Ilustrasi bayi baru lahir.

Jakarta - Bayi lahir prematur masih hidup, dinyatakan meninggal pihak Rumah Sakit Bersalin (RSB) Kartini, Jalan Ciledug Raya No.94-96, Cipulir, Jakarta Selatan. Keluarga menuding, pihak rumah sakit itu telah melakukan malpraktek.

Ali Zuar (32), ayah bayi malang yang belum sempat diberi nama itu menuturkan, kronologis kejadian bermula ketika istrinya Maryani (27) mengalami kontraksi, Rabu (20/2) siang.

Kemudian, Ali mengantarkan sang istri yang tengah mengandung enam bulan itu, ke RSB Kartini, sekitar pukul 13.30. "Sesampainya di sana langsung ditangani dokter Bambang. Lalu dokter bilang istri saya harus dirawat," ujar Ali, di RSB Kartini, Kamis (21/2).

Dikatakan Ali, selanjutnya istrinya dibawa ke ruang bersalin dan dipasang infus. Beberapa saat kemudian, istrinya melahirkan anak perempuan prematur.

"Setelah anak saya lahir, kemudian tali pusarnya dipotong. Terus, diletakan di meja dan dibungkus kain. Tidak dilakukan pertolongan lanjutan. Itu diletakan saja di meja, tidak dikasih alat bantu pernafasan. Saya sempat nanya, 'ini ga dimasukan ke inkubator?' Lalu suster bilang, 'nanti saya tanya dokter dulu.' Terus (suster) meninggalkan saya," tambahnya.

Ali mengatakan, setelah itu dirinya keluar ruangan untuk menghubungi keluarga dan menyatakan anaknya lahir prematur. Ketika masuk lagi ke ruangan bersalin, ia melihat anaknya sudah ditutup menggunakan kain dan di atasnya ada surat pernyataan kematian dari pihak rumah sakit.

"Lalu saya tanya ke bidan, 'ini bagaimana?' Bidannya menjawab, 'sudah bapak pulang saja, sampai rumah lapor RT'," katanya.

Ali menambahkan, ia pun pulang membawa sang bayi menggunakan sepeda motor berboncengan dengan saudaranya bernama Buyung, ke rumahnya di Gang Damai RT01 RW03, Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, sekitar pukul 15.30.

"Sampai di rumah saya letakan di ruang tamu. Terus saya minta tetangga untuk membantu menjaganya, soalnya saya langsung cari yang memandikan bayi. Tapi, pas di jalan saya ditelepon Buyung. Dia bilang, 'Zuar bayinya masih hidup.' Terus saya langsung pulang dan benar masih bernafas," bilangnya.

Kemudian, Ali langsung menyambangi rumah pemilik kontrakan. "Saya bilang, bayi saya sudah lahir tapi kata rumah sakit sudah meninggal. Namun,  ketika dibawa ke rumah masih hidup. Terus ibu yang punya kontrakan kaget dan masuk ke dalam rumahnya mengambil sebuah alat kayak alat terapi. Lalu, bayi saya diletakan di atas alat penghangat itu."

"Setelah itu, saya sama pak RT mencari oksigen ke RT sebelah. Terus oksigennya dipasangkan ke anak saya. Saya lihat, bayinya bernafas normal dan wajahnya yang tadi biru menjadi memerah," ucapnya.

Berdasarkan hasil rembuk warga, Ali kemudian membawa bayinya kembali ke RSB Kartini, menggunakan mobil tetangga, sekitar pukul 20.00. Sesampainya di rumah sakit, ia bertemu dengan bidan dan menyatakan, "anak saya masih hidup kok dibilang meninggal," tegasnya, disambut seorang suster yang langsung mengambil bayinya dan kembali diletakan di atas meja.

Kemudian si bayi dimasukan ke dalam inkubator serta dipasangkan oksigen. "Lalu ada dokter perempuan, saya tak tahu namanya, bilang kepada saya kalau bayinya harus dirujuk ke rumah sakit yang ada alatnya (NICU). Surat rujuk ditulis dan diberikan kepada saya. Suster yang memberikan surat itu mengatakan, kalau dirujuk ke rumah sakit lain biayanya besar. Harus siapkan dana Rp10 sampai Rp15 juta untuk DP-nya," sebutnya.

Ali yang tak memiliki uang itu, kemudian hanya bisa pasrah sambil meminta pihak RSB Kartini membantu menghubungi rumah sakit rujukan.

"Jawabannya, ya sebentar sedang diusahakan. Terus saya keluar dan duduk di kursi, hanya bisa diam saja. Beberapa jam kemudian, saya diberitahukan suster anak saya sudah meninggal," tandasnya.

Sementara itu, Ramdan Alamsyah, selaku Kuasa Hukum Ali menuding pihak RSB Kartini telah melakukan malpraktik.

"Kami menduga ini merupakan malpraktik yang dilakukan terbuka dan nyata. Kenapa terbuka dan nyata, karena disaksikan orang tua si bayi. Seharusnya tak dilakukan pembiaran. Ini potong tali pusar, lalu diletakan di atas meja dan dibungkus kain. Tak ada tindakan lain. Selain itu, bidan juga tak boleh menyatakan kematian. Harus dipastikan dokter, tak boleh hanya satu, harus dua dan waktunya minimal 20 menit," tegasnya.

Atas dugaan itu, ungkap Ramdan, pihak keluarga akan membuat laporan polisi ke Polda Metro Jaya atau Polres Jakarta Selatan.

"Besok pagi kita laporkan ke polisi. Kalau tidak ke Polres kita langsung ke Polda Metro Jaya. Kita bawa bukti-bukti ada surat pernyataan kematian pertama, dengan catatan lahir pukul 14.25 dan meninggal 14.25. Artinya, di waktu yang sama langsung meninggal. Tak ada nama yang menandatangani surat pertama. Kami tidak tahu siapa yang tanda tangan ini. Surat kedua dinyatakan meninggal pukul 23.15, tapi tak ditulis jam kelahirannya. Ditandatangani Direktur (RSB Kartini) Elmira Suksmawati. Tertulis penyebab kematian Partus Imaturus," tukasnya.

Diketahui, bayi malang itu telah dikebumikan pihak keluarga, di TPU Musholla Darul Muttaqin, Jalan Kemajuan IV RT07 RW04, Petukangan Selatan, sekitar pukul 13.00, tadi siang.

Penulis: Bayu Marhaenjati/FMB