Menggali Situs Kota yang Hilang Muaro Jambi

Menggali Situs Kota yang Hilang Muaro Jambi
Muaro Jambi ( Foto: BeritaSatu / Mahmur Marganti )
Mahmur Marganti / NEF Jumat, 4 Mei 2018 | 13:18 WIB

Pergilah ke Muaro Jambi, Provinsi Jambi, maka terpampang puluhan candi peninggalan Buddha yang terbengkalai. Hingga kini baru delapan candi yang sudah digali dari dalam tanah, tetapi masih puluhan yang terkubur.

Di lahan seluas 3.981 hektare itu, tak hanya candi, juga jejak kehidupan masa silam yang masih terlihat wujudnya. Kanal-kanal kuno yang dibuat untuk transportasi dan mobilisasi bahan bangunan candi yang terhubung oleh Sungai Batang Hari adalah bukti yang mereka tinggalkan.

Salah seorang penjaga candi, Herman, saya temui ketika mengunjungi kompleks bangunan candi itu, menukil bahwa lingkungan seluas itu digunakan untuk menuntut ilmu agama Budha. Beberapa murid dari India, Tibet, Tiongkok, dan negara penganut Budha lain di Asia juga belajar di sini. Hal ini dibuktikan oleh mata uang dan beberapa cendera mata yang ditemukan.

Dari cerita yang didengar turun-temurun, lanjut Herman, dahulu kompleks itu dijadikan tempat menuntut ilmu agama Buddha oleh para murid dari berbagai negara. Mereka yang datang tidak hanya mempelajari ilmu agama, akan tetapi juga ikut membangun tempat ini.

Membayangkan ramainya kehidupan di kompleks candi dan bangunan candi yang terbentang pada area seluas delapan kali kompleks Candi Borobudur itu ditinggalkan begitu saja, saya gatal sekali untuk bertanya kepada Herman kenapa mereka begitu saja meninggalkan kompleks candi.

Banjir bandang yang sangat besar jelang abad ke-12 meninggalkan dampak penyakit kolera yang hebat ketika itu. Menurut keterangan Herman, beberapa murid dan guru yang ada di sini tidak tertolong lagi dan meninggal di tempat ini. Namun, beberapa yang belum terkena dampak endemi itu melarikan diri. Mungkin mereka balik ke tempat asalnya.

Semua yang pernah mereka bawa, termasuk cendera mata yang terbuat dari bebatuan dan emas, ditinggalkan di sini. Peninggalan itu masih tersimpan baik di Museum Jambi. Beberapa replika ada di Rumah Penyimpanan di Muaro Jambi.

Kompleks candi yang telah dibangun selama kurang lebih 500 tahun silam itu mereka tinggalkan begitu saja hingga alam melalui mekanismenya melindungi peninggalan ini. Melalui tanah, dedaunan, dan pohon-pohon besar, termasuk pohon-pohon duku, ikut mengubur kompleks ini selama ratusan tahun.

Penemuan
Orang Eropa pertama yang mendeskripsikan Muaro Jambi adalah surveyor Inggris, Kapten SC Crooke, yang mengunjungi daerah itu pada 1820. Dia mencatat secara sepintas bahwa tidak ada (arca) yang ditemukan kecuali sosok kecil yang termutilasi dari (patung) gajah, dan kepala berukuran penuh terbuat dari batu, memiliki rambut keriting. (Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia oleh Natasha Reichle, Bab 3 halaman 64)

Sumber lain menyebutkan, demi kepentingan pertahanan militer, Pemerintah Inggris mengutus seorang letnan, SC Crooke untuk menelusuri Sungai Batang Hari di Sumatera. Saya tidak menemukan literatur yang menyebutkan hasil dari pemetaan ini, kecuali penemuan serpihan-serpihan batu bata merah di kanal-kanal Sungai Batang Hari oleh SC Crooke pada 1820.

Penggalian oleh Pemerintah Indonesia baru dilakukan pada 1975. Arca yang ditemukan tidak hanya berasal dari beberapa wilayah luar Indonesia. Beberapa arca yang terdapat di Situs Muaro Jambi juga dikirim dari Singosari dan Thailand (Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia oleh Natasha Reichle, Bab 3 halaman 67).

Terdapat banyak sekali sisa reruntuhan Situs Muaro Jambi, baik yang masih tersimpan di rumah penyimpanan di Muaro Jambi dalam bentuk replika maupun arca asli yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta dan Museum Jambi. Beberapa arca itu sering dipamerkan di negara-negara Eropa.

