Ilustrasi korban.

Jakarta - Subdit Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, mengungkap kasus pembunuhan berencana, di Warung Gudeg Juminten, Jalan Ciputat Baru RT05 RW01 No 19, Sawah Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Minggu (26/5) lalu. Sebelumnya, korban dinyatakan bunuh diri.

Juru Bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto mengatakan, korban atas nama Dahwan merupakan karyawan warung makan Gudeg Juminten. Sementara, pelaku pembunuhan ternyata adalah rekan-rekan karyawan di warung tersebut.

"Telah terjadi pembunuhan atas nama Dahwan. Dilakukan para tersangka berinisal DW (21), AS (21), US (18), dan UM (23). Keempatnya sudah tertangkap," ujar Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Selasa (4/6).

Dikatakan Rikwanto, kasus pembunuhan itu diduga dipicu karena ada ketidaksukaan antara para pelaku dengan korban yang sudah bekerja selama 17 tahun sebagai koki di warung itu. Sementara, DW, US, UM, dan AS adalah karyawan baru.

"Dalam interaksinya, mereka ada konflik pribadi dan pekerjaan. Ada ketidaksukaan kepada korban. Mereka berempat kemudian berencana membunuh korban," tambahnya.

Ide pembunuhan, kata Rikwanto, datang dari DW seorang perempuan. Ia kemudian melibatkan teman-temannya sesama karyawan baru untuk berbagi peran. "DW perannya menusuk korban, US, UM, dan AD ada membekap, memegang kaki dan tangan korban," katanya.

Menurut Rikwanto, awal peristiwa pembunuhan dimulai dari dapur. Ketika, korban pergi ke dapur, para pelaku langsung membekap, memegang kaki dan tangannya.

"Pada saat itu, DW langsung menusuk korban. Setelah ditusuk, korban dibawa ke kamar mandi dan ditinggalkan. Pada saat itu, posisi korban belum meninggal," jelasnya.

Kemudian, tambah Rikwanto, tersangka DW kembali masuk ke kamar mandi dan melakukan penusukan lagi sampai korban meninggal dunia. "Ada 7 luka tusuk, lima di perut dan dua di leher. Penyebab kematian karena tusukan di leher itu," bilangnya.

Rikwanto mengungkapkan, setelah melakukan aksinya, para pelaku kemudian bersih-bersih, mencuci tangan dan kaki. Selanjutnya, mereka bersepakat menyatakan korban meninggal karena bunuh diri.

"Setelah bersih-bersih, mereka beramai-ramai berteriak 'ada yang bunuh diri'. Kemudian, berdatangan karyawan lain yang menjaga toko dan para tetangga," imbuhnya.

Rikwanto mengatakan, pada saat itu, korban dinyatakan bunuh diri. Namun, setelah dilakukan penyelidikan dan penyidikan ada kejanggalan dalam proses tewasnya korban.

"Ada kecurigaan atau sulit dicerna akal sehat jika orang bunuh diri dengan luka tusukan begitu banyak. Akhirnya kami lakukan penggalian jenazah di Gunung Kidul, Yogyakarta. Dari hasil visum dinyatakan ada kejanggalan. Korban bukan bunuh diri, namun dibunuh," paparnya.

Berawal dari hasil visum itu, ungkap Rikwanto, pihaknya mencurigai beberapa orang termasuk empat tersangka. Melalui pemeriksaan scientific investigation, pemeriksaan mengerucut kepada empat orang tersangka karena ditemukan bercak darah korban di tubuhnya.

"Akhirnya, pada tanggal 31 Mei 2013, penyidik melakukan penangkapan dan penahan kepada empat pelaku. Setelah diperiksa intensif, mereka tidak bisa mengelak dan mengakui perbuatannya," katanya.

Selain menangkap para tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti seperti satu buah pisau dapur bernoda darah, ember yang digunakan membersihkan sisa darah dan pakaian korban serta pelaku.

"Mereka dikenakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, dengan ancaman hukuman di atas 10 tahun," tandas Rikwanto.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Toni Harmanto, menyatakan DW yang merupakan otak pelaku saat ini dibantarkan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, karena mengalami depresi dan stres. "Kalau sudah sembuh akan kita lanjutkan penahan dan proses pemberkasan," sebutnya.

Ia menambahkan, pihaknya saat ini masih mendalami motif para pelaku melakukan pembunuhan.

"Motifnya masih didalami. Menurut tiga pelaku lainnya, DW yang melakukan penusukan. Tapi karena DW masih dirawat, belum bisa diperiksa. Diduga ada cinta segita di antara pelaku dan korban. Namun, masih didalami apakah benar itu atau karena dendam," jelas Toni.

Penulis: Bayu Marhaenjati/NAD