Polsek dan Koramil Karangjati, Ngawi.

Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu yang dikonfirmasi terpisah menyatakan pihaknya meminta bantuan kepada para ahli dari UPT Museum Trinil dan BPCB Mojokerto untuk meneliti fosil tersebut.

“Kita percayakan penelitian ilmiah temuan fosil itu pada ahlinya,” ujarnya singkat. 

 



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE