Kepala Divisi Humas Polda Metro Jaya, Kombes Polisi, Rikwanto

Jakarta - Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, membekuk enam orang pelaku kasus dugaan pemalsuan dan penipuan Surat Deposito Berjangka (SDB) senilai Rp1 triliun. Modus para tersangka mengiming-imingi calon korban dengan imbalan besar, jika bersedia meminjamkan sejumlah uang untuk biaya pengurusan pencairan deposito.

Juru Bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto, mengatakan kasus itu berawal ketika salah satu tersangka berinisial SY mempunyai selembar SDB palsu bernilai Rp1 triliun. Namun, untuk mencairkan dana itu perlu uang sebanyak enam persen dari total nilai atau sebesar Rp60 miliar.

"Untuk mencairkannya harus ada uang muka enam persen atau 60 miliar. Ini ditawarkan ke beberapa pihak. Apabila mereka bisa membantu mencairkan uang itu, maka korban dapat untung. Lalu mereka melakukan upaya dan meyakinkan calon korban," ujar Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (4/7).

Dikatakan Rikwanto, ada beberapa pihak yang kemudian tertarik. Salah satunya seorang warga negara asing asal Yordania berinisial AH. Korban AH sempat menyetor sejumlah uang dan diberikan surat kuasa untuk mencairkan deposito.

"Saat akan dicairkan korban di Bank Mandiri, ternyata surat deposito itu palsu. Selanjutnya, pihak bank melaporkannya Polda Metro Jaya," tambahnya.

Setelah melakukan penelusuran dan pelacakan, kata Rikwanto, anggota berhasil menangkap enam orang tersangka berinisial SY (41), DT (41), HA (41), IS (40), MD (54), dan GA (50). Para tersangka berbagi peran dalam melakukan aksinya.

"SY berperan sebagai pengguna SDB palsu; DT sebagai perantara pemesan SDB palsu; HA menyuruh tersangka IS membuat SDB palsu; IS pembuat SDB palsu dengan menggunakan seperangkat komputer, printer dan scanner; MD menyerahkan SDB palsu ke GA seorang pekerja outsourching Bank Mandiri; serta GA menyerahkan SDB itu kepada SY di Plaza Bapindo," ungkapnya.

Menurut Rikwanto, tersangka IS membuat SDB palsu mirip dengan aslinya. "Sebelumnya SY pernah mendepositokan uangnya sebesar Rp10 juta di bank. Nah, surat itu yang menjadi contoh untuk dipalsukan. Bentuknya sama, namun isinya diganti Rp1 triliun," jelasnya.

Menurut Rikwanto, para tersangka merupakan sindikat kasus pemalsuan dokumen perbankan di sejumlah wilayah di Indonesia sejak tahun 2009.

"Kami masih berkoordinasi dengan Polda lain termasuk Polda Jawa Barat, terkait kasus-kasus yang kemungkinan terjadi di wilayah lain," tandasnya.

Sementara itu, Senior Vice President Legal Group Bank Mandiri, Mohammad Arifin Firdaus, menyampaikan kasus-kasus seperti ini sangat menggangu transaksi perbankan.

"Modus ini beberapa kali terjadi, tapi nilainya tak sampai Rp1 triliun. Biasanya, calon korbannya tak pernah melakukan deposito," ungkapnya.

Arifin mengimbau, kepada masyarakat agar berhati-hati dengan penipuan-penipuan serupa dan berharap pihak kepolisian bisa terus mengungkap.

"Tentunya dengan adanya penangkapan ini, awalan yang baik untuk membasmi kejahatan penipuan perbankan. Masyarakat agar berhati-hati terhadap penipuan seperti ini. Jika ada yang meminta imbalan di depan, patut diduga itu penipuan," tukasnya.

Selain membekuk enam tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti diantaranya, satu lembar SDB palsu senilai Rp1 triliun dengan nomor seri AD 127701 nomor rekening 1230204702510, satu lembar surat kuasa, sejumlah laptop, dua printer, satu scanner, satu lembar SDB diduga palsu senilai Rp873 triliun, dan sejumlah telepon genggam.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Surat dengan ancaman pidana enam tahun penjara.

Penulis: Bayu Marhaenjati/AF