Melihat Bangkai Perang, Pembantaian, dan Lorong-lorong Vietkong

Melihat Bangkai Perang, Pembantaian, dan Lorong-lorong Vietkong
Wisata perang di Vietnam ( Foto: BeritaSatu.com / Mahmur Marganti )
Mahmur Marganti / NEF Kamis, 5 April 2018 | 16:03 WIB

Sebutkan nama Vietnam, maka terlintas perang antara tentara Amerika dan Vietkong --milisi Vietnam Selatan. Beralih ke layar lebar, maka terbayang film “Killing Fields” yang bercerita tentang kekejaman perang Vietnam dengan paparan jutaan kerangka manusia.

Namun itu semua cerita lama. Kini Vietnam telah bersalin rupa. Negara berpenduduk 75 juta orang itu kini giat membangun.
Salah satunya, negeri Paman Ho itu membangun industri pariwisatanya yang sampai melahirkan 400 biro pariwisata internasional dan lebih dari 10.000 biro perjalanan dalam negeri dengan 5.500 pemandu wisata bersertifikat.

Jamaknya dunia wisatawan, maka Vietnam tentu menjual keindahan alamnya. Salah satunya adalah eksotisnya kota Ho Chi Min yang juga tak luput dari macet itu.

Jalan-jalan yang bersih dan bangunan bernuansa Perancis yang sangat kental lengkap dengan bangunan lama bergaya arsitektur Eropa masih terpelihara dengan baik. Salah satunya Katedral Nortedram di pusat kota Ho Chi Minh.

Namun itu wisata biasa, seperti lazimnya di negara-negara lain.

Nah, yang tak biasa adalah wisata perang. Wisatawan bisa berkeliling kawasan pembantaian kala perang, yaitu dengan menelusuri terowongan Chu Chi dibawah tanah seluas 250 km persegi.

Damainya Chu Chi

Memasuki Provinsi Cu Chi terasa suasana pedesaan yang damai dan teduh. Tak tampak jejak yang menunjukkan wilayah ini sebagai kawasan pertempuran yang paling besar semasa Perang Vietnam. Padahal daerah ini dulu merupakan tempat yang paling sering di bombardier.

Di kawasan hutan tempat wisata perang ini, kita akan dibawa menuju ruang diorama yang menggambarkan bagaimana bentuk terowongan bawah tanah labirin sepanjang kurang lebih 200 kilometer.

Labirin yang saling terkait dengan daya tampung 10.000 orang itu adalah lambang kekalahan tentara Amerika ketika melawan Vietkong.

Dibangun sebelum adanya agresi Amerika, bunker tersebut awalnya adalah tempat berlindung penduduk setempat guna menghindari kerja paksa yang di lakukan oleh pihak penjajah Perancis saat itu. Hingga pada akhirnya bungker tersebut menjadi tempat persembunyian Vietkong.

Bangkai tank dan sisa-sisa peperangan tahun 1970an masih tampak utuh di Cu Chi Tunel. Diorama yang menggambarkan aktivitas para gerilyawan, seperti bengkel senjata,dapur, rumah sakit, ranjau-ranjau, dan lain-lain mampu membawa pada suasana mencekam ketika tentara Amerika berusaha menghancurkan negeri ini.

Selagi di Chu Chi Tunel jangan sampai tidak menjajal masuk ke terowongan tempat Vietkong berlindung dan melangsungkan hidupnya di terowongan dengan 4 layer itu. Walaupun suasanya berbeda dengan ketika perang berlangsung, berjalan diantara lorong tunel cukup bikin panik.

Pemandu wisata juga akan menunjukkan, bagaimana terowongan ini dibuat sehingga sulit terlacak, bagaimana menyimpan asap supaya tidak terdeteksi, bagaimana membuat lubang hawa yang disamarkan. Ia juga memperagakan jebakan-jebakan sederhana mematikan dan menyiksa para tentara Amerika yang nekat masuk ke area ini.

Bangkai Perang

Melengkapi wisata perang di Vietnam, dari Cu Chi Tunel, sempatkan juga ke War Remnant Museum (Museum Peninggalan Perang) tak jauh dari Distrik No 1. Tempat yang mengisahkan kekejaman tentara AS dan sekutunya semasa Perang Vietnam.

Di halaman museum itu ,dipenuhi dengan bangkai-bangkai tank, pesawat tempur, helikopter, artileri dan berbagai macam senjata perang yang ditinggalkan tentara Amerika.

Di museum ini ditampilkan sejarah keterlibatan AS dalam perang saudara di Vietnam. Kekejaman AS itu digambarkan antara lain dengan statistik yang menyebutkan berapa juta ton bom yang dijatuhkan, berapa juta liter pestisida yang disiramkan untuk membunuh tanaman, pertanian untuk membunuh orang-orang Vietnam secara membabi-buta.

Ada ruang penyiksaan dengan “korban” manusia yang masih asli melalui proses balsam yang membuat bulu kuduk merinding.

Jangan berlama-lama sedihnya, usai mengunjungi 2 tempat paling poluler di Ho Chi Minh City mesti buru-buru ke Benh Tam Market. Pasar yang berganti wujud saat siang dan malam hari ini menarik untuk dikunjungi sore hari. Aktivitas para pedagang yang berganti shift secara teratur dan tertib menarik untuk dinikmati.

Benh Tam Market di siang hari atau pun di malam hari memang selalu menggoda pelancong dari Indonesia bukan musabab harga murah akan tetapi juga karena mata uang Rupiah sudah menjadi semacam alat pertukaran yang sah disini.

Mereka tidak sungkan untuk bertanya “Apakah kamu dari Indonesia” dengan logat Indonesia yang cukup kental. Jawaban “Ya” akan langsung disambut dengan kabar gembira dari mereka “Bisa bayar pakai Rupiah Pak”.

Ya, Surprise memang mendengar kalimat itu keluar dari pedagang di Benh Tam Market. Rasanya seperti belanja di Pasar Ular Jakarta Utara tapi dengan lingkungan yang sedikit lebih bersih dan adem.

Sebuah topi bahan dengan tulisan dan bendera Vietnam bordir saja bisa dibeli seharga sepuluh ribu rupiah, tentu Anda harus melepaskan seluruh perasaan tega menawar sebelum berkeliling di pasar ini.

Selamat Mencoba dan jangan bawa pulang mata uang Dong Anda kalau tidak mau menyesal karena oleh-oleh yang Anda bawa terasa kurang saat kembali ke tanah air.



Sumber: BeritaSatu.com