Apa yang menjadi temuan SC Crooke tahun 1820 itu adalah cikal bakal terkuaknya sebuah peradaban yang berlangsung lama di Muaro Jambi.

Kenapa ditelantarkan?
Selama tujuh jam berada di area kompleks percandian, banyak sekali pertanyaan yang ingin saya tanyakan, entah kepada siapa. Bila saja sisa bangunan megah dengan peralatan yang ditinggalkan begitu saja ini ada yang mau meneliti dengan saksama, tentulah benang merah sisa Kerajaan Sriwijaya yang terhubung dengan Kerajaan Melayu dan campur tangan Singosari dan pengaruh agama Buddha yang dibawa dari India, seharusnya bisa tersibak apik.

Sejak 2009, area ini diajukan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu situs peninggalan dunia. Sudah hampir sembilan tahun hingga hari ini, pengajuan tersebut tidak digubris oleh dewan terhormat bangsa-bangsa untuk pendidikan, keilmuan dan kebudayaan itu.

Pangkal dari tidak disetujuinya pengajuan itu bukan perkara nilai sejarah dari peninggalan kampus tua Buddha terbesar se-Asia itu, saya mengira ada ketidakbecusan lembaga pemerintah daerah dalam melakukan penelitian, penggalian dan perawatan sebagian besar peninggalan yang jelas-jelas sarat dengan nilai sejarah itu.

Tentu bukan perihal prinsip di atas saja yang menurut saya kenapa UNESCO masih menunda penyematan penghargaan dunia bagi Candi Muaro Jambi, lingkungan kompleks percandian yang sebagian terbilang kotor dan kumuh, juga menambah ponten merah oleh lembaga dunia itu. Belum lagi, para pedagang kaki lima yang bebas menggelar dagangannya hingga ke dalam kompleks candi membuat suasana sangat tidak nyaman.

Alih-alih memberdayakan penduduk setempat untuk memberi peluang usaha dengan berjualan makanan, minuman dan mainan, yang mereka lakukan menurut saya sangat tidak sesuai bagi tempat bersejarah yang bernilai sangat tinggi, bukan cuma untuk umat Buddha, tetapi juga bagi bangsa Indonesia.

Gubuk temporer yang menggunakan bambu dan tripleks beratap terpal warna-warni spanduk bekas--yang sebagian bekas kampanye politik--lebih menarik perhatian pengunjung ketika mendatangi Candi Gumpung dan Candi Kembar yang terletak tidak jauh dari rumah yang menyimpan replika arca.

Tak sampai di situ, ketika saya datang, persis di sebelah Candi Gumpung ada arena bermain anak-anak semacam pasar malam yang ada di pasar kaget tradisional. Bagi saya ini bukan hanya tidak tepat, tetapi sangat memalukan. Bukan begini seharusnya cara mengundang orang untuk datang mengunjungi situs bersejarah!

Candi Koto Mahligai
Dari delapan candi yang telah digali, Candi Astono, Candi Tinggi, Candi Tinggi Satu, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, Candi Gedong Satu, Gedong dua, dan Candi Kedaton, semua saya sambangi dengan menggunakan sepeda sewaan.

Penelusuran area percandian berakhir di pos jaga yang berdekatan dengan musala. Bersyukur sekali hari itu saya bertemu dengan salah seorang petugas situs, Sulaiman, yang mau memberikan beberapa keterangan tentang situs ini dan yang paling berkesan adalah tawaran Sulaiman untuk mengunjungi Candi Koto Mahligai.

Candi Koto Mahligai adalah sebutan untuk gundukan tanah berbalut pohon-pohon tua di tengah hutan rimba jauh dari pusat percandian yang telah dilakukan pemugaran. Akses menuju tempat ini juga terbilang sulit. Dahulu ada jembatan di atas kanal kuno yang menghubungkan area ini dengan area percandian utama. Namun, jembatan itu rusak dan saya melihat tidak ada usaha memperbaiki jembatan itu.

Menurut keterangan Sulaiman, candi yang masih tertanam pada area ini sengaja tidak digali untuk menunjukkan kondisi asli saat kompleks percandian masih terkubur oleh tanah dan pohon-pohon tua yang lebat.

Sebelum meninggalkan Candi Koto Mahligai, jangan lupa mampir ke Lost City. Lokasinya berseberangan dengan area Candi Koto Mahligai. Lost City adalah istilah yang dinobatkan pemuda di sini untuk menyebutkan kota yang hilang di area candi.

Bagi saya, situs purbakala Muaro Jambi adalah teka-teki yang menyimpan kesedihan.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE