Jakarta - Sebelum tewas karena timah panas aparat kepolisian, Jumat (29/3) dinihari, Hoderi alias Dori (37), ternyata sudah malang melintang di dunia hitam sejak lama.

Otak komplotan perampok spesialis pegawai SPBU yang dijuluki Kapten telah 10 kali beraksi di wilayah Jakarta Timur sejak awal tahun 2013.

Kapten bukanlah pemain baru dalam kejahatan ini. Pada 2007 lalu, Kapten bersama belasan anggota komplotannya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) aparat dari Polsek Cakung, atas perampokan karyawan perusahaan timah, dan menggondol uang sejumlah Rp 150 juta.

"Yang bersangkutan jadi DPO Polsek Cakung pada 2007 atas perampokan karyawan perusahaan timah. Saat itu uang yang diambil Rp 150 juta. Pelakunya 18 orang, empat orang berhasil ditangkap, sementara 14 lainnya DPO termasuk HDR," kata Kapolres Jakarta Timur, Kombes Mulyadi Kaharni dalam konferensi pers di Mapolres Jakarta Timur, Jumat (29/3).

Setelah peristiwa perampokan itu, diduga Dori melarikan diri ke daerah Jawa Timur. Pasalnya, berdasarkan informasi, Dori sempat ditangkap dan divonis dua tahun penjara atas kasus perampok di sebuah daerah di wilayah Jawa Timur.

"Kami menduga HDR kembali beraksi di Jakarta Timur setelah bebas dari penjara di Jatim," kata Mulyadi.

Mulyadi mengatakan Dori kembali ke Jakarta Timur sekitar tahun 2010 dan membentuk kawanannya. Aksi perampokan Dori setelah bebas terdeteksi pada 10 Desember 2012 lalu.

Saat itu, komplotan Dori merampok seorang pegawai SPBU di daerah Pulo Gadung, dan menggasak uang hasil penjualan SPBU sebesar Rp 45 juta.

Selanjutnya, kawanan ini mulai menjalankan perampok di berbagai daerah di wilayah Jakarta Timur. Tercatat, 10 perampokan dilakukan komplotan ini sejak awal tahun 2013, dengan hasil rampokan sekitar Rp1,7 miliar.

"Setelah membagi hasil rampokan dengan anggota komplotannya, HDR mengirimkan hasil rampokan ke keluarganya di daerah Jawa Timur," katanya.

Sebelum menjalankan aksinya, Kapten merekrut sekitar empat atau lima orang. Salah seorang anggota komplotan kemudian bertugas untuk mengintai SPBU yang akan dirampok selama sekitar seminggu.

"Dilakukan pemantauan, satu pelaku mengendap masuk ke SPBU, memantau kegiatan di SPBU, kapan setor ke bank, berapa petugas dan lainnya. Setelah itu yang bersangkutan menginformasikan ke komplotan," kata Kapolres.

Dikatakan Mulyadi, setelah beraksi beberapa kali, penyelidik kepolisian mulai mendeteksi aksi Dori cs saat merampok pegawai SPBU di Pondok Bambu yang akan menyetor uang sebesar Rp 115 juta, pada Jumat (15/2) lalu.

Dari hasil rekaman CCTV diketahui adanya seorang pria yang belakangan diketahui rekan Dori bernama Muhi, sedang mengamati lokasi kejadian. Berdasar temuan itu, aparat kemudian mengembangkan kasus-kasus serupa yang ternyata memiliki modus yang tak jauh berbeda dilakukan.

Saat beraksi, Dori dibantu empat atau lima orang yang direkrut. Dengan membawa senjata api dan senjata tajam, Dori tak segan melukai para korban yang sebagian besar merupakan petugas SPBU.

"HDR itu pimpinan komplotan ini. Dia biasa dipanggil kapten. Dalam melakukan kejahatannya HDR berperan sebagai aktor intelektual dan mengotaki kejahatan tersebut. Dia yang mengatur siapa saja yang akan ikut dalam perampokan. Dalam setiap aksinya, dia dibantu empat sampai lima orang dari kawanannya," jelas Mulyadi.

Modus serupa terulang kembali saat kawanan Dori merampok pengusaha showroom mobil di daerah Cakung pada Selasa (26/3) lalu. Dari rekaman CCTV, petugas kembali menemukan Muhi sedang mengintai korban saat mengambil uang di Bank BCA Buaran sebesar Rp 95 juta.

Setelah perampokan terjadi, petugas kemudian memantau pergerakan Muhi sebelum kemudian menangkapnya di kediamannya di daerah Cikarang, Jawa Barat. Dari penangkapan itu, petugas kemudian menangkap Dori di rumahnya di daerah Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.

"Dari rumah HDR kami amankan dan sita sebilah parang, senjata api rakitan dengan empat butir peluru, ditambah satu unit motor Yamaha Jupiter yang digunakan beraksi di salah satu SPBU, lima buah Handphone, dan jaket yang digunakan tersangka," kata Mulyadi.

Dikatakan, saat diinterogasi kedua tersangka mengakui kejahatannya. Petugas kemudian berupaya mengejar dan menangkap anggota komplotan lainnya yang saat beraksi memegang senjata api jenis FN.

Namun, dalam perjalanan, Dori berupaya melarikan diri, yang membuat petugas terpaksa melepaskan timah panas dan membuatnya meregang nyawa saat dalam perjalanan ke Rumah Sakit Polri.

"Saat mengarah ke kediaman pelaku lainnya di daerah Cakung, yang bersangkutan (Dori) berupaya melarikan diri, tembakan ke atas tetap melarikan diri, akhirnya mengarah ke yang bersangkutan, dan terjatuh, saat dibawa ke rumah sakit nyawanya tidak tertolong," kata Mulyadi.

Berdasarkan data kepolisian, komplotan Dori sudah 13 kali beraksi di wilayah Jakarta Timur sejak 2007 lalu. Jumlah itu, termasuk 10 aksi yang dilakukan sejak awal tahun 2013.

"Dalam 10 kasus yang dilakukan sebagian besar menyasar calon nasabah yang akan setor uang hasil penjualan SPBU ke bank," jelas Mulyadi.

Dari 10 kali perampokan yang dilakukan sejak awal tahun 2013, Dori cs menggasak uang dengan total mencapai Rp 1,750 miliar. Setelah dibagi rata dengan anggota komplotan yang lain, dia mengirim uang hasil kejahatannya ke keluarganya yang berada di daerah Jawa Timur.

Petugas saat ini tengah memburu 13 anggota kawanan Dori lainnya. Sementara tersangka Muhi saat ini menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Jakarta Timur.

Tersangka dijerat dengan pasal 365 KUHP mengenai pencurian dengan kekerasan dan diancam hukuman 9 tahun penjara.

Suara Pembaruan

Penulis: F-5/YUD

Sumber:Suara Pembaruan