Jakarta - Kasus dugaan salah tangkap dan penganiayaan yang menimpa Syamsul Arifin oleh oknum Polda Jatim melebar.

Pemuda 23 tahun yang sudah 10 kali mengendarai motor dari Surabaya ke Jakarta untuk mencari keadilan itu resmi melaporkan Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Hilman Thayib atas pernyataannya.

"Saya resmi laporkan Selasa (16/4) lalu ke Propam Mabes Polri dengan nomor laporan 81/1V/2013. Dia (Hilman) menuduh saya masih berstatus tersangka, padahal saya telah diputuskan bebas murni. Tuduhan itu dibuat dalam sebuah acara di televisi," kata Syamsul di Jakarta, Minggu (21/4).

Menurutnya, karena tuduhan yang masih saja berlanjut atas kasus yang dia tidak pernah lakukan itu, maka kehidupan sosialnya terus terganggu.

"Dulu saya ditangkap polisi dituduh mencuri dan akhirnya saya bebas. Kini saya tak mau dituduh lagi," ujarnya bersemangat.

Sebelumnya Hilman bersikeras jika Syamsul tak hanya dijerat dengan satu perkara, tapi masih ada berkas perkara lain untuk pemuda asal Surabaya itu.

"Untuk oknum polisi yang menganiyaya dia sudah kita proses. Tapi Syamsul itu masih punya tiga berkas lainnya (yang belum disidangkan sehingga statusnya tetap tersangka). Kalau dia melapor ke Mabes Polri, ya silahkan saja. Itu hak dia," kata Hilman menanggapi laporan Syamsul.

Pernyataan Hilman yang jadi masalah itu adalah saat dia mengatakan Pengadilan Negeri Surabaya memang telah memutuskan Syamsul bebas, tapi saat itu jaksa penuntut umum langsung mengajukan banding ke Mahkamah Agung (MA) dan sampai sekarang belum ada putusan MA.

Padahal Syamsul sudah memegang Relaas (surat panggilan sidang Pemberitahuan Putusan Mahkamah Agung RI, mengenai upaya hukum banding jaksa penuntut umum atas vonis bebas yang diberikan PN Surabaya.

Surat tersebut diterima pihak keluarga Syamsul, Nur Chazanah, pada Kamis (3/5/2012). Ditunjuk petugas yang memberitahukan surat tersebut adalah Jurusita Pengganti PN Surabaya, Suyatno.

Di tubuh surat tersebut lengkap menerangkan identitas Syamsul dan juga pekerjaannya sebagai tukang mebel di Rungkut.

Penulis: Farouk Arnaz