Ilustrasi tindak pemerkosaan. Foto: TNP.sg.

Jakarta - MA (17), siswi kelas XII yang menjadi korban pelecehan seksual oleh guru sekaligus Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) sebuah SMA di Matraman, Jakarta Timur, merasa terintimidasi. Hal itu dikatakan MA setelah melaporkan peristiwa yang dialaminya sebanyak empat kali itu, kepada pihak sekolah dan kepolisian.

Saat ditemui di rumahnya, Kamis (28/2), MA mengungkapkan sempat beberapa kali diteror melalui telepon oleh pelaku. Bahkan, dalam sebuah kesempatan, di hadapan MA dan teman-temannya yang tergabung dalam sebuah kepanitiaan, guru berinisial T itu menyatakan telah difitnah oleh korban.

"Dia mengumpulkan OSIS, dan bilang kalau bapak difitnah, mau dibawa ke pengadilan. Katanya, kasihan istri lagi hamil, dan minta dukungan. Dia memang mengaku dekat dengan saya, tapi dibilangnya untuk melindungi saya," kata MA.

Lebih lanjut, MA mengungkapkan, beberapa guru termasuk kepala sekolah memintanya untuk menutup dan tidak melanjutkan kasus ini hingga selesai ujian nasional. Selain dengan datang ke rumah korban, orang tua korban sempat dipanggil oleh pihak sekolah sebanyak dua kali. Mereka meminta empati keluarga karena istri pelaku tengah hamil.

"Kepsek dan wali kelas memojokan saya. Mengintimidasi. Saya disuruh tutup kasus ini sampai selesai ujian. Saya tetap sekolah tapi tidak bebas, tidak bisa keluar ke kantin, saya takut," ujarnya.

MA menambahkan, tindakan yang serupa dilakukan oleh pihak Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Sudin Dikmenti) Jakarta Timur yang sudah mendapat laporan ini. Beberapa staf Sudin Dikmenti meminta korban untuk tidak melanjutkan kasus ini, karena disebutnya sebagai aib korban.

"Di Sudin Dikmenti, saya dibilang jangan buka aib ini ke mana-mana. Bilangnya ini aib saya. Padahal ini bukan aib saya. Dan yang bilang ke anak-anak juga bapaknya (pelaku)sendiri," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, MA telah empat kali menjadi korban tindakan asusila pelaku dalam rentang waktu Juli hingga Juli. Dengan ancaman tidak diberikan nilai dan ijazah, korban dipaksa melakukan oral seks. Setelah kejadian terakhir yang membuatnya nyaris menjadi korban pemerkosaan, MA berusaha menjauh dari pelaku. Telepon dan pesan pelaku tak digubrisnya. Tak tahan dengan sikap pelaku, korban kemudian menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada seorang guru yang dikenalnya cukup akrab.

"Saya nggak punya ayah, ada seorang guru yang dekat, dan saya cerita ke dia. Supaya tidak ada lagi kejadian begini. Saya disarankan untuk lapor ke BK (Bimbingan Konseling)," katanya sambil terisak.

Meski saat ini, T, sudah mengundurkan diri sebagai wakil kepala sekolah, namun pelaku masih tetap mengajar di sekolah tersebut. Hal itu membuat korban merasa trauma. Kondisi kegiatan belajar mengajar juga menjadi tak kondusif lantaran beberapa guru justru terus membela pelaku dan memojokan MA.

"Saya pengennya dia nggak ada di sana. Saya sudah takut banget, di sekolah saya nggak bisa kemana-mana, mau ke kantin takut ketemu dia, takut juga dilihatin sama guru-guru yang pro sama dia. Saya dibilang memfitnah," kata MA.

Suara Pembaruan

Penulis: F-5

Sumber:Suara Pembaruan