Ilustrasi Pendeta

Jakarta - Pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) jemaat Filadelfia, Bekasi, dijadikan tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap seorang anggota kelompok masa intoleran di Bekasi.

“Saya mendapatkan surat sebagai tersangka kemarin,” kata Pendeta Palti Panjaitan kepada Beritasatu.com, Rabu (13/3).

Dia mengatakan, dirinya disangkakan melanggar KUHP pasal 352 dan 335, kasus penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan.

Maksimal hukuman untuk kasus penganiayaan ringan di pasal 352 adalah tiga bulan penjara, sementara pasal 335 ayat 2 mengenai perbuatan tidak menyenangkan adalah satu tahun.

“Pemanggilan pertama hari Rabu, 20 Maret, jam 10 pagi,” kata Palti.

Insiden tuduhan pemukulan itu terjadi pada malam Natal, 24 Desember 2012. Pendeta Palti Panjaitan dituduh melaukan penyerangan kepada anggota kelompok masa intoleran bernama Abdul Aziz. Palti dituduh memukul ulu hati korban dalam sebuah insiden.

Meski demikian, Palti membantah tuduhan tersebut. “Dia (ustadz Abdul Aziz) mau menyerang saya. Saya turun dari motor untuk menjaga keselamatan. Dia menghampiri saya dan saya tahan dengan tangan. Polisi melerai, dan tidak ada masalah,” kata Palti.

Palti menegaskan, jika memang dirinya memukul berkali-kali ke ulu hati seperti yang Abdul laporkan pasti sudah tertangkap. "Kalau benar tuduhan itu, saya pasti sudah ditangkap malam itu,” katanya.

Sebelum peristiwa ini, Abdul dilaporkan ke polisi oleh Palti pada tanggal 20 April 2012 karena mengancam akan membunuh Palti. “Berkasnya sudah P19, sudah di kejaksaan,” kata Palti.

Palti menduga kepolisian hanya ingin membuat kasus ini berimbang. "Kasus Abdul ke pengadilan, maka kasus saya ini juga dipaksakan untuk ke pengadilan. Saya melihat polisi ketakutan, maka saya dikorbankan sebagai tersangka untuk menjaga agar masa intoleran tidak mengamuk,” kata dia.

Kasus yang sama pernah terjadi di jemaat GKI Yasmin di Bogor. Seorang anggota jemaat bernama Jayadi Damanik dijadikan tersangka untuk penganiayaan kepala Satpol PP Bogor, Bambang Budiyanto pada Oktober 2011.

Sebelumnya, Bambang yang dilaporkan oleh GKI Yasmin ke polisi karena menghalang-halangi ibadah. Belakangan, laporan tersebut dicabut oleh Bambang.

"Apa yang terjadi pada Pendeta Palti adalah pola teror negara kepada korban melalui kepolisian,” kata Juru bicara GKI Yasmin, Bona Sigalingging, pada Beritasatu.com, Rabu (13/3).

Dengan membuat pendeta Palti sebagai tersangka, polisi menunjukkan dia tidak berpihak pada putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, melainkan pada tekanan kelompok intoleran.

Penulis: Camelia Pasandaran/WBP