Razia Sirene, Puluhan Pelanggar Ditilang

Kepolisian Resor Kota Bogor Kota melakukan penertiban kendaraan yang memasang lampu isyarat atau rotator di Jalan Raya Padjaran, Kota Bogor. (Beritasatu.com/Vento Saudale)

Oleh: Bayu Marhaenjati / Vento Saudale / FMB | Kamis, 12 Oktober 2017 | 10:04 WIB

Jakarta - Aparat Polisi Militer TNI, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, menggelar operasi gabungan dengan sasaran kendaraan bermotor yang memasang lampu isyarat atau rotator serta sirene tanpa hak, di Jakarta dan sekitarnya. Tercatat 31 pelanggar ditilang pada razia hari pertama, Rabu (11/10), kemarin. Sementara operasi serupa di Jalan Raya Pajajaran, Kota Bogor berhasil menjaring sembilan pelanggar.

"Hasil penindakan pelanggaran lalu lintas lampu isyarat atau rotator dan sirene pada hari pertama, jumlah yang ditilang sebanyak 31 pelanggar," ujar Kepala Sub Direktorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto, kepada Beritasatu.com, Kamis (12/10).

Ia menjelaskan, Subdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya menilang 10 pelanggar, Satlantas Polres Metro Jakarta Pusat 10 pelanggar, Jakarta Utara dua pelanggar, Jakarta Selatan tiga pelanggar, Tangerang Kota empat pelanggar, Sat Gatur Ditlantas Polda Metro Jaya dan Sat PJR masing-masing menindak satu pelanggar.

"Selain tindakan tilang, kami juga melakukan tindakan teguran terhadap delapan pengendara," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, polisi menyita sejumlah barang bukti terkait penindakan berupa tilang seperti Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

"Barang bukti yang disita 14 SIM dan 17 STNK. Kalau barang bukti kendaraan bermotor nihil," katanya.

Diketahui sebelumnya, operasi gabungan dengan sasaran kendaran bermotor yang memasang rotator dan sirene tanpa hak itu digelar selama sebulan, mulai 11 Oktober hingga 11 November 2017 mendatang. Razia dilaksanakan serentak di wilayah hukum Polda Metro Jaya dan Polres jajaran.

Di Bogor, petugas meminta pemilik kendaraan melepas lampu isyarat di tempat. Polisi mengimbau agar masyarakat tak memasang strobo atau sirene di mobil pribadi mereka.

Kabag Ops Polresta Bogor Kota, Kompol Fajar Hari Kuncoro mengatakan 46 buah STNK dan 21 buah SIM dilakukan penilangan.

"Sanksinya melepas lampu rotatornya di tempat dan kami tilang. Rotatornya itu kita kembalikan dengan catatan tidak boleh digunakan lagi," tegasnya.

Berdasarkan Pasal 59 ayat 2 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, lampu isyarat sebagaimana dimaksud terdiri dari merah, biru dan kuning. Lampu isyarat warna merah atau biru berfungsi sebagai tanda kendaraan bermotor yang memiliki hak utama. Kemudian, lampu isyarat warna kuning sebagai tanda peringatan kepada pengguna jalan lain.

Lampu isyarat dan sirene warna biru digunakan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Sementara, warna merah kendaraan tahanan, pengawal TNI, pemadam kebakaran, ambulans, palang merah, rescue, dan mobil jenasah. Sedangkan, Lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk patroli jalan tol, pengawas sarana prasarana lalu lintas dan angkutan Jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek kendaraan, dan angkutan barang khusus.

Kendaraan bermotor yang tanpa hak memasang lampu isyarat atau rotator dan sirene, melanggar Pasal 284 ayat 4 Juncto Pasal 59 dan Pasal 106 ayat 4 huruf f atau Pasal 134 UU Nomor 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dengan ancaman pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda Rp 250 juta.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT