Ilustrasi penganiayaan.

Jakarta - Lima tersangka kasus dugaan perampasan kemerdekaan orang dan penganiayaan di sebuah tempat usaha pengolahan limbah barang alumunium, di Kampung Bayur Opak RT03 RW06, Lebak Wangi, Sepatan Timur, Tangerang, terancam pasal berlapis.

"Saat ini, kami sedang melakukan pemberkasan. Para tersangka akan dikenakan Pasal 333 KUHP tentang perampasan kemerdekaan seseorang dengan ancaman 8 tahun penjara," ujar Kasat Reskrim Polres Kota Tangerang, Kompol Shinto Silitonga, kepada Beritasatu.com, Minggu (5/5).

Dikatakan Shinto, penerapan pasal itu berdasar fakta yang ditemukan di lapangan, terkait perampasan hak para buruh untuk berkomunikasi, hak sosial, dan hak beribadah.

"Tak ada hak berkomunikasi, ponsel mereka disita; hak bersosialisasi, mereka tak boleh keluar [dari area tersebut]; hak beribadah, tak diperkenankan shalat di sekitar lingkungan, pekerjaan mereka juga padat dan tak ada fasilitas shalat di tempat bekerja. Jangankan fasilitas, sajadah saja tak ada," ungkapnya.

Selain itu, kata Shinto, pengusaha atau pemilik juga merenggut kemerdekaan pekerja atas kesejahteraan. "Mereka tak diberikan gaji selama dua bulan. Padahal itu hak mereka," tambahnya.

Shinto menjelaskan, para tersangka juga diduga melanggar Pasal 351 KUHP, tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman di atas lima tahun bui.

"Mereka juga melanggar Pasal 351 KUHP, karena diduga melakukan penganiayaan. Seperti, memukul, menendang, menyundut pakai rokok, dan menyiramkan air panas kepada buruh," sebutnya.

Shinto menambahkan, kemungkinan pemilik sekaligus tersangka atas nama Yuki Irawan juga melanggar UU 5/1984 tentang Perindustrian, lalu Pasal 372 tentang penggelapan gaji karyawan dan UU Perlindungan Anak.

"Ada empat orang buruh yang masih di bawah umur bekerja di sana. Kami akan jerat juga dengan UU Perlindungan Anak," tegasnya.

Shinto menyampaikan, jika ada kasus serupa di tempat lain, sebaiknya para pekerja segera membuat laporan ke polisi agar dapat langsung ditindak tegas.

"Jika ada temuan perlakuan serupa, diharapkan buruh berani menginformasikan kepada pihak kepolisian agar segera dilakukan penindakan. Prinsipnya, buruh dan pengusaha adalah komponen yang seharusnya saling menghormati hak dan kewajibannya masing-masing. Kami sangat menyayangkan perlakuan pengusaha yang mengabaikan hak-hak buruh seperti ini," tandasnya.

Sebagaimana telah diberitakan, polisi menahan lima tersangka terkait dugaan kasus perampasan kemerdekaan orang dan penganiayaan, di sebuah tempat usaha pengolahan limbah barang alumunium, di Kampung Bayur Opak RT03 RW06, Lebak Wangi, Sepatan Timur, Tangerang, Jumat (3/5) lalu.

Kelima tersangka itu atas nama, Yuki Irawan (pengusaha), Tedi, Firman, Jaya, dan Umar (mandor). Sementara, dua orang tersangka lainnya masih buron, lantaran sudah berhenti bekerja sebagai mandor dua minggu sebelum penggerebekan.

Penulis: Bayu Marhaenjati/NAD