Firza Husein.

Firza Diduga Langgar Tindak Pidana Pornografi

Firza Husein. (Beritasatu TV)

Jakarta - Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono menegaskan, berdasarkan hasil penyidikan tersangka Firza Husein diduga telah melanggar tindak pidana pornografi.

"Jadi undang-undang dibuat untuk ditaati, diikuti, dipatuhi. Di Undang-undang Pornografi ada apa, yang membuat. Yang buat siapa suatu ketelanjangan, kemudian dilihat oleh orang lain, ada yang menyuruh. Itu semua tak diperkenankan dan melanggar undang-undang," ujar Argo, di Mapolda Metro Jaya, Jumat (19/5).

Dikatakannya, penyidik melakukan penyidikan kasus chat seronok ini berdasarkan adanya laporan.

"Kan ada laporan, kami lakukan penyelidikan apakah ada tindak pidana. Ternyata ada pidana, makanya kami naik ke penyidikan. Kami lakukan semua, keterangan saksi, ahli dan bukti. Ternyata ada tersangka. Siapa tersangkanya? Menurut Undang-undang Pornografi siapa tersangkanya? FH itu," ungkapnya.

Ia menegaskan, penyidik telah memeriksa saksi ahli Face Recognition dari Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Mabes Polri. Hasil analisanya menyatakan foto seronok itu asli dan tidak direkayasa.

"Polisi kan mempunyai saksi ahli. Kami periksa ternyata benar dan tak direkayasa. Kami tuangkan ke berita acara pemeriksaan," katanya.

Sementara itu, dalam keterangan persnya, pengacara Firza, Azis Yanuar menyampaikan, kliennya tidak pernah membuat, menyimpan dan menyebarkan foto atau What's App chat yang mengandung pornografi.

"Terkait foto-foto dan chat yang diduga mengandung unsur pornografi, yang melibatkan nama dan foto atau gambar mirip FH, maka selaku kuasa hukum perlu kami tegaskan bahwa FH tidak pernah membuat, menyimpan dan menyebarkan foto atau WA chat yang berisi konten pornografi. Keterangan FH ini sudah dituangkan ketika pemeriksaan di dalam BAP yang merupakan dokumen hukum," jelasnya.

Ia melanjutkan, apabila ada pihak-pihak yang masih tetap menyebarkan informasi bahwa FH yang membuat dan menyebarkan, maka informasi tersebut adalah informasi yang bersifat non yuridis formil dan opini jahat yang menyesatkan.

Ia menambahkan, barang bukti handphone Firza yang digunakan sebagai alat bukti dalam pemeriksaan telah disita pada saat penangkapan terkait tindak pidana makar, 2 Desember 2016.

"Sehingga konten pornografi yang beredar luas baik dalam bentuk chat maupun foto diduga terkait dan mirip FH muncul setelah HP disita pihak kepolisian, dan merupakan hasil "case building" dari pihak penyidik yang semula menyidik tindak pidana makar terhadap FH," ucapnya.

Ia melanjutkan, foto yang beredar selama ini dan juga digunakan sebagai objek pemeriksaan sebagai barang bukti menjerat FH, merupakan hasil editing yang dibuktikan dengan ada beberapa ikon di beberapa bagiannya. "Oleh karenanya perkara ini jelas dibangun dengan menggunakan foto dan WA chatting hasil proses editing," tandasnya.



Bayu Marhaenjati/YUD

BeritaSatu.